Notification

×

Iklan

FOTO KEGIATAN

Indeks Berita

Pembunuh Bangsa untuk Harta, atau Bangsa Demi Agama

Jumat, 06 Juni 2025 | 00:50 WIB Last Updated 2025-06-05T17:51:16Z




Oleh: Azhar 

Di balik riuhnya panggung kekuasaan dan hiruk-pikuk politik negeri ini, kita tak bisa lagi pura-pura buta. Ada dua jalan yang sedang ditempuh bangsa ini: jalan pembunuhan martabat demi harta, atau jalan pengabdian bangsa demi agama.

Kita hidup di tengah zaman di mana segolongan manusia tega membunuh bangsanya sendiri. Bukan dengan senjata, bukan dengan bom, melainkan dengan kerakusan. Harta, kuasa, dan jabatan jadi candu yang mengikis akal sehat. Rakyat dijadikan sapi perah, hukum dibengkokkan, dan tanah air dijual lembar demi lembar kepada siapa saja yang berani menawar.

Inilah pembunuh bangsa yang nyata.

Ketika Harta Jadi Tuhan Baru

Bangsa ini perlahan dirusak oleh mereka yang menjadikan harta sebagai tuhan. Negeri ini dihancurkan oleh anak-anak bangsanya sendiri, yang lebih memilih perutnya kenyang ketimbang rakyatnya sejahtera.

Korupsi merajalela, moral merosot, hukum diperjualbelikan. Ulama dikriminalisasi jika tak sejalan. Rakyat dibungkam jika berteriak. Semua demi harta. Demi kekayaan pribadi yang kelak juga ditinggalkan ketika ajal tiba.

Bangsa ini dibunuh secara perlahan. Dan yang membunuhnya bukan orang asing, tapi mereka yang lahir dari rahim ibu negeri ini.

Bangsa Demi Agama: Jalan yang Mulai Dilupakan

Di sisi lain, masih ada secuil harapan. Ada mereka yang berdiri tegak, meyakini bahwa bangsa ini didirikan bukan sekadar untuk harta, tapi untuk menjaga kehormatan agama, untuk menegakkan nilai-nilai ilahi di atas tanah yang diberkahi.

Bangsa tanpa agama adalah jasad tanpa ruh. Tanah air tanpa nilai keadilan ilahi adalah ladang subur bagi kezaliman. Maka sejak dahulu, para ulama, syuhada, dan pejuang sejati memperjuangkan bangsa ini demi tegaknya nilai-nilai Tuhan.

Mereka berkorban bukan untuk harta. Mereka mati bukan untuk kekayaan. Mereka rela kehilangan jabatan, bahkan nyawa, demi kemuliaan agama di atas bumi nusantara.

Pertanyaan Besar: Di Mana Kita Berdiri?

Hari ini, kita dihadapkan pada dua pilihan:

  • Apakah kita menjadi pembunuh bangsa yang hanya mengejar harta?
  • Atau menjadi penjaga bangsa yang rela berkorban demi agama?

Sejarah akan mencatat. Bangsa ini hanya akan selamat jika yang mengendalikan negeri ini adalah mereka yang lebih takut kepada Tuhan daripada takut kehilangan jabatan. Bangsa ini hanya akan mulia jika rakyatnya lebih cinta keadilan daripada uang sogokan.

Ayo, Bangkit! Pilih Jalanmu

Tak ada bangsa besar yang lahir dari rakyat yang pengecut. Tak ada peradaban mulia yang dibangun di atas kerakusan. Jika hari ini kita membiarkan pembunuh-pembunuh bangsa itu berkuasa, maka esok anak-cucu kita hanya akan membaca kisah negeri ini dalam buku sejarah tentang sebuah bangsa besar yang hancur karena kerakusan segelintir orang.

Pilihlah jalanmu. Jadilah pelindung bangsa demi agama, atau diam dan biarkan para pembunuh itu merampas segalanya. Karena di negeri ini, diam juga berarti berpihak.