Data BPS Aceh yang kita baca di media sesungguhnya adalah tamparan halus bagi kita semua—terutama bagi generasi terdidik di Aceh dan bagi pemerintah daerah. Ironinya sangat jelas:
yang paling lama duduk di bangku pendidikan, justru paling tinggi peluang menganggurnya.
Lulusan Diploma IV, S1, S2, hingga S3 berada di puncak tingkat pengangguran.
Sementara lulusan SD dan SMP justru paling kecil.
Ini bukan karena lulusan rendah lebih hebat. Tetapi karena sistem ketenagakerjaan Aceh tidak dirancang untuk menyerap ilmu.
saya melihat persoalan ini bukan sekadar statistik, tetapi krisis arah pembangunan manusia Aceh. Akar Masalahnya Bukan pada Sarjana,Masalah utamanya bukan karena sarjana “tidak mau kerja”.Masalahnya adalah:
π Aceh tidak menyediakan ekosistem kerja yang sesuai dengan tingkat pendidikan.
Faktanya, lapangan kerja terbesar di Aceh adalah:
pertanian,
perdagangan kecil,
dan administrasi pemerintahan.
Sementara dunia kampus melahirkan:
sarjana hukum,
teknik,
komunikasi,
ekonomi,
IT,
pendidikan,
administrasi publik,
hingga magister dan doktor. Dan lainya
Terjadi kesenjangan struktural antara:
apa yang diproduksi kampus dan apa yang disediakan pasar kerja Aceh. Persoalan yang Lebih Dalam: Pemerintah Terlalu Nyaman Ketika sektor terbesar penyerapan tenaga kerja adalah pertanian dan perdagangan, tetapi tidak diikuti oleh:
industrialisasi pertanian, pengolahan hasil tani,riset pertanian,teknologi pangan,
logistik modern,dan industri hilir,maka wajar jika:
π sarjana tidak punya tempat
Aceh tidak kekurangan orang pintar.
Aceh kekurangan keberanian politik membangun sektor produktif.
Solusi untuk Pemerintah Aceh
Saya tawarkan solusi yang realistis, bukan retorika seminar.
1. Ubah orientasi pembangunan: dari proyek fisik ke proyek penciptaan kerja
Selama ini:
jalan,
gedung,
monumen,
kantor,
lebih dominan daripada:
π pusat produksi,
π kawasan industri rakyat,
π inkubasi usaha sarjana.
Pemerintah Aceh perlu mulai mengunci target:
setiap program strategis wajib menghasilkan lapangan kerja baru.
Bukan sekadar serapan anggaran.
2. Bangun klaster industri berbasis potensi Aceh
Bukan industri besar yang mustahil, tapi industri yang relevan:
industri pengolahan kopi Gayo,
industri perikanan dan cold storage,
industri pengolahan kelapa dan sawit rakyat,
industri pangan lokal,
industri halal dan UMKM modern.
Setiap klaster harus terhubung dengan:
π lulusan teknik
π lulusan manajemen
π lulusan IT
π lulusan hukum
π lulusan komunikasi
Bukan hanya buruh kasar.
3. Stop rekrutmen ASN sebagai solusi utama pengangguran sarjana
Ini penyakit lama di Aceh.
Banyak sarjana tidak mencari kerja, mereka hanya menunggu formasi.
Padahal:
data menunjukkan sektor pemerintahan hanya menyerap sekitar 7 persen.
Maka pemerintah harus jujur:
π ASN bukan solusi pengangguran.
4. Program khusus: “Sarjana Kembali ke Gampong – Berbasis Usaha”
Bukan KKN.
Tetapi:
sarjana diberi modal usaha,
pendampingan bisnis,
akses pasar,
akses perizinan,
dan kontrak pembelian produk.
Fokus:
pertanian modern,
peternakan,
pengolahan hasil desa,
wisata berbasis gampong.
Ini jauh lebih strategis daripada seminar kewirausahaan seremonial.
5. Bangun pusat data tenaga kerja Aceh berbasis keahlian
Hari ini, pemerintah Aceh:
tidak benar-benar tahu
berapa jumlah:
lulusan IT,
lulusan teknik,
lulusan hukum,
lulusan ekonomi kreatif.
Akibatnya, kebijakan tenaga kerja dibuat tanpa peta.
Ini harus dibangun secara serius oleh Disnaker dan Bappeda.
6. Perhatian khusus untuk pengangguran perempuan
Data Anda juga sangat penting:
π TPT perempuan jauh lebih tinggi.
Artinya, perempuan Aceh terdidik:
kesulitan masuk pasar kerja,
terhambat akses,
dan kurang dilibatkan dalam sektor produktif.
Maka:
program ekonomi perempuan tidak boleh hanya UMKM mikro.
Tetapi harus masuk:
industri kreatif,
digital ekonomi,
koperasi modern,
dan sektor jasa profesional.
Solusi untuk Generasi Muda Aceh
Namun, kejujuran juga harus kita arahkan ke diri sendiri.
1. Generasi Aceh harus berhenti menggantungkan masa depan pada negara
Jika semua sarjana:
menunggu pemerintah membuka lowongan,
maka:
kita sedang mendidik generasi menunggu, bukan generasi membangun.
Aceh tidak akan maju bila anak mudanya hanya berharap diselamatkan.
2. Sarjana Aceh harus mulai menurunkan ego gelar
Ini fakta pahit.
Banyak lulusan merasa:
“pekerjaan ini tidak sesuai dengan gelar saya”.
Padahal yang salah bukan pekerjaannya,
tetapi kita belum menjadikannya usaha dan sistem.
Bekerja di pertanian bukan hina,
yang hina adalah:
pertanian tanpa nilai tambah.
3. Anak muda Aceh harus masuk ke sektor produktif, bukan hanya sektor aman
Hari ini:
sektor aman = honorer, kontrak, ASN
sektor produktif = usaha, produksi, jasa profesional
Sayangnya, sektor produktif justru sepi peminat.
Padahal di sanalah masa depan.
4. Kampus harus berhenti mencetak pencari kerja
Mahasiswa Aceh terlalu lama dididik untuk:
π lulus
π melamar
π menunggu
Bukan:
π mencipta
π memproduksi
π mengelola pasar.
Generasi muda harus mulai menuntut kampus:mengajarkan bisnis riil, proyek riil, dan magang industri nyata.
Penutup: Ini Bukan Sekadar Angka, Ini Alarm Masa Depan Aceh
Azhari menilai, jika kondisi ini dibiarkan:
maka Aceh akan mengalami:
kemiskinan terdidik.
Orang-orang pintar,
tetapi tidak berdaya.
Dan ini jauh lebih berbahaya bagi masa depan sosial dan politik Aceh.
Karena:pengangguran terdidik mudah frustrasi,mudah kecewa,dan mudah kehilangan kepercayaan pada negara.Data BPS Aceh seharusnya tidak berhenti di meja konferensi pers.
Ia harus menjadi: alarm keras bahwa arah pembangunan Aceh sedang salah fokus.
Jika pemerintah serius membangun Aceh,
maka kunci utamanya bukan gedung dan proyek,tetapi:
π pekerjaan bermartabat bagi generasi mudanya.
Penulis AZHARI
Ketua Aliansi Bumi Aceh Mulia