Notification

×

Iklan

FOTO KEGIATAN

Indeks Berita

Refleksi: Kehancuran Menjilat Pemimpin untuk Citra Terlihat Baik

Minggu, 14 September 2025 | 22:44 WIB Last Updated 2025-09-14T15:44:16Z



Di negeri ini – bahkan dalam lingkup kecil seperti organisasi, kantor, atau desa – budaya “menjilat” masih sering kita temui. Ada orang yang mendekati pemimpin bukan karena ingin membangun, melainkan demi citra pribadi agar terlihat baik. Dalam jangka pendek, strategi ini mungkin berhasil: kedekatan, pujian berlebih, dan pencitraan membuat seseorang tampak bersinar di mata atasan. Tetapi dalam jangka panjang, kebiasaan ini justru menjadi racun yang menghancurkan moral, integritas, bahkan tatanan organisasi.

Menjilat Bukan Loyalitas, Tapi Manipulasi

Banyak orang menyamakan “loyalitas” dengan “menjilat”. Padahal loyalitas sejati berakar pada komitmen, keberanian berkata benar, dan kesediaan mengoreksi bila pemimpin salah. Menjilat hanyalah manipulasi untuk keuntungan pribadi. Orang yang menjilat tidak sungguh-sungguh mendukung pemimpin, ia hanya memanfaatkan momen. Begitu angin berbalik, ia akan pergi atau beralih menjilat orang lain. Akhirnya pemimpin pun dikelilingi ilusi, tidak mendapat masukan yang jujur, dan kebijakan yang diambil pun keliru.

Citra Palsu yang Menghancurkan

Citra yang dibangun lewat pujian palsu ibarat bangunan tanpa pondasi. Dari luar tampak megah, tetapi begitu guncangan datang, ia roboh. Orang yang membiasakan diri menjilat akan kehilangan karakter dan integritas. Ia sulit dipercaya karena kata-katanya penuh kepura-puraan. Bahkan ketika ia benar-benar ingin berkata jujur, orang lain akan ragu mendengar. Kehancuran ini bukan hanya merugikan diri sendiri, tetapi juga merusak sistem: pemimpin tersesat, keputusan salah, publik yang dirugikan.

Pemimpin yang Sehat Butuh Kritik, Bukan Pujian Semu

Pemimpin yang bijak seharusnya menyadari jebakan ini. Ia tidak boleh hanya mengelilingi diri dengan orang-orang yang memuji, melainkan juga orang-orang yang berani memberi kritik konstruktif. Tanpa kritik, pemimpin kehilangan arah. Tanpa masukan jujur, kebijakan berubah jadi petaka. Justru pemimpin yang sehat akan menumbuhkan budaya terbuka, menghargai pendapat yang berbeda, dan menilai orang dari kerja nyata, bukan dari manisnya pujian.

Integritas Lebih Tinggi dari Pencitraan

Bagi kita sebagai individu, refleksi ini mengajarkan: jangan gadaikan integritas untuk pencitraan. Menjilat mungkin memberi kita kursi, proyek, atau posisi, tetapi semua itu sementara. Ketika kekuasaan berganti, kita akan ditinggalkan tanpa nama baik. Sebaliknya, orang yang jujur, bekerja sungguh-sungguh, dan berani bersikap meski tidak populer, justru akan dihargai jangka panjang. Reputasi baik lahir bukan dari pujian, tetapi dari rekam jejak.

Refleksi untuk Masa Depan

Bangsa dan organisasi akan maju jika warganya berani berkata benar di depan pemimpin, bukan hanya memuji agar terlihat baik. Ini bukan soal keberanian membangkang, tetapi keberanian menjaga integritas. Kritik yang santun, saran yang objektif, dan kerja nyata yang tulus jauh lebih mulia daripada pujian palsu. Menjilat hanya menghancurkan pemimpin, sistem, dan diri kita sendiri.

Kita butuh budaya baru: budaya integritas. Budaya di mana pemimpin merasa tenang dikelilingi orang-orang jujur, dan rakyat merasa aman menyampaikan kritik tanpa takut. Budaya di mana kita menilai seseorang dari kerja nyata, bukan dari keahliannya merangkai kata manis. Inilah refleksi yang harus terus kita hidupkan agar tidak terjebak dalam siklus kehancuran yang sama.