Ada tangis yang tidak terdengar oleh kamera.
Ada jerit yang tidak masuk ke berita.
Ada doa yang hanya berputar di langit-langit tenda pengungsian.
Itulah tangis kehidupan korban pasca banjir.
Ketika air telah surut dan lumpur mulai mengering, penderitaan justru baru benar-benar dimulai. Karena bagi korban banjir, bencana bukan selesai saat hujan berhenti—tetapi justru dimulai saat semua orang pulang, dan mereka ditinggal sendirian bersama reruntuhan hidupnya.
Di Antara Tenda, Dingin, dan Rasa Tak Dianggap
Di tenda-tenda darurat, manusia hidup bukan lagi sebagai warga negara yang bermartabat, tetapi sekadar sebagai “korban”.
Tidur beralas tikar tipis.
Makan dari bantuan yang tak selalu datang.
Mandi dengan air keruh.
Buang air dengan rasa malu.
Anak-anak menggigil di malam hari.
Orang tua terdiam memandangi tanah.
Para ibu menangis diam-diam, takut terlihat lemah.
Dan di tengah semua itu, satu pertanyaan berputar tanpa henti:
“Ke mana kami harus berharap?”
Rumah yang Tertimbun, Masa Depan yang Ikut Terkubur
Bagi orang kota, rumah mungkin sekadar aset.
Bagi korban banjir, rumah adalah seluruh hidup.
Di sanalah mereka menikah.
Di sanalah anak-anak mereka lahir.
Di sanalah mereka menyimpan foto orang tua yang telah wafat.
Di sanalah mereka menggantungkan penghidupan kecil-kecilan.
Ketika rumah tertimbun lumpur, yang hilang bukan hanya dinding dan atap—
tetapi identitas, kenangan, dan rasa aman.
Mereka berdiri di depan puing-puing itu dengan mata kosong.
Tidak tahu harus memulai dari mana.
Tidak tahu harus mengadu ke siapa.
Dan negara… sering kali hanya datang untuk mendata, memfoto, lalu pergi.
Bantuan Datang, Lalu Menghilang
Hari-hari pertama pasca banjir penuh dengan rombongan.
Pejabat datang.
Relawan datang.
Media datang.
Semua sibuk memberi bantuan, berfoto, dan menyampaikan belasungkawa.
Lalu satu per satu mereka pergi.
Dan korban kembali sendiri.
Bantuan logistik menipis.
Janji hunian sementara tak kunjung nyata.
Janji hunian tetap terdengar seperti dongeng pengantar tidur.
Yang tersisa hanya spanduk “kami peduli” yang mulai robek diterpa angin.
Anak-Anak yang Kehilangan Masa Kecilnya
Tidak ada yang lebih kejam dari melihat anak kecil hidup di tenda pengungsian berbulan-bulan.
Mereka kehilangan sekolah.
Mereka kehilangan mainan.
Mereka kehilangan rutinitas.
Mereka kehilangan rasa aman.
Sebagian mulai pendiam.
Sebagian mulai temperamental.
Sebagian mulai sering sakit.
Trauma itu tidak tercatat di laporan bencana.
Tidak masuk ke tabel anggaran.
Padahal luka psikis jauh lebih mahal daripada kerusakan fisik.
Orang Dewasa yang Dipaksa Kuat di Atas Patah Hati
Para ayah pura-pura tegar.
Para ibu pura-pura kuat.
Padahal di dalam dada mereka ada badai yang lebih besar dari banjir itu sendiri.
Mereka malu meminta-minta.
Mereka bingung mencari kerja tanpa rumah dan tanpa alat.
Mereka takut masa depan anak-anaknya hancur.
Setiap malam mereka bertanya dalam sunyi:
“Apakah hidup kami akan kembali normal?”
Dan jawaban yang datang hanya bunyi jangkrik dan dengkur orang-orang di tenda.
Negara Hadir di Pidato, Absen di Kenyataan
Setiap bencana selalu diiringi kalimat yang sama:
“Negara hadir untuk rakyatnya.”
Tapi bagi korban banjir, negara sering terasa seperti tamu singgah.
Hadir sebentar.
Berkata-kata indah.
Lalu menghilang.
Prosedur berbelit.
Data tumpang tindih.
Anggaran tak kunjung turun.
Sementara korban diminta sabar.
Sabar, sementara anaknya kedinginan.
Sabar, sementara rumahnya tinggal puing.
Sabar, sementara hidupnya berhenti.
Sabar macam apa yang masih tersisa?
Ke Mana Harus Berharap?
Ke pemerintah daerah?
Katanya menunggu pusat.
Ke pemerintah pusat?
Katanya menunggu data daerah.
Ke lembaga sosial?
Dananya terbatas.
Ke Tuhan?
Setiap malam mereka sudah berdoa.
Korban banjir seperti bola yang ditendang dari satu meja ke meja lain.
Dan di tengah birokrasi itu, manusia kehilangan martabatnya.
Tangis yang Tidak Mengutuk, Hanya Meminta Keadilan
Yang menyentuh dari korban banjir bukanlah kemarahannya—
tetapi kepasrahannya.
Mereka jarang memaki.
Mereka jarang berdemo.
Mereka hanya bertanya pelan:
“Kami ini salah apa?”
Mereka tidak meminta istana.
Tidak meminta mobil.
Mereka hanya ingin:
atap untuk berteduh,
air bersih untuk hidup,
kepastian untuk masa depan.
Apakah itu terlalu mahal untuk sebuah negara?
Penutup: Jangan Biarkan Tangis Ini Jadi Warisan
Jika hari ini korban banjir dibiarkan hidup terlalu lama di tenda,
jika rumah mereka dibiarkan tertimbun tanpa solusi,
jika masa depan anak-anak mereka dibiarkan kabur—
maka sesungguhnya kita sedang menciptakan generasi baru yang tumbuh dari trauma dan kekecewaan.
Tangis kehidupan di tenda bukan sekadar kisah pilu.
Ia adalah gugatan moral kepada negara dan para pemimpin.
Ke mana korban pasca banjir harus berharap?
Jika negara tidak segera menjawab dengan tindakan nyata,
maka satu hal yang pasti:
yang runtuh bukan hanya rumah-rumah mereka—
tetapi juga kepercayaan rakyat kepada kemanusiaan negara itu sendiri.