-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Aceh Lam Sejarah Merdeka

Sunday, September 5, 2021 | 22:42 WIB Last Updated 2021-09-05T15:42:35Z
Kisah hidup masa lalu menuju masa depan pasti ada namun pelajaran demi pelajaran masa silam jadi pegalaman ke masa depan,  kisa perang di aceh bagi mareka lahir di bawah 2004 pasti ada dalam ingatan namun kini prosesi konflik itu jadi cerita .

Maka setiap masyarakat tahun 2005 ke bawah pasti mengetahui detik -detik konflik Aceh yang sangat misteri  di setiap daerah, masyarakat takut keluar rumah, kontak senjata di mana mana, orang hilang setiap waktu, pagi mayat di temukan, seolah Aceh tidak akan berakhir konflik seperti hari ini yang kita rayakan. 

Momen Setiap  4 Desember seluruh wilayah Aceh para eks kobatan GAM memperingati hari lahirnya Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di Indonesia. Hal utama Motivasi yang paling mengemuka di balik gerakan ini adalah adanya rasa kekecewaan terhadap prilaku  Jakarta yang sentralistis membungkam utamanya dalam persoalan porsi ekonomi,agama, pendidikan dan budaya masalah politik kesejahteraan Rakyat Aceh masa itu.

Maka Setiap 4 Desember 1976 merupakan hari di mana Tengku Hasan di Tiro, tokoh yang memproklamasikan lahirnya GAM serta anggotanya mengeluarkan pernyataan perlawanan terhadap Pemerintah Republik Indonesia untuk kembali mendaulat kan Aceh sebuah Negara sendiri rela nyawa dan semuanya demi tujua mulia.

Maka Gerakan tersebut dilakukan di perbukitan Halimon di Kabupaten Pidie.Diawal masa berdirinya GAM, nama resmi yang digunakan adalah Aceh Merdeka (AM) para orang tuan 1977 ke Atas sangat mengetahui bagai mana pedihnya masa konflik Aceh waktu lalu.

Oleh karena itu Sang proklamator Aceh Merdeka tengku Hasan Tiro telah memprakarsai gerakan ini dengan jalan diplomasi dan militer yang panjang sampai tahun 2005. Dan pada akhirnya Hasan Tiro menggalang ide kemerdekaan tersebut dari ulama dan akademisi dan masyarakat walaupun ada pro dan kontra , namun akhirnya dijawab secara militer oleh Presiden Suharto yang masyarakat Aceh Rasakan.

Dikala itu pasukan GAM Sempat lari ke hutan-hutan belantara di Aceh , Hasan Tiro dengan kondisi Aceh paling mengerikan di cari di mana-mana akhirnya memilih mengasingkan diri ke luar negeri, dan bermuara kepada permintaan suaka politik ke Swedia pada tahun 1979.

Hasan tiro Saat berada di Swedia, berpikir bahwa Ia akan melanjutkan gagasan kemerdekaannya membawa rakyat Aceh Merdeka dan kali itu dengan tekanan pada perjuangan diplomatik yang luar biasa.

Meskipun demikian situasi makin panas , di pertengahan tahun 80-an, hasan tiro menghidupkan kembali perlawanan militer dengan mengirimkan ratusan pemuda Aceh untuk berlatih kemiliteran di Libya.

Anak-anak muda didikan militer Libya inilah yang belakangan tampil sebagai Tentara Neugara Aceh, TNA, yang kemudian disegani di Aceh .

Pada saat Jatuhnya rezim Soeharto pada tahun 1998 menyulut kembali ide kemerdekaan Aceh yang masih bersemayam di masyarakat Aceh. Semula gerakan tersebut masih tertutup , namun lama kelamaan semakin terbuka tingkat nasional dan internasional .

