Notification

×

Iklan

FOTO KEGIATAN

Indeks Berita

Emas yang Hilang di Mata Generasi Muda

Minggu, 25 Januari 2026 | 00:15 WIB Last Updated 2026-01-24T17:15:28Z


Ada satu jenis emas yang tidak pernah dicatat di bursa, tidak disimpan di brankas, dan tidak bisa digadaikan ke pegadaian. Ia bernama kepercayaan publik. Dan hari ini, emas itu nyaris tak lagi berkilau di mata generasi muda.

Bagi banyak anak muda, politik bukan lagi ruang pengabdian, melainkan panggung kepalsuan. Bukan ladang amal sosial, tetapi ladang transaksi. Bukan tempat lahirnya harapan, melainkan kuburan janji. Maka jangan heran bila generasi yang seharusnya menjadi energi perubahan justru memilih menjauh, apatis, atau sinis.
Di mata mereka, emas politik telah hilang.
Politik yang Tak Lagi Romantis
Dulu, politik identik dengan perjuangan.
Nama-nama besar dikenang bukan karena baliho raksasa, tetapi karena keberanian, pengorbanan, dan integritas.
Hari ini, yang terlihat justru sebaliknya.
Kampanye berubah menjadi festival uang.
Jabatan berubah menjadi investasi.
Kebijakan berubah menjadi alat balas budi.

Anak muda melihat semua itu dengan mata telanjang. Mereka tumbuh di era digital—era di mana kebohongan lebih cepat terbongkar, dan rekam jejak tak bisa lagi disembunyikan..

Mereka menyaksikan politisi tersenyum di panggung, lalu bersitegang di belakang layar demi proyek dan kekuasaan. Mereka melihat wakil rakyat yang rajin mengutip ayat saat kampanye, tetapi senyap ketika rakyatnya menjerit pasca bencana, krisis ekonomi, atau konflik agraria.
Di titik inilah politik kehilangan romantismenya.
Dan emas itu mulai tampak seperti logam murahan.

Janji yang Terlalu Sering Dikhianati
Bagi generasi muda, politik adalah arsip panjang pengkhianatan janji.
Janji lapangan kerja.
Janji pendidikan murah.
Janji keadilan sosial.
Janji anti-korupsi.
Semua terdengar indah setiap lima tahun sekali. Lalu menguap begitu kursi empuk berhasil diduduki.

Mereka bertanya dalam diam:
“Untuk apa ikut politik, jika hasilnya selalu sama?”

Pertanyaan itu tidak lahir dari kemalasan berpikir, tetapi dari kelelahan kolektif menyaksikan pola yang berulang.
Dan ketika harapan terlalu sering dipermainkan, apatisme menjadi mekanisme bertahan hidup.

Elitisme yang Menjauhkan Politik dari Rakyat Salah satu sebab utama emas politik hilang di mata generasi muda adalah karena politik semakin terasa elitis.
Ruang-ruang kekuasaan dikuasai oleh nama-nama yang itu-itu saja.
Dinasti politik tumbuh subur.
Anak muda hanya dipakai sebagai relawan, tukang sorak, atau alat mobilisasi suara.

Mereka jarang diajak merumuskan kebijakan.Lebih jarang lagi diberi ruang memimpin.
Politik lalu tampak seperti klub eksklusif orang kaya, orang tua, dan orang yang punya koneksi.

Bagaimana mungkin generasi muda mencintai politik yang bahkan tidak menganggap mereka setara?
Aceh: Luka Sejarah dan Kekecewaan Baru
Di Aceh, persoalan ini berlapis.
Generasi muda tumbuh dengan cerita konflik, pengorbanan, dan darah para syuhada. Mereka diajarkan bahwa politik Aceh adalah politik bermartabat, lahir dari penderitaan dan perjuangan panjang.

Namun yang mereka lihat hari ini sering kali justru pertengkaran elit, perebutan proyek, dan permainan simbol agama serta perjuangan untuk kepentingan sempit. MoU Helsinki yang dulu penuh harapan kini terasa jauh dari janji kesejahteraan yang nyata.

Dana otsus mengalir, tetapi kemiskinan struktural tetap membatu.
Qanun dibanggakan, tetapi keadilan sosial masih pincang. Identitas Aceh dielu-elukan, tetapi generasi mudanya kebingungan mencari masa depan.

Di titik inilah emas perjuangan Aceh terasa seperti diwariskan dalam bentuk kenangan, bukan keberlanjutan nilai.
Generasi Muda Bukan Anti-Politik, Mereka Anti-Kemunafikan
Satu kesalahan besar elit hari ini adalah menyimpulkan bahwa anak muda apatis dan tidak peduli
.
Itu tidak sepenuhnya benar.
Mereka peduli—tetapi tidak lagi percaya.
Mereka kritis—tetapi tidak lagi naif.
Mereka ingin perubahan—tetapi muak pada cara lama.

Bukti paling jujur adalah: anak muda tetap bergerak di isu lingkungan, kemanusiaan, pendidikan, dan keadilan sosial. Mereka turun ke jalan, membuat komunitas, membangun inisiatif sosial.
Mereka hanya tidak mau masuk ke politik yang kotor.

Masalahnya bukan pada generasi mudanya.

Masalahnya pada politiknya.
Mengembalikan Kilau Emas yang Hilang
Jika elit politik sungguh ingin generasi muda kembali percaya, maka tidak ada jalan pintas.

Pertama, berhentilah berbohong.
Transparansi bukan slogan, tetapi praktik.
Kedua, berhentilah menjadikan jabatan sebagai ladang balas jasa.

Profesionalisme harus mengalahkan nepotisme. Ketiga, beri ruang nyata bagi generasi muda. Bukan sekadar kuota foto kampanye.
Keempat, tunjukkan keberpihakan yang konsisten pada rakyat kecil.
Bukan hanya saat kamera menyala.
Kelima, berani hidup sederhana dan bersih.

Karena integritas selalu lebih persuasif daripada retorika.
Penutup: Politik Masih Bisa Menjadi Emas
Emas politik itu belum sepenuhnya hilang.
Ia hanya tertimbun oleh lumpur keserakahan, kebohongan, dan kemunafikan.

Generasi muda masih menunggu.
Bukan menunggu pidato baru.
Bukan menunggu baliho baru.
Mereka menunggu teladan.
Dan jika suatu hari mereka melihat satu saja pemimpin yang jujur, konsisten, dan benar-benar berpihak pada rakyat—maka kilau emas itu akan muncul kembali.
Karena sesungguhnya, generasi muda tidak pernah membenci politik.
Mereka hanya kecewa pada para politisi.