Notification

×

Iklan

FOTO KEGIATAN

Indeks Berita

Perubahan Sikap Oknum Dewan Pasca Kemenangan untuk Timses dan Masyarakat

Jumat, 06 Juni 2025 | 00:56 WIB Last Updated 2025-06-05T17:56:21Z




Oleh: Azhari 

Di negeri demokrasi prosedural ini, kursi dewan ibarat singgasana kecil yang diperebutkan dengan berbagai cara. Dari cara-cara terhormat hingga yang murahan. Dari membangun gagasan hingga membangun janji-janji palsu. Dan seperti biasa, setelah kemenangan diraih, panggung politik berubah cepat.

Dua Wajah Oknum Dewan

Selama masa kampanye, wajah-wajah calon dewan begitu ramah. Mereka datang ke rumah-rumah warga, menyantuni orang tua, menyapa anak muda, menyalami petani, duduk bersama nelayan. Tidak ada jarak. Mereka turun ke jalan, menjadi bagian dari rakyat yang selama ini mereka janjikan akan bela.

Namun, kehangatan itu biasanya hanya bertahan hingga hari kemenangan diumumkan. Begitu nama mereka dinyatakan lolos, kursi dewan dikunci rapat. Nomor telepon tim sukses yang dulunya 24 jam aktif mulai jarang menyala. Sapaan hangat di warung kopi berubah jadi lambaian dari balik kaca mobil berpelat merah.

Ada dua wajah yang kini nyata: satu untuk timses, satu untuk masyarakat umum.

Timses Dijaga, Rakyat Dilupa

Timses, sebagai pihak yang berjasa dalam kemenangan, seringkali menjadi prioritas. Mereka diberi proyek kecil, jabatan di lingkar kekuasaan, atau minimal akses lebih cepat ke ruang dewan. Sementara masyarakat luas yang dulu jadi objek janji-janji tinggal menunggu tanpa kepastian.

Ketika rakyat kecil datang mengadu soal harga pupuk, soal air bersih, soal jalan rusak, yang didapat hanya janji basa-basi:

“Nanti kita bahas di rapat, ya…” “Itu ranah eksekutif, kita bantu kawal saja…”

Dan seperti biasa, rapatnya tak pernah tahu kapan, dan kawalannya hanya sebatas di mulut.

Politik Balas Budi yang Membunuh Integritas

Perubahan sikap ini lahir dari budaya politik balas budi yang akut. Kursi kekuasaan lebih dilihat sebagai lahan balas jasa, bukan amanah rakyat. Dewan lebih sibuk mengakomodasi timses daripada mendengar jerit rakyat yang sebenarnya memberi suara.

Integritas politik akhirnya dikorbankan demi loyalitas kelompok kecil. Padahal, begitu mereka dilantik, sumpah jabatan yang diucapkan bukan kepada timses, melainkan kepada seluruh rakyat dan Tuhan.

Saatnya Rakyat Waspada dan Berani Bersikap

Inilah mengapa rakyat harus cerdas. Jangan cepat terlena pada janji-janji lima tahunan. Jangan segan mengingatkan dewan yang mulai lupa diri. Jangan sungkan mengkritik oknum wakil rakyat yang hanya hadir saat pemilu, lalu hilang di gedung megah.

Rakyat yang diam adalah ladang subur bagi pengkhianatan. Rakyat yang lupa adalah alasan politisi culas terus berkuasa.

Kita harus mulai berani berkata:

“Jika kau dipilih oleh rakyat, maka bekerjalah untuk rakyat. Jika hanya untuk timses, sebaiknya mundur saja.”

Penutup: Jangan Biarkan Amanah Dikhianati

Karena pada akhirnya, kemenangan politik bukan sekadar soal kursi, tapi soal bagaimana kekuasaan itu dimanfaatkan untuk kepentingan rakyat luas. Oknum dewan yang lupa diri harus diingatkan. Sebab, rakyat tak butuh pelayan partai atau pelayan timses, tapi butuh wakil sejati yang berani bersuara demi keadilan dan kesejahteraan masyarakat.