Pencitraan lahir dari kegelisahan untuk tampak, bukan untuk benar. Ia merias permukaan, menutup retak, dan memoles kata agar terdengar mulia. Dalam jangka pendek, pencitraan mungkin mengundang tepuk tangan. Namun ketika jarak antara citra dan kenyataan terlalu lebar, nilai yang dikandungnya mulai membusuk—lalu binasa.
Kita hidup di zaman etalase. Kebaikan dipotret, empati diposting, kepedulian diberi tagar. Masalahnya bukan pada publikasi, melainkan pada niat. Saat kebaikan dikerjakan demi sorotan, ia kehilangan substansi. Nilai berubah menjadi properti panggung; moral menjadi kostum yang dipakai saat kamera menyala.
Pencitraan meminjam bahasa nilai tanpa menanggung bebannya. Ia berbicara tentang keadilan tanpa keberanian menegakkannya, tentang kemanusiaan tanpa kesediaan berkorban, tentang integritas tanpa komitmen menolak keuntungan kotor. Maka tak heran, pencitraan cepat runtuh ketika diuji: krisis kecil saja cukup membuka topeng.
Di ruang publik, pencitraan sering dipelihara oleh algoritma. Yang viral dianggap benar, yang sunyi dianggap tak bernilai. Akibatnya, kebijakan lahir dari kalkulasi reaksi, bukan dari kebutuhan rakyat. Kepemimpinan diukur oleh impresi, bukan oleh dampak. Nilai pun ditukar dengan statistik.
Namun nilai sejati tidak membutuhkan lampu sorot. Ia bekerja diam-diam, konsisten, dan menanggung risiko. Ia mungkin tak segera dipuji, tetapi ia bertahan. Ketika badai datang, yang bertahan bukan citra, melainkan karakter. Bukan slogan, melainkan rekam jejak.
Pada akhirnya, nilai pencitraan akan binasa oleh waktu dan kenyataan. Yang tersisa hanyalah pertanyaan: apa yang benar-benar kita lakukan saat tak ada yang melihat? Di situlah nilai diuji. Dan di sanalah, kita belajar bahwa keutuhan lebih berharga daripada popularitas, dan kejujuran lebih kuat daripada citra.