Notification

×

Iklan

FOTO KEGIATAN

Indeks Berita

Menanti Kembali dalam kondisi berbeda

Minggu, 14 September 2025 | 22:09 WIB Last Updated 2025-09-14T15:09:19Z

.



Ada nama yang selalu muncul diam-diam di kepala Yani setiap kali ia membuka Facebook. Dawir. Nama yang pernah jadi doa, jadi tempat pulang ketika ia merasa sendiri. Nama yang pernah ia lepaskan dengan tangis enam tahun lalu. Dan kini, 2025, nama itu muncul lagi. Seperti riak ombak yang kembali menyapa pantai setelah lama menghilang.

Cerita ini bukan sekadar tentang pertemuan di dunia maya. Ini tentang dua jiwa yang pernah saling percaya, pernah saling berjanji, lalu berpisah, dan kini bertemu kembali dalam kondisi berbeda. Tentang cinta yang dulu tumbuh di ruang chat, lalu diuji waktu dan takdir.


1. Pertemuan di Dunia Maya (2017)

2017, Surabaya mulai memasuki musim hujan. Di kos kecilnya, Yani duduk di depan laptop, memeriksa notifikasi Facebook. Di pojok kanan layar, muncul permintaan pertemanan: Dawir. Foto profilnya seorang pemuda berkaos polos, duduk di sebuah warung kopi Aceh dengan senyum sederhana.

Awalnya Yani mengabaikan. Tapi ada rasa penasaran. Setelah tiga hari, ia klik “Konfirmasi.” Sejam kemudian, pesan masuk:

Dawir: “Assalamualaikum, terima kasih sudah diterima pertemanannya. Salam kenal dari Aceh.”

Yani: “Waalaikumsalam, salam kenal juga. Dari Aceh ya? Saya di Surabaya.”

Obrolan itu sederhana, tapi hangat. Dawir bercerita tentang kedai kopi tempat ia sering nongkrong. Yani bercerita tentang hiruk-pikuk Surabaya yang tak pernah tidur. Mereka menemukan kesamaan kecil: sama-sama suka menulis status penuh kata bijak.

Semakin sering mengobrol, semakin terasa jarak itu memendek. Dawir mengirim foto kopi Gayo yang ia seduh sendiri, Yani mengirim foto bakso langganannya. Mereka bercanda tentang bertukar kuliner suatu hari nanti.


2. Masa-Masa Indah (2018)

Setahun berjalan, percakapan mereka berubah dari basa-basi menjadi curahan hati. Dawir sering mengirim pesan doa di pagi hari:

“Selamat pagi, Yan. Semoga hari ini lancar ya. Jangan lupa sarapan.”

Yani menjawab dengan emotikon bunga. Kadang mereka video call, Dawir di warung kopi Banda Aceh, Yani di taman kampus Surabaya.

Mereka saling berbagi mimpi. Yani ingin jadi manajer di sebuah perusahaan besar. Dawir ingin membuka kedai kopi sendiri yang menggabungkan konsep Aceh dan Jawa.

Suatu malam mereka bercanda tentang masa depan.

Dawir: “Kalau aku ke Surabaya nanti, kamu mau jadi tour guide-ku?”

Yani: “Boleh. Tapi dengan syarat, kamu harus bawakan kopi Gayo asli.”

Dawir: “Deal. Dan kalau kamu ke Aceh, aku bawakan semangkuk mie Aceh terenak di Banda Aceh.”

Mereka tertawa. Ada harapan yang mereka simpan diam-diam: suatu hari jarak itu hanya tinggal cerita.


3. Perpisahan (2019)

Awal 2019, Dawir mulai jarang menghubungi. Usaha kecilnya bangkrut. Ayahnya sakit. Beban itu membuatnya merasa tak pantas untuk Yani.

Suatu malam ia mengirim pesan panjang:

“Yan, aku minta maaf. Aku butuh waktu untuk diriku sendiri. Aku belum pantas untukmu sekarang.”

Yani membaca pesan itu berulang kali. Air matanya jatuh di atas layar ponsel. Ia menulis balasan singkat:

“Aku mengerti. Jaga dirimu baik-baik, Wir.”

Malam itu menjadi akhir dari percakapan mereka. Tak ada kata putus, tak ada janji. Hanya keheningan yang panjang. Seperti kapal yang berlayar tanpa pelabuhan.


4. Enam Tahun Tanpa Kabar (2019–2025)

Waktu berjalan. Yani menyelesaikan kuliah, bekerja keras hingga jadi manajer di Surabaya. Dawir bangkit pelan-pelan, membuka kedai kopi kecil di Banda Aceh.

