Notification

×

Iklan

FOTO KEGIATAN

Indeks Berita

Hutan Lindung Disikat, Rakyat Melarat, Banjir Melanda

Sabtu, 06 September 2025 | 20:05 WIB Last Updated 2025-09-06T13:05:37Z

 

Hutan adalah nafas kehidupan. Ia bukan sekadar hamparan pepohonan, tetapi benteng terakhir yang melindungi manusia dari bencana. Namun, apa yang terjadi hari ini? Hutan lindung justru disikat habis oleh tangan-tangan rakus, sementara rakyat kecil menjadi korban: hidup melarat, rumah terendam, sawah hancur, dan banjir datang silih berganti.

Ironisnya, mereka yang menikmati hasil perambahan hutan adalah segelintir orang berkuasa dan berduit. Sementara yang menanggung derita adalah rakyat jelata di hilir sungai, di dataran rendah, di kampung-kampung yang jauh dari sorotan. Setiap musim hujan, mereka menatap langit dengan cemas—bukan berharap berkah, tetapi takut akan datangnya malapetaka.

Kerusakan hutan bukan hanya soal lingkungan, tetapi juga soal moral. Ketika izin diteken dengan mudah, ketika pembalakan liar dibiarkan, ketika aparat menutup mata, maka sesungguhnya yang sedang dijual bukan hanya kayu, melainkan masa depan generasi. Anak cucu kita kelak akan mewarisi tanah gersang, air kotor, dan udara penuh debu, sementara kita sibuk menghitung laba sesaat.

Banjir yang melanda bukanlah bencana alam semata, melainkan bencana ulah manusia. Kita terlalu sering menyalahkan hujan, padahal akar masalahnya adalah kerakusan. Hutan dibabat, resapan hilang, sungai dangkal, lalu rakyat menanggung akibatnya.

Kini saatnya rakyat bersuara lebih lantang: hutan bukan milik pengusaha, bukan pula milik segelintir pejabat, melainkan amanah bersama. Jika hutan terus disikat, maka rakyat akan terus melarat, dan banjir akan terus melanda.

Pemimpin yang berpihak pada rakyat sejatinya adalah pemimpin yang berani melindungi hutan. Karena menyelamatkan hutan sama dengan menyelamatkan rakyat. Dan membiarkan hutan rusak berarti menggadaikan masa depan bangsa.