Notification

×

Iklan

FOTO KEGIATAN

Indeks Berita

Menanti Tanpa Pasti di Tenda: Memilih Rumah Sementara atau Menunggu Rumah Hunian Tetap

Sabtu, 03 Januari 2026 | 22:23 WIB Last Updated 2026-01-03T15:29:34Z

Refleksi Sosial Korban Banjir Menjelang Ramadhan dan Hari Raya
Di bawah terpal yang mulai kusam, waktu berjalan lambat. Siang terasa panjang, malam terasa dingin. Bagi korban banjir, tenda bukan sekadar tempat berlindung, tetapi ruang penantian—penantian tanpa kepastian. Menjelang Ramadhan dan Hari Raya, penantian itu berubah menjadi beban psikologis yang lebih berat dari sekadar kehilangan harta.
Di satu sisi, negara menawarkan rumah sementara (huntara). Di sisi lain, korban berharap pada rumah hunian tetap (huntap) yang entah kapan akan terwujud. Di antara dua pilihan itu, korban banjir terjebak pada dilema: bertahan dalam ketidakpastian atau menerima solusi yang belum tentu menjawab kebutuhan jangka panjang.

Tenda dan Kehilangan Martabat Sosial
Tenda darurat memang penting pada fase tanggap darurat. Namun ketika hari berganti minggu, dan minggu berganti bulan, tenda tidak lagi sekadar simbol penyelamatan—ia menjelma menjadi simbol keterlambatan. Anak-anak belajar di bawah cahaya seadanya, ibu-ibu memasak dengan keterbatasan, dan para ayah kehilangan ruang privat sebagai kepala keluarga.

Menjelang Ramadhan, tenda tidak memberi ruang untuk kekhusyukan. Tidak ada dapur layak untuk sahur dan berbuka, tidak ada ruang ibadah yang tenang, tidak ada sudut privat untuk merenung. Lebih menyakitkan lagi, Hari Raya—yang semestinya menjadi momentum pulang dan berkumpul—justru dirayakan di ruang sementara yang tidak pernah benar-benar menjadi “rumah”.

Rumah Sementara: Solusi Cepat atau Masalah Baru?
Rumah sementara sering dipromosikan sebagai jalan tengah. Ia lebih layak dari tenda, lebih manusiawi secara fisik. Namun, pertanyaannya bukan hanya apakah bisa dibangun cepat, melainkan apakah ia dibangun dengan memahami kondisi sosial korban.

Banyak korban banjir tidak menolak rumah sementara. Yang mereka khawatirkan adalah:
apakah rumah sementara akan menjadi “permanen yang dilupakan”?
Sejarah bencana di banyak daerah menunjukkan, rumah sementara sering berubah menjadi ruang tinggal bertahun-tahun tanpa kepastian relokasi. Infrastruktur minim, akses ekonomi terputus, dan komunitas tercerai. Rumah sementara tanpa peta jalan menuju hunian tetap hanyalah penundaan yang dibungkus solusi.

Menunggu Rumah Hunian Tetap: Harapan yang Menggantung
Sebaliknya, menunggu rumah hunian tetap juga bukan pilihan yang mudah. Waktu pembangunan yang panjang, persoalan lahan, anggaran, dan birokrasi membuat korban hidup dalam ketidakpastian berkepanjangan. Menunggu berarti terus tinggal di tenda atau tempat pengungsian, sementara kehidupan terus berjalan.
Korban tidak hanya kehilangan rumah, tetapi juga kehilangan ritme hidup: pekerjaan terganggu, anak-anak tertinggal pelajaran, dan relasi sosial melemah. Dalam konteks Aceh yang religius, penantian ini menjadi ujian iman dan kesabaran—namun kesabaran tidak boleh dijadikan alasan untuk menormalisasi penderitaan.

Ramadhan dan Hari Raya: Dimensi Spiritual yang Terabaikan
Ramadhan bukan sekadar bulan ibadah, ia adalah bulan pemulihan jiwa. Hari Raya bukan sekadar perayaan, ia adalah simbol kembalinya manusia pada fitrah. Ketika korban banjir menjalani dua momentum sakral ini di tenda, negara seharusnya membaca ini bukan sebagai statistik bencana, tetapi sebagai krisis kemanusiaan dan spiritual.

Apakah pantas korban beribadah dalam kondisi yang tidak layak, sementara keputusan administratif berjalan lambat?
Apakah wajar anak-anak mengenal Hari Raya bukan dari aroma dapur rumahnya, tetapi dari antrean bantuan?
Kajian Sosial: Yang Lebih Utama Adalah Mendengar Korban
Dalam menentukan pilihan antara rumah sementara atau menunggu hunian tetap, pendekatan teknokratis saja tidak cukup. Kajian sosial masyarakat korban harus menjadi fondasi utama.
Beberapa prinsip yang seharusnya dipegang:
Partisipasi korban dalam pengambilan keputusan, bukan sekadar penerima kebijakan.

Kejelasan roadmap: jika rumah sementara dipilih, harus ada tenggat waktu dan jaminan menuju hunian tetap.
Pendekatan berbasis komunitas, agar relokasi tidak mematikan jaringan sosial dan ekonomi korban.
Sensitivitas waktu religius, menjadikan Ramadhan dan Hari Raya sebagai batas moral percepatan, bukan sekadar tanggal di kalender.

Refleksi untuk Pemerintah dan Kita Semua
Korban banjir tidak meminta kemewahan. Mereka hanya ingin kepastian. Kepastian untuk kembali hidup normal, kepastian untuk membangun masa depan, kepastian untuk beribadah dan merayakan Hari Raya dengan martabat.

Rumah bukan sekadar bangunan. Ia adalah ruang aman, pusat kehidupan, dan simbol kehadiran negara. Ketika korban terus “menanti tanpa pasti”, sesungguhnya yang diuji bukan hanya kesabaran mereka, tetapi juga kepekaan nurani kita sebagai bangsa.

Menjelang Ramadhan dan Hari Raya, semoga kebijakan tidak lagi berjalan lambat, dan empati tidak berhenti pada kunjungan seremonial. Karena bagi korban banjir, waktu bukan sekadar angka—ia adalah luka yang terus terbuka selama kepastian belum tiba.

Maka pemerintah perlu kajian sosial dalam hal penetapan rumah sementara atau rumah tetap, namun alangkah indah bagi korban hilang rumah hunian sementara sangatlah perlu demi keamanan, kenyamanan dan maslahaan umat, apalagi lansia, Anak anak, dan perempuan maka hak asasi manusia harus terjaga .

Doa Dan harapan semoga yang terbaik semua pihak harus bersatu demi masyarakat korban banjir dan longsor.

Semoga bermanfaat