Notification

×

Iklan

FOTO KEGIATAN

Indeks Berita

π™‰π™žπ™¨π™šπ™§π™€ π™Œπ™ͺπ™–π™šπ™¨π™©π™žπ™š: π™Žπ™–π™–π™© π˜Όπ™˜π™šπ™ π™ˆπ™šπ™£π™œπ™œπ™ͺπ™£π™˜π™–π™£π™œ π™ˆπ™–π™§π™©π™–π™—π™–π™© 𝙄𝙒π™₯π™šπ™§π™žπ™ͺ𝙒

Minggu, 04 Januari 2026 | 23:47 WIB Last Updated 2026-01-04T16:47:30Z

Peristiwa yang dikenal dalam historiografi kolonial sebagai Nisero Quaestie merupakan salah satu episode paling memalukan dalam sejarah kekuasaan Belanda di Aceh. Kejadian ini tidak hanya mengguncang stabilitas kolonial di ujung barat Nusantara, tetapi juga menyita perhatian dunia internasional, khususnya negara-negara Eropa. Belanda, yang sebelumnya dengan pongah mengklaim telah menaklukkan Aceh, tiba-tiba dinilai tak lagi sanggup mengendalikan keadaan. Bahkan Inggris—kekuatan imperium saingan—terpaksa turun tangan, meski pada akhirnya mengalami kegagalan serupa.

Pada masa pemerintahan Gubernur Sipil dan Militer Belanda di Aceh (Militair en Civiele Bevelhebber), yang dijabat oleh P.F. Laging Tobias (1882–1884), sebuah peristiwa besar terjadi dan segera mengguncang wibawa kolonial Belanda. Insiden ini bukan sekadar konflik lokal, melainkan sebuah krisis internasional yang memperlihatkan rapuhnya kendali Belanda atas Aceh di mata dunia.
Peristiwa tersebut diabadikan secara luas dalam berbagai karya sezaman, antara lain oleh W. Bradley dalam The Wreck of the Nisero and Our Captives in Sumatera, oleh H.C. van der Wijck dalam De Niserozaak, serta oleh Kielstra dalam Atjeh onder het Bestuur van den Gouverneur Laging Tobias.

Karya-karya ini, yang diterbitkan di Belanda pada tahun 1884, menjadi saksi tertulis betapa genting dan memalukannya posisi kolonial Belanda saat itu.

Inti dari Nisero Quaestie bermula pada 13 Oktober 1883, ketika kapal dagang Inggris Nisero disita di pantai Panga oleh Raja Teunom, Teuku Imum Muda. Penahanan kapal beserta awaknya segera memicu kegemparan internasional. Pemerintah Inggris mendesak Belanda agar segera membebaskan kapal dan para sandera. Namun segala upaya Belanda berujung kegagalan. Dunia internasional pun menyaksikan dengan jelas bahwa klaim Belanda atas “penaklukan Aceh” tak lebih dari propaganda kosong.

Ketika Belanda mengerahkan pasukan ke Teunom untuk melakukan pembebasan paksa, Raja Teunom dengan tegas mengeluarkan ancaman: jika Teunom diserang, seluruh sandera akan dibunuh. Ancaman ini menjadi dilema besar bagi Belanda—setiap langkah militer justru berpotensi menjerumuskan mereka ke dalam kehinaan yang lebih dalam di mata dunia.

Merasa Belanda tak lagi mampu bertindak, Pemerintah Inggris akhirnya mengambil inisiatif sendiri, mengabaikan otoritas kolonial Belanda di Aceh. Kapal perang Inggris Pegasus berlayar ke Teunom untuk melakukan diplomasi langsung dengan Raja Teunom. Namun upaya ini pun kandas. Bahkan kehadiran W.E. George Maxwell, anggota Dewan Jajahan Inggris di Singapura, tak mampu melunakkan tuntutan sang raja. Raja Teunom bersikukuh pada tebusan besar—jumlah yang tak sanggup dipenuhi baik oleh Inggris maupun Belanda.

Dalam keputusasaan, Gubernur Laging Tobias akhirnya meminta bantuan Teuku Umar, tokoh Aceh yang saat itu tengah menjalankan siasatnya yang termasyhur—berpura-pura berdamai dengan Belanda. Namun alih-alih menyelesaikan krisis, keterlibatan Teuku Umar justru memperkeruh keadaan.

Pada 3 Juli 1884, Teuku Umar bersama 32 orang pengikutnya diberangkatkan ke Teunom melalui jalur laut. Namun sebelum mencapai tujuan, ia dan pasukannya membunuh seluruh serdadu Belanda yang menyertai mereka, merampas senjata serta amunisi, lalu bergabung dengan pasukan Raja Teunom. Bahkan, Teuku Umar mendorong agar tuntutan uang tebusan dinaikkan.

Belanda pun benar-benar tak berdaya. Di bawah tekanan berkelanjutan dari Pemerintah Inggris, Laging Tobias bersama Maxwell akhirnya terpaksa memenuhi tuntutan Raja Teunom.

Tebusan sebesar 100.000 ringgit dibayarkan, dan Belanda diwajibkan membuka blokade laut Teunom. Dengan demikian, krisis Nisero Quaestie berakhir—bukan dengan kemenangan kolonial, melainkan dengan rasa malu yang mendalam.
Namun episode ini hanyalah satu bab dari perang panjang di Aceh. Setelahnya, perlawanan terus berkobar tanpa henti. Belanda tak pernah benar-benar merasa aman di tanah Aceh hingga akhirnya mereka angkat kaki pada tahun 1942.

Sejarah mencatat dengan jelas: Belanda tak pernah sepenuhnya menguasai Aceh, dan Aceh tak pernah benar-benar tunduk kepada Belanda.

Penulis : Tgk Habibie Waly S.TH

#sejarahaceh #aceh #abuyahabibiewaly #tokohaceh #teunom