Notification

×

Iklan

FOTO KEGIATAN

Indeks Berita

Jangan Cari Popularitas dalam Bencana, Ketika Kata Tak Lagi Menjadi Realita bagi Mereka

Sabtu, 10 Januari 2026 | 21:59 WIB Last Updated 2026-01-10T15:10:17Z

Bencana selalu menyisakan luka—bukan hanya pada tanah yang runtuh atau rumah yang hanyut, tetapi pada martabat manusia yang terpapar kamera. Di saat air belum surut dan tangis belum reda, ada yang tergesa menata kata, menyusun narasi, dan memburu sorotan. Popularitas pun dipungut dari puing-puing penderitaan. 

Di titik inilah kata kehilangan makna, sebab realita korban tak pernah sejalan dengan retorika yang dipoles.

Bagi mereka yang terdampak, bencana adalah hari-hari panjang tanpa kepastian: tidur di lantai dingin, antre air bersih, menghitung sisa makanan, menahan cemas anak-anak. Namun bagi sebagian lain, bencana berubah menjadi panggung: konferensi pers, unggahan empatik instan, janji yang bergaung tetapi tak berjejak

. Kata-kata terdengar indah, sayangnya tak menyentuh kebutuhan paling dasar.
Masalahnya bukan pada berbicara, melainkan pada niat dan dampaknya. Ketika narasi didahulukan dari tindakan, empati menjelma kosmetik. Ketika kamera lebih penting daripada logistik, kepedulian berubah konten. Korban menjadi latar, bukan subjek. Mereka dipotret, dikutip, lalu ditinggal—sementara hujan berikutnya datang tanpa payung.

Popularitas dalam bencana adalah bentuk ketidakpekaan yang halus namun menyakitkan. Ia menukar keheningan yang dibutuhkan korban dengan riuh tepuk tangan. Ia menukar kerja sunyi relawan dengan angka tayang. Lebih buruk lagi, ia mengaburkan evaluasi: kegagalan ditutup oleh narasi sukses, kekurangan dilapisi slogan.

Padahal, etika kemanusiaan menuntut sebaliknya. Hadir tanpa gaduh. Membantu tanpa menagih pujian. Mendengar lebih lama daripada berbicara. Kebutuhan korban tidak memerlukan metafora; ia konkret: air bersih, hunian layak, layanan kesehatan, sekolah darurat, dan kepastian pemulihan. Di hadapan realita setajam ini, kata-kata yang tak disertai kerja hanya menambah jarak.

Media dan pejabat—juga kita semua—perlu menahan diri. Bukan untuk membungkam informasi, tetapi untuk memulihkan proporsi. Laporkan dengan martabat, bukan sensasi. Janjikan setelah menghitung, bukan sebelum menyiapkan. Ukur keberhasilan dari perubahan di lapangan, bukan dari viralitas.

Bencana adalah ujian kejujuran kolektif. Ia menguji apakah empati kita berakar pada kepedulian atau sekadar citra. Jika kata tak lagi menjadi realita bagi mereka, maka diam yang bekerja lebih mulia daripada pidato yang bergaung. Popularitas akan pudar; luka korban menetap. Maka, pilihlah: menjadi gema sesaat, atau tangan yang benar-benar menolong.