Notification

×

Iklan

FOTO KEGIATAN

Indeks Berita

Gema Takbir, Duafa Menangis

Rabu, 04 Juni 2025 | 23:48 WIB Last Updated 2025-06-04T16:48:24Z




Malam takbir adalah malam kemenangan. Malam di mana langit dipenuhi suara kalimat "Allahu Akbar, Allahu Akbar, La Ilaha Illallah, Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahil Hamd." Malam di mana umat Islam bersuka cita menyambut Idul Fitri setelah sebulan menahan lapar, dahaga, dan hawa nafsu. Namun di balik gema takbir yang menggema di langit-langit kota dan kampung, di sudut-sudut rumah sederhana, di kolong jembatan, di lorong sempit perkampungan padat, ada air mata yang menetes tanpa suara.

Duafa menangis di malam takbir.

Mereka bukan tidak ingin bergembira, bukan tidak ingin membeli baju baru untuk anak-anak, bukan tidak ingin menyuguhkan kue sederhana untuk tamu. Tapi, harga bahan pokok yang kian tak terjangkau, ongkos hidup yang makin tinggi, dan janji-janji pemimpin yang sebatas angin membuat mereka terpaksa pasrah dalam kesunyian malam yang seharusnya suci itu.

Ketika Idul Fitri Jadi Ajang Pilih Kasih

Hari Raya di negeri ini, di negeri yang katanya gemah ripah loh jinawi, lambat laun hanya menjadi pesta kaum berada. Jalan-jalan kota dipenuhi mobil mewah, restoran dipadati keluarga berkecukupan, pusat perbelanjaan ramai dengan promo baju lebaran. Sementara di gang-gang sempit kampung, seorang ibu menangis karena tak mampu membeli sepotong baju baru untuk anaknya. Seorang ayah terpaksa membohongi anak-anaknya bahwa baju tahun lalu masih bagus, padahal warnanya telah pudar dan sobek di sudut lengan.

Bagi kaum duafa, malam takbir bukan malam kemenangan, melainkan malam menahan air mata. Gema takbir yang bergema di masjid-masjid seolah menjadi saksi bisu ketimpangan sosial yang kian melebar.

Derita yang Tak Pernah Masuk Laporan Pemerintah

Laporan pemerintah menyebutkan angka kemiskinan menurun, pertumbuhan ekonomi meningkat, bansos dibagikan, dan subsidi digelontorkan. Tapi di balik laporan itu, realita di lapangan berkata lain. Banyak warga miskin yang tidak tercatat sebagai penerima bantuan. Banyak anak yatim dan janda tua yang tidak mendapat perhatian. Mereka tetap terpinggirkan oleh sistem yang lebih mementingkan proyek-proyek mercusuar daripada menyentuh langsung derita rakyat kecil.

Satu karung beras murah tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sebulan. Satu amplop berisi uang sepuluh ribu rupiah tak akan mampu membuat seorang anak miskin merasakan indahnya Hari Raya.

Di Mana Nurani Kita?

Pertanyaan besar bagi kita semua: di mana nurani kita? Saat kita asyik berswafoto dengan baju baru, mencicipi aneka kue kering, dan bersalaman di rumah-rumah megah, apakah kita pernah memikirkan tetangga di sebelah rumah yang malam ini tak mampu membeli beras? Apakah kita ingat ada anak kecil yang menangis karena tak punya baju baru sementara teman-temannya sibuk memamerkan sandal dan pakaian warna-warni?

Hari Raya seharusnya menjadi momentum menumbuhkan solidaritas, bukan hanya euforia semu. Jangan sampai gema takbir yang kita lantunkan justru menjadi saksi bahwa hati kita telah membatu.

Lebaran Bukan Hanya Tentang Baju Baru

Lebaran seharusnya mengembalikan makna kemanusiaan. Bahwa yang paling mulia di sisi Allah bukan yang bajunya paling baru, rumahnya paling megah, atau hidangannya paling lengkap. Tapi yang hatinya paling bersih, tangan yang paling ringan membantu, dan mata yang basah karena peduli terhadap penderitaan sesama.

Di malam takbir ini, mari sejenak kita tundukkan kepala, bayangkan wajah-wajah saudara kita yang tidak seberuntung kita. Yang mungkin hanya bisa mendengar takbir dari kejauhan karena tak punya ongkos ke masjid. Yang mungkin hanya makan nasi putih tanpa lauk, atau yang sengaja mengurung diri karena tak ingin menanggung malu.

Akhir Kata: Jangan Biarkan Mereka Menangis Sendirian

Duafa itu tidak butuh belas kasihan, mereka butuh keadilan. Mereka butuh haknya atas pangan murah, pekerjaan layak, dan perlindungan negara yang seharusnya hadir di saat rakyat lemah.

Lebaran ini, jadikan tangan kita perpanjangan kasih Allah. Jadikan harta kita titipan yang harus dibagi. Jadikan hati kita lebih peka. Karena tak ada gunanya takbir menggema, kalau duafa tetap menangis di malam kemenangan.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahil Hamd.