Oleh: Azhari
Di negeri ini, politik kerap kali berjalan bagai panggung sandiwara. Saat pesta demokrasi tiba, kita disuguhi deretan wajah ramah, janji manis, dan jargon mulia. Kata-kata seperti “demi rakyat”, “untuk kesejahteraan bersama”, atau “mewujudkan keadilan sosial” mendadak bermekaran bak bunga di musim semi.
Tapi seperti bunga plastik, indah hanya di mata, tak pernah berbuah nyata.
Politisi dan Wajah Ganda
Politisi kita, sebagian besar, pandai mengenakan topeng. Saat butuh suara, mereka menjelma menjadi ‘pejuang rakyat’. Mereka datang ke pasar, menyantuni fakir miskin, duduk di warung kopi, bercengkerama dengan nelayan, atau menyusuri sawah petani. Kamera dipasang, senyum dipaksakan, dan jargon diucapkan.
“Rakyat adalah prioritas utama.” “Kami hadir untuk perubahan.” “Bersama rakyat, kita kuat.”
Namun, semua itu hanya ritual musiman. Begitu keperluan suara selesai, rakyat kembali menjadi objek yang dilupakan. Janji tinggal janji. Aspirasi rakyat tenggelam dalam rapat-rapat elite yang lebih sibuk berbagi proyek daripada memperjuangkan nasib mereka yang dulu dijadikan alat.
Jargon ‘Demi Rakyat’ yang Kehilangan Makna
Hari ini, jargon ‘demi rakyat’ sudah kehilangan makna. Ia diperdagangkan, dijadikan perisai saat butuh suara, lalu disimpan kembali ke dalam lemari ketika kekuasaan telah digenggam.
Rakyat selalu dijadikan tameng, bukan tujuan. Saat ada konflik kepentingan, saat kursi jabatan diperebutkan, kalimat “demi rakyat” kembali dikumandangkan, seolah setiap keputusan busuk yang dibuat di gedung kekuasaan itu sah karena diklaim untuk rakyat.
Padahal, rakyat sendiri tak pernah benar-benar diajak bicara. Apalagi didengar.
Perubahan Politik, Tapi Bukan Mental
Secara sistem, demokrasi kita memang mengalami perubahan. Pemilu digelar rutin, mekanisme formalnya berjalan. Tapi mental sebagian politisi kita tetap feodal dan transaksional. Rakyat hanya diposisikan sebagai komoditas lima tahunan. Kepentingan publik selalu kalah dengan kesepakatan di ruang gelap para elit.
Perubahan politik tanpa perubahan mental hanya melahirkan demokrasi semu. Demokrasi di atas kertas, oligarki di balik layar.
Saatnya Rakyat Melawan Lupa
Rakyat tidak boleh terus dibodohi oleh jargon-jargon palsu. Kita harus mulai cerdas memilah mana pemimpin yang benar-benar peduli dan mana yang hanya butuh suara. Saatnya rakyat melawan lupa. Mengingat siapa yang dulu berjanji, dan menagihnya ketika mereka lupa.
Karena politik yang baik lahir dari rakyat yang cerdas, bukan dari politisi yang pandai berdusta.
Penutup: Jangan Biarkan Politik Jadi Dagelan Murahan
Negeri ini terlalu besar untuk dikelola oleh orang-orang kecil yang hanya besar karena uang dan tipu daya. Kita berhak atas politik yang bersih, jujur, dan berpihak sungguh-sungguh kepada rakyat.
Cukup sudah politik transaksional. Cukup sudah jargon kosong. Saatnya kita menuntut kerja nyata, bukan kata-kata basa-basi.
Karena sejatinya, politik bukan panggung dagelan, tapi medan perjuangan untuk kesejahteraan umat.