Mohon jangan berpolitik dengan kata “kemanusiaan”. Jangan libatkan kami dalam narasi yang rapi ketika realitas kami masih compang-camping. Saat ini, kami belum butuh slogan. Kami butuh air bersih—sekadar untuk membasuh muka saat bangun pagi dari debu yang menempel, dari lelah yang belum sempat reda.
Di tengah bencana, kata-kata sering datang lebih cepat daripada bantuan. Spanduk dibentangkan, kamera dinyalakan, pernyataan disusun. Namun di lapangan, jeriken kosong menunggu diisi, kulit perih karena air sulit, dan hari-hari berjalan dengan kecemasan yang sama. Di titik ini, “kemanusiaan” yang dipolitisasi terasa seperti jarak—bukan jembatan.
Kami tidak menolak bantuan. Kami menolak eksploitasi penderitaan. Kemanusiaan bukan panggung untuk citra, melainkan kerja sunyi yang konsisten. Ia hadir tanpa gaduh, menolong tanpa menagih pujian, dan pergi tanpa meninggalkan janji yang menggantung. Jika harus memilih, kami lebih membutuhkan satu tangki air daripada seribu kata empati.
Bencana menguji kejujuran. Ia memisahkan yang hadir untuk membantu dari yang datang untuk terlihat. Politik yang matang seharusnya tahu diri: menempatkan kebutuhan warga sebagai pusat, bukan narasi sebagai tujuan. Ketika kemanusiaan dijadikan alat, korban kembali menjadi korban—kali ini oleh cerita.
Maka, izinkan kami bernapas. Biarkan bantuan mengalir tanpa label. Dengarkan kebutuhan sebelum menyusun pernyataan. Jika ingin membantu, bantu kami mendapatkan air bersih, layanan kesehatan, dan pemulihan yang nyata. Selebihnya, simpanlah panggung itu untuk waktu lain.
Sebab kemanusiaan yang sejati tidak membutuhkan mikrofon. Ia cukup bekerja—hingga debu bisa dibasuh, dan hidup bisa berjalan lagi.