Notification

×

Iklan

FOTO KEGIATAN

Indeks Berita

Memberi dan Memuji Tanpa Pamrih: Fondasi Keikhlasan Hidup

Minggu, 14 September 2025 | 22:36 WIB Last Updated 2025-09-14T15:37:57Z




Di tengah budaya digital hari ini, banyak orang terjebak pada pola pikir transaksional: memberi agar dipuji, memuji agar diberi. Padahal nilai tertinggi dari sebuah kebaikan justru terletak pada keikhlasan, bukan pada imbalan yang diharapkan.

Memberi agar dipuji menjadikan kebaikan sebagai alat pencitraan. Orang yang demikian mudah kecewa bila tidak mendapat tepuk tangan atau balasan. Sementara memuji agar diberi menjadikan kata-kata manis sebagai alat manipulasi. Hati kita tidak lagi murni, melainkan dihitung-hitung sebagai investasi untuk mendapat sesuatu.

Islam dan kebajikan universal mengajarkan bahwa kebaikan yang sejati lahir dari hati yang bersih. Memberi tanpa pamrih menumbuhkan rasa cukup dan syukur dalam diri. Mungkin tidak ada pujian manusia, tapi ada ketenangan jiwa dan nilai tinggi di hadapan Allah. Memuji dengan tulus membuat orang lain merasa dihargai tanpa merasa dimanfaatkan.

Mengapa ini penting? Karena dunia yang kita tempati semakin menuntut kesempurnaan penampilan. Media sosial membuat setiap kebaikan tampak seperti konten. Jika kita tidak hati-hati, kita akan lupa bahwa kebaikan bukanlah panggung pertunjukan, melainkan jalan pengasahan diri.

Maka, mari kita latih diri untuk memberi dengan hati lapang, tidak peduli ada yang melihat atau tidak. Dan memuji dengan tulus, tidak peduli ada yang membalas atau tidak. Hidup akan terasa lebih ringan karena kita tidak lagi tergantung pada respon orang lain. Inilah motivasi kehidupan yang sejati: kebebasan dari pamrih dan ketulusan dalam berbuat baik.


Penulis Azhari