Notification

×

Iklan

FOTO KEGIATAN

Indeks Berita

Kehangatan Selingkuh Akan Binasa

Minggu, 11 Januari 2026 | 13:42 WIB Last Updated 2026-01-11T06:44:05Z


Selingkuh kerap lahir dari rasa dingin yang tak diakui. Dari jarak yang dibiarkan tumbuh, dari percakapan yang tak lagi hangat di rumah, lalu digantikan oleh pesan singkat yang terasa “mengerti”. Di situlah selingkuh sering disalahpahami sebagai kehangatan—padahal ia hanyalah api sesaat yang membakar, bukan cahaya yang menerangi.
Kehangatan selingkuh adalah ilusi. Ia datang tanpa tanggung jawab, tanpa komitmen, tanpa keberanian menanggung konsekuensi. Ia manis karena tersembunyi, hangat karena terlarang. Namun justru karena itulah ia rapuh. Apa yang berdiri di atas kebohongan, cepat atau lambat akan runtuh oleh kebenaran.
Banyak yang menyangka selingkuh menyembuhkan luka pernikahan. Padahal ia hanya menunda perbaikan, sambil memperdalam retak. Selingkuh tidak menyelesaikan sepi; ia mengajarkan pelarian. Tidak memperbaiki komunikasi; ia mengajarkan pengkhianatan. Tidak memulihkan cinta; ia memalsukannya.
Pada akhirnya, kehangatan semu itu akan binasa oleh waktu. Rasa bersalah akan menggerogoti. Ketakutan terbongkar akan mengusik tidur. Dan ketika rahasia terungkap—sebagaimana rahasia selalu menemukan jalannya—yang tersisa bukan kehangatan, melainkan abu: kepercayaan yang hangus, keluarga yang terluka, dan harga diri yang runtuh.
Lebih dari sekadar urusan dua orang, selingkuh adalah luka sosial. Ia merusak fondasi kepercayaan—di rumah, di komunitas, di nilai yang kita junjung. Anak-anak belajar dari diam yang penuh rahasia. Pasangan belajar dari janji yang dikhianati. Masyarakat belajar dari normalisasi pengingkaran.
Jika ada dingin dalam hubungan, jawabannya bukan api terlarang, melainkan keberanian. Berani berbicara, berani jujur, berani memperbaiki—atau berani berpisah dengan bermartabat. Cinta yang dewasa tidak mencari kehangatan di tempat gelap; ia menyalakan lampu dan bekerja bersama.
Kehangatan selingkuh akan binasa. Yang abadi hanyalah kehangatan yang tumbuh dari kejujuran, kesetiaan, dan tanggung jawab. Di sanalah cinta tidak sekadar terasa hangat, tetapi juga layak dipertahankan.