Di sela kesibukan masing-masing, nama itu kadang muncul. Yani kadang mencari profil Dawir diam-diam. Dawir kadang mengetik nama Yani di kolom pencarian Facebook. Tapi tak ada yang berani menyapa.

Hingga suatu pagi di 2025, notifikasi muncul di ponsel Yani: “Dawir menyukai status Anda.” Jantungnya berdetak cepat. Nama itu seperti membangkitkan kenangan lama.


5. Bertemu Kembali (2025)

Mereka mulai mengobrol lagi. Awalnya kaku, seperti orang asing.

Dawir: “Halo, Yan. Lama sekali ya. Apa kabar?”

Yani: “Alhamdulillah baik. Kamu bagaimana, Wir?”

Dawir: “Alhamdulillah. Kedai kopiku sudah jalan.”

Mereka bercerita tentang perjalanan masing-masing. Yani tentang pekerjaannya. Dawir tentang usahanya. Mereka tertawa mengenang masa lalu: status bijak, janji kopi, dan mimpi-mimpi yang dulu pernah mereka bagi.

Tapi kini kondisi berbeda. Yani sudah bertunangan dengan seseorang yang dikenalnya di Surabaya. Dawir pun pernah hampir menikah tetapi batal. Meskipun secara status mereka sama-sama “sendiri” saat itu, hati mereka tidak lagi semurni dulu. Ada dinding yang memisahkan: realitas hidup, komitmen, dan waktu.


6. Menanti Kembali

Suatu malam percakapan mereka menjadi lebih dalam.

Dawir: “Kadang aku menyesal melepaskanmu dulu, Yan. Tapi aku tahu saat itu aku belum siap. Sekarang kita bertemu lagi… entah ini pertanda atau sekadar nostalgia.”

Yani membaca kalimat itu lama. Air matanya menetes.

Yani: “Kita memang pernah saling mengisi. Tapi sekarang kita harus bijak. Aku sudah bertunangan. Kamu juga sedang membangun hidupmu. Mungkin kita tak bisa bersama, tapi kita bisa saling mendoakan.”

Dawir menghela napas panjang.

Dawir: “Ya. Mungkin cinta itu bukan soal memiliki. Mungkin ini cara Tuhan menunjukkan bahwa kita pernah penting bagi satu sama lain.”

Malam itu mereka menutup percakapan dengan doa. Tidak ada janji untuk bersama, tidak ada kata “selamat tinggal.” Hanya ada keheningan yang lembut, semacam pengakuan bahwa mereka telah dewasa.


7. Hidup Berjalan, Cinta Berubah

Hari-hari berikutnya Yani tetap menjalani hidupnya di Surabaya, Dawir tetap mengurus kedai kopinya di Aceh. Mereka sesekali saling menyapa di media sosial, tapi tanpa ekspektasi.

Yani belajar bahwa cinta yang tulus akan selalu meninggalkan jejak baik, meski tidak berakhir di pelaminan. Dawir belajar bahwa kadang kehilangan adalah jalan menuju kebijaksanaan.

Kerinduan mereka bukan lagi kerinduan untuk memiliki, tetapi kerinduan untuk mengenang masa indah yang pernah menjadi bagian dari perjalanan hidup masing-masing.

Di balik layar ponsel mereka, doa yang sama terucap: semoga masing-masing menemukan kebahagiaan yang sebenarnya, meski tidak bersama.


Epilog

Cinta yang lahir di dunia maya kadang berakhir di dunia nyata. Yani dan Dawir adalah buktinya. Mereka pernah saling menemukan, pernah saling melepaskan, dan kini saling mendoakan.

Cinta mereka tak lagi berwujud janji, tapi berubah menjadi doa. Doa yang mungkin lebih kuat dari kata-kata. Doa yang mengajarkan bahwa setiap pertemuan adalah pelajaran, setiap perpisahan adalah jalan menuju kedewasaan.

Mungkin mereka tidak akan bersama. Tapi kisah mereka akan selalu menjadi pengingat bahwa cinta sejati bukan soal memiliki, melainkan soal bagaimana kita menjaga hati, meski harus merelakan.


Pesan dari Cerita Ini

  • Cinta tulus tidak selalu harus dimiliki; kadang ia mengajarkan arti melepaskan.
  • Pertemuan kembali bukan selalu tanda untuk memulai lagi, tetapi bisa jadi kesempatan untuk berdamai dengan masa lalu.
  • Menanti tidak selalu berarti berharap, tetapi bisa berarti menunggu hati kita benar-benar siap menerima takdir.

penulis Azhari