Notification

×

Iklan

FOTO KEGIATAN

Indeks Berita

Catatan Perjalanan Hidup Bila Tak Lagi Merasa Berguna

Selasa, 06 Januari 2026 | 01:22 WIB Last Updated 2026-01-05T18:23:09Z
Ada fase dalam hidup ketika seseorang berhenti bertanya “siapa aku?” dan mulai bertanya “untuk apa aku ada?”
Pertanyaan kedua jauh lebih sunyi, lebih menyakitkan, dan sering datang tanpa diundang—biasanya setelah kegagalan, kehilangan, atau saat usia berjalan lebih cepat daripada pencapaian.

Merasa tidak berguna adalah luka batin yang jarang berdarah, tetapi lama sembuhnya. Ia tidak terlihat di luar, namun menggema di dalam. Seseorang bisa tetap tersenyum, tetap bekerja, tetap berbicara di tengah keramaian, tetapi di dalam dirinya ada ruang kosong yang terus bertanya: “Apakah kehadiranku masih berarti?”
Ketika Nilai Diri Diukur oleh Manfaat
Sejak kecil kita diajarkan—secara sadar atau tidak—bahwa manusia dinilai dari kegunaannya.

Berguna bagi keluarga.
Berguna bagi masyarakat.
Berguna bagi negara.
Namun jarang diajarkan bagaimana menghadapi hidup ketika, menurut ukuran dunia, kita tak lagi produktif, tak lagi penting, atau tak lagi dibutuhkan. Padahal di situlah ujian kemanusiaan paling jujur dimulai.

Dunia modern menciptakan standar kebergunaan yang sempit: jabatan, pengaruh, penghasilan, popularitas. Ketika satu per satu itu hilang, manusia sering ikut merasa hilang. Padahal hidup tidak pernah sekadar soal fungsi ekonomi atau sosial. Ia juga soal keberadaan, ketulusan, dan kesetiaan pada nilai.

Perjalanan Hidup yang Sunyi
Dalam perjalanan hidup, ada orang yang berjalan cepat dan dielu-elukan. Ada pula yang berjalan tertatih dan dilupakan. Tidak semua pejuang berdiri di podium, tidak semua kebaikan tercatat, dan tidak semua pengorbanan mendapat tepuk tangan.
Namun sejarah hidup seseorang tidak selalu ditulis oleh dunia—sering kali ia ditulis oleh Tuhan dalam sunyi.
Ada ayah yang merasa gagal karena tak mampu memberi harta, tetapi ia memberi doa.

Ada ibu yang merasa tak berguna karena tak bekerja, tetapi ia menjaga jiwa.
Ada orang yang merasa tak berarti karena suaranya tak didengar, padahal diamnya mencegah banyak keburukan.

Kebergunaan tidak selalu tampak. Kadang ia hadir dalam bentuk kesabaran yang tidak viral, kejujuran yang tidak populer, dan keteguhan yang tidak dihargai.
Bila Tak Berguna di Mata Manusia
Jika suatu hari kita merasa tidak berguna di mata manusia, jangan tergesa-gesa mengadili diri sendiri. Dunia sering salah menilai. Ia lupa bahwa manusia bukan alat, melainkan amanah.

Dalam nilai-nilai spiritual, hidup bukan diukur dari seberapa banyak yang kita kuasai, tetapi seberapa tulus kita bertahan dalam kebaikan. Bahkan diam pun bisa bernilai, bila ia menahan diri dari kejahatan. Bahkan mundur pun bisa bermakna, bila ia mencegah kesombongan.

Kadang hidup tidak menuntut kita untuk menjadi hebat, tetapi untuk tetap lurus ketika semua terasa sia-sia.

Penutup: Hidup Tidak Pernah Sia-Sia
Tidak ada perjalanan hidup yang benar-benar tidak berguna, kecuali ketika seseorang menyerah pada keputusasaan dan berhenti menjaga nuraninya. Selama masih ada niat baik, selama masih ada doa yang dipanjatkan, selama masih ada kesabaran yang dipelihara—hidup tetap bernilai.
Mungkin kita tidak penting bagi dunia, tetapi belum tentu tidak penting bagi langit.

Dan barangkali, justru di saat kita merasa paling tidak berguna, di situlah Tuhan sedang mengajarkan arti manusia yang sebenarnya:
bukan tentang seberapa besar pengaruhnya, tetapi seberapa jujur ia bertahan dalam kebenaran.


Penulis Azhari