Ada satu jenis kesadaran hidup yang datang bukan dari buku filsafat, bukan dari mimbar agama, dan bukan dari pengalaman pribadi semata. Ia datang dari rasa pahit melihat nasib orang banyak ditentukan oleh pemimpin yang tidak memiliki kepemimpinan, tidak memahami administrasi negara, dan buta terhadap tatanan kemasyarakatan.
Di situlah penyesalan kolektif lahir.
Bukan sekadar menyesal memilih orang yang salah, tetapi menyesal karena pernah mengira semua orang yang berani maju memimpin memang layak memimpin.
Ketika Kekuasaan Jatuh ke Tangan yang Tidak Siap
Tidak semua orang yang ingin berkuasa siap memikul beban kekuasaan.
Namun demokrasi kita sering terlalu murah hati:
siapa pun bisa maju,
siapa pun bisa menang,
asal punya uang, jaringan, dan kemasan citra.
Akibatnya, kita dipimpin oleh mereka yang gagap membaca regulasi, bingung membedakan kewenangan pusat dan daerah, dan memimpin berdasarkan insting pribadi, bukan sistem.Keputusan lahir tanpa kajian.Kebijakan dibuat tanpa data. Masalah publik disikapi dengan emosi, bukan nalar.
Di titik ini, jabatan tidak lagi menjadi amanah, tetapi kostum kebesaran yang dipakai orang yang salah ukuran.
Administrasi Negara: Ilmu yang Dianggap Sepele, Banyak pemimpin hari ini seolah mengira negara bisa dikelola seperti warung kopi atau organisasi kecil.
Padahal administrasi negara adalah ilmu dan sistem yang kompleks:
ada perencanaan, penganggaran, regulasi, hierarki kewenangan, tata kelola birokrasi, hingga etika publik
.
Pemimpin yang tidak paham itu semua akan:
mudah dipermainkan oleh bawahannya,
mudah ditipu oleh pembisik kepentingan,
mudah membuat keputusan yang melanggar hukum,
dan mudah menciptakan kekacauan administratif.
Ironisnya, merekalah yang sering paling percaya diri.
Karena orang yang paling tidak tahu sering kali justru paling tidak sadar bahwa ia tidak tahu. Tatanan Kemasyarakatan yang Diinjak dengan Kebijakan Serampangan
Lebih menyedihkan lagi, pemimpin yang buta sosiologi.
Ia tidak paham struktur sosial masyarakatnya.
Ia tidak mengerti luka sejarah rakyatnya.
Ia tidak tahu batas-batas kearifan lokal.
Maka lahirlah kebijakan yang:
melukai rasa keadilan,
memicu konflik horizontal,
mengabaikan kelompok rentan,
dan merusak harmoni sosial.
Pemimpin seperti ini bukan hanya tidak kompeten— ia berbahaya. Karena setiap keputusan negara selalu punya dampak sosial yang panjang dan dalam.
Kesadaran Hidup yang Terlambat
Penyesalan terbesar bukan karena hidup susah. Penyesalan terbesar adalah sadar bahwa hidup susah ini bukan takdir—
melainkan hasil dari kepemimpinan yang salah.
Di titik ini, rakyat mulai bertanya dalam sunyi:
“Mengapa kami dulu bertepuk tangan?”
“Mengapa kami dulu membela mati-matian?”
“Mengapa kami dulu memaki mereka yang mengkritik?”
Kesadaran hidup itu datang terlambat.
Datang ketika janji telah berubah jadi ironi.
Datang ketika harapan telah berubah jadi beban.Dan yang tersisa hanyalah rasa malu kolektif.
Antara Niat Baik dan Kompetensi
Banyak orang membela pemimpin gagal dengan kalimat:
“Dia orang baik, niatnya tulus.”
Masalahnya: niat baik tanpa kompetensi adalah bencana publik.
Rumah sakit tidak bisa dipimpin oleh orang baik yang tidak paham medis.
Pesawat tidak bisa diterbangkan oleh orang saleh yang tidak paham navigasi.
Negara pun tidak bisa dikelola oleh orang tulus yang tidak paham tata kelola negara.
Kebaikan hati tidak menggantikan kecakapan akal.
Demokrasi Tanpa Literasi Politik: Pabrik Penyesalan,Kita jarang jujur pada diri sendiri bahwa sebagian kesalahan ada pada kita sebagai rakyat.
Kita memilih berdasarkan:
kesamaan daerah,
kesamaan agama,
amplop,
baliho,
atau janji emosional.
Bukan berdasarkan kapasitas, rekam jejak, dan visi kebijakan.
Demokrasi tanpa literasi politik hanya akan memproduksi penyesalan lima tahunan.
Penutup: Kesadaran yang Harus Melahirkan Keberanian
Kesadaran hidup ini tidak boleh berhenti sebagai ratapan. Ia harus berubah menjadi keberanian: berani tidak memilih orang bodoh meski satu kampung,
berani tidak memilih orang zalim meski satu golongan,
berani tidak memilih orang dungu meski satu partai.
Karena memilih pemimpin bukan soal siapa yang paling dekat dengan identitas kita, tetapi siapa yang paling layak mengelola nasib orang banyak.
Jika hari ini kita menyesal dipimpin oleh mereka yang tak punya kepemimpinan, tak paham administrasi negara, dan tak mengerti tatanan kemasyarakatan—
maka satu-satunya cara menebus penyesalan itu adalah:
jangan ulangi kebodohan yang sama pada pemilihan berikutnya.Karena dalam politik,
kesalahan terbesar bukan salah memilih sekali—tetapi mengulanginya dengan sadar.