Di tengah hiruk-pikuk politik pasca pemilihan, ada satu ironi yang sering luput disadari:
bukan lawan politik yang paling melukai martabat seorang pemimpin,
melainkan oknum tim suksesnya sendiri.
Dengan dalih “membela bapak”,
mereka justru menjerumuskan bapak
ke jurang kehinaan etika dan akal sehat.
Apa yang mereka sebut sebagai argumentasi,
sejatinya hanyalah pembenaran kasar
yang merendahkan harkat martabat orang yang mereka klaim bela.
Membela dengan Cara yang Salah
Setiap kritik kepada pejabat publik adalah keniscayaan demokrasi.
Ia bukan penghinaan.
Ia adalah vitamin pahit bagi kekuasaan.
Namun oknum timses memilih jalan pintas:
menyerang pribadi pengkritik,
memelintir fakta,
mengancam dengan kuasa jabatan,
dan membangun narasi seolah “bapak selalu benar”.
Di titik ini, pembelaan berubah menjadi sabotase moral.
Karena pemimpin yang dibela dengan kebohongan
akan tampak lebih hina
daripada pemimpin yang jujur mengakui kekurangan.
Argumentasi yang Merusak Martabat
Ada tiga pola argumentasi timses
yang justru menjatuhkan harkat martabat bapak:
1. Argumentasi Emosional dan Premanisme Verbal
Alih-alih menjawab substansi kritik,
oknum timses memilih makian dan ancaman.
Pesannya ke publik jelas:
“Bapak tidak mampu menjawab kritik,
maka kami menggonggong untuknya.”
Itu bukan loyalitas.
Itu pelecehan terhadap kapasitas intelektual bapak sendiri.
2. Argumentasi Palsu Bernuansa Agama dan Adat
Ada pula yang membawa-bawa nama Tuhan, ulama, dan adat Aceh
untuk membungkam kritik.
Seolah-olah mengkritik kebijakan
sama dengan menghina agama dan adat.
Ini bukan pembelaan.
Ini manipulasi moral yang keji.
Karena agama dan adat tidak pernah lahir
untuk melindungi kesalahan penguasa.
3. Argumentasi Kultus Individu
“Bapak ini orang baik.”
“Bapak ini pejuang rakyat.”
“Bapak ini tak mungkin salah.”
Kalimat-kalimat ini terdengar manis,
tetapi beracun bagi demokrasi.
Karena ia mengubah pemimpin
menjadi manusia suci yang kebal kritik.
Dan di situlah kehancuran martabat dimulai.
Ketika Timses Lebih Haus Kuasa daripada Membela Kebenaran
Masalahnya bukan pada bapak semata.
Masalahnya pada mentalitas oknum timses
yang menjadikan kekuasaan sebagai ladang premanisme digital.
Mereka bukan membela kehormatan bapak.
Mereka sedang membela akses mereka sendiri
kepada proyek, jabatan, dan pengaruh.
Maka kritik dianggap ancaman,
bukan masukan.
Dalam situasi ini, bapak dijadikan tameng
bagi kerakusan etika orang-orang di sekitarnya.
Dalam Adat dan Etika Aceh
Dalam budaya Aceh,
pemimpin itu “ureung tuha gampông” dalam skala besar.
Ia harus teduh,
tidak reaktif,
tidak membiarkan mulut-mulut liar
berbicara atas namanya.
Jika timses dibiarkan menghina rakyat
demi membela bapak,
maka yang rusak bukan hanya citra politik,
tetapi marwah kepemimpinan.
Peumulia jamee adat geutanyoe.
Memuliakan tamu adalah adat kita.
Maka memuliakan kritik jauh lebih mulia
daripada memuliakan penjilat.
Pesan Etis untuk Bapak
Jika bapak membaca ini,
maka izinkan satu kalimat jujur:
Bapak tidak sedang dibela.
Bapak sedang direndahkan.
Karena pemimpin besar
tidak butuh preman verbal
untuk menjaga kehormatannya.
Yang bapak butuhkan adalah:
keberanian mendengar kritik,
kebijaksanaan menegur timses yang melampaui batas,
dan keteladanan etika di ruang publik.
Loyalitas yang Sejati
Loyalitas sejati bukan membela bapak
dengan kebohongan dan penghinaan.
Loyalitas sejati adalah:
berkata jujur ketika bapak keliru,
menenangkan suasana ketika kritik datang,
dan menjaga marwah bapak
dengan etika, bukan emosi.
Karena pada akhirnya,
sejarah tidak akan mencatat
siapa yang paling ribut membela bapak di media sosial.
Sejarah hanya akan mencatat
apakah bapak dikenang
sebagai pemimpin bermartabat
atau pemimpin yang dikelilingi
oleh oknum-oknum yang menjatuhkannya
atas nama cinta palsu.