Pada saat itu Media-media di Aceh umumnya Indonesia pada saat itu bahkan secara mudah dapat melaporkan aktivitas militer GAM di Aceh , tanpa khawatir ditekan oleh pihak militer. Selain itu, adanya keberhasilan kemerdekaan Timor-Timur dari Indonesia tahun 1999 juga memunculkan tuntutan referendum rakyat Aceh di seluruh wilayah yang panas begitu dasyat masyarakat berbondong-bondong ke pusat ibukota banda Aceh dengan bermacam hal terjadi di jalan saat ke banda.

Namun Tuntutan tersebut memang masih tetap ditolak oleh jakarta , namun secara perlahan tetapi pasti optimis masyarakat Aceh, namun sosok Hasan Tiro masih terus memprakarsainya Aceh harus berdiri sendiri untuk merdeka.

Pada pertengahan tahun 2002, Hasan Tiro dan petinggi GAM lainnya di pengasingan melakukan konsolidasi rencana Aceh kedepan dan menguatkan kelembagaan . Sehingga Mereka membentuk kembali struktur pemerintahan GAM, dan Hasan tetap menjadi pemimpin tertinggi di kala itu.

Suatu masa Presiden Abdurrahman Wahid, pernah terjadi pertemuan informal di antara kedua pihak masih menemui kegagalan tidak ada hasil. Sehingga berganti dengan kepemimpinan Megawati, upaya tersebut juga mengalami jalan buntu dan masa itu Aceh berlaku DOM dan darurat militer operasi Besar-besaran mencari anggota GAM dan membungkam masyarakat dengan segala tindakan untuk membasmi sparatis GAM di kala itu.

Sehingga Di masa Megawati juga , pemerintah menempuh operasi militer berjalan , sebelum status ini dicabut setahun kemudian. Dalam masa ini sejumlah juru runding GAM ditangkap di penjara .

Sehingga konflik berkepanjangan antara GAM dan Pemerintah Indonesia mulai mengalami perubahan setelah adanya bencana alam tsunami yang telah banyak menimbulkan korban jiwa di Aceh.

Taqdir Allah bencana alam yang terjadi pada 26 Desember 2004 ini mampu melunakkan kedua belah pihak, tidak terkecuali Hasan Trio,

Gencatan senjata pun dilakukan, dan kedua belah pihak pun mau kembali ke meja perundingan. Kontak dengan Hasan Tiro pun dilakukan oleh Jakarta, yang ternyata tidak mudah.

Melalui perundingan maraton yang melibatkan Wakil Presiden Yusuf Kalla dan pimpinan pusat GAM, kesepakatan damai itu akhirnya ditandatangani di Helsinki, Finlandia, 15 Agustus 2005.

Poin penting dalam kesepakatan tersebut yaitu Pemerintah Indonesia akan memfasilitasi pembentukan partai lokal di Aceh dan pemberian amnesti bagi anggota GAM.

Empat bulan dari peristiwa tersebut, Tentara Neugara Aceh resmi dibubarkan, dan kemudian dibentuk komite peralihan untuk membubarkan mantan tentara dengan warga sipil.

Perubahan politik di atas, termasuk digelarnya pemilihan kepala daerah di Aceh, membuat Hasan Tiro kembali ke tanah kelahirannya pada 17 Oktober 2008, tiga tahun setelah perjanjian damai itu.

Warga Aceh berbondong-bondong menyambutnya di Bandar Udara Sultan Iskandar Muda hingga di Pusat Kota Banda Aceh.

Sejak saat itulah, Hasan Trio kembali menetap di Aceh, setelah lebih dari 30 tahun menyandang status sebagai pelarian politik.

Pada 2 Juni 2010, dalam keadaan sakit dan dirawat di salah satu rumah sakit di Banda Aceh, Hasan Trio kembali memperoleh status kewarganegaraannnya setelah Pemerintah Indonesia memulihkan status kewarganegaraannya.

Dan kini Aceh membutuhkan  sosok  pemimpin yang merakyat dan bisa membawa Aceh merdeka dalam segala hal, semoga saja sejarah aceh tidak hilang di mata genaresi.