Kunjungan Sekretaris Jenderal PKS Muhammad Kholid ke Posko Bencana DPD PKS Kabupaten Aceh Tamiang—khususnya meninjau layanan Bengkel Motor Gratis—memberi pelajaran penting tentang arti kehadiran politik di saat krisis. Di tengah banjir yang melumpuhkan aktivitas warga, bantuan yang menyentuh kebutuhan nyata sering kali lebih bermakna daripada pidato panjang.
Bagi masyarakat terdampak, sepeda motor bukan sekadar alat transportasi; ia adalah nadi ekonomi. Dari mengantar anak sekolah hingga mencari nafkah harian, motor yang rusak berarti terhentinya roda kehidupan. Layanan bengkel gratis menjawab kebutuhan konkret ini: memulihkan mobilitas,
mempercepat pemulihan, dan m
engurangi beban biaya di saat kondisi serba sulit.
Namun, kehadiran politik dalam bencana selalu berada di persimpangan niat dan persepsi. Publik berhak berharap bahwa bantuan tidak berhenti pada simbol, apalagi sekadar pencitraan. Nilai sebuah kunjungan diukur dari keberlanjutan: apakah layanan berjalan konsisten, apakah koordinasi dengan pemerintah dan relawan lokal terjaga, dan apakah pemulihan warga benar-benar terbantu setelah kamera pergi.
Di sisi lain, praktik seperti bengkel gratis menunjukkan arah yang patut dicontoh: bantuan berbasis fungsi. Tidak semua bantuan harus seragam. Air bersih, layanan kesehatan, dapur umum—dan ya, perbaikan kendaraan—adalah bagian dari ekosistem pemulihan. Politik yang hadir dengan membaca kebutuhan lapangan menunjukkan kedewasaan berempati.
Ke depan, tantangannya adalah memperluas dampak. Program darurat perlu ditautkan dengan fase pascabencana: dukungan ekonomi mikro, akses permodalan, dan mitigasi agar kerusakan serupa tidak berulang. Di sinilah peran partai, pemerintah, dan masyarakat sipil bertemu—bukan untuk berkompetisi, melainkan berkolaborasi.
Akhirnya, bencana adalah cermin. Ia memperlihatkan siapa yang datang, apa yang dibawa, dan bagaimana pergi meninggalkan jejak. Jika kehadiran politik mampu meringankan beban warga secara nyata—tenang, konsisten, dan berkelanjutan—maka kepercayaan publik akan tumbuh bukan dari slogan, melainkan dari kerja yang dirasakan.