Notification

×

Iklan

FOTO KEGIATAN

Indeks Berita

Jalan Terjal Lautan Api

Senin, 12 Januari 2026 | 18:48 WIB Last Updated 2026-01-12T11:48:06Z


Ada jalan yang tak dihampari batu, tetapi bara.
Ada langkah yang tak disambut tepuk tangan, melainkan api yang menjilat keyakinan.
Begitulah jalan perubahan—terjal, panas, dan sering kali memaksa manusia memilih: mundur dengan selamat, atau maju dengan luka.
Jalan terjal lautan api bukan sekadar metafora. Ia adalah kenyataan yang dialami mereka yang memilih berpihak pada kebenaran di tengah zaman yang memuja kenyamanan. Ketika kejujuran dianggap ancaman, ketika kritik diperlakukan sebagai pembangkangan, maka api pun dinyalakan—bukan untuk menerangi, tetapi untuk menghanguskan keberanian.
Di negeri ini, dan khususnya di tanah yang sarat sejarah perjuangan, jalan itu berulang kali dilalui. Mereka yang bersuara lantang sering dilabeli pengacau. Mereka yang menolak tunduk pada kepentingan sempit dipaksa berjalan sendirian, melintasi panas stigma dan ancaman. Ironisnya, api sering kali dinyalakan oleh tangan yang mengaku penjaga moral dan kemanusiaan.
Lautan api juga bernama kepura-puraan. Ketika penderitaan rakyat dijadikan panggung pencitraan, ketika bencana diubah menjadi alat politik, di situlah api membakar nurani. Yang tersisa bukan lagi empati, melainkan kalkulasi. Jalan terjal itu semakin menyempit, karena kejujuran tak lagi laku dijual.
Namun sejarah mengajarkan satu hal: tidak ada perubahan lahir dari jalan yang dingin. Setiap kemerdekaan, setiap keadilan, selalu menuntut mereka yang bersedia berjalan di atas bara. Api memang menyakitkan, tetapi ia juga memurnikan. Ia membedakan siapa yang berjalan demi rakyat, dan siapa yang sekadar lewat demi jabatan.
Masalahnya, tidak semua yang terbakar menjadi abu. Ada yang justru menjadi arang—hitam, keras, dan menyimpan dendam. Di sinilah ujian sejati perjuangan: apakah kita tetap menjaga arah, atau membalas api dengan api yang lebih besar.
Jalan terjal lautan api menuntut kesabaran, bukan sekadar keberanian. Menuntut konsistensi, bukan hanya kemarahan sesaat. Sebab mereka yang tiba di ujung jalan bukanlah yang paling lantang berteriak, melainkan yang paling tahan menahan panas tanpa kehilangan nurani.
Pada akhirnya, api akan padam.
Yang tersisa adalah jejak kaki:
apakah ia menuju perbaikan,
atau hanya lingkaran luka yang diwariskan.
Dan sejarah—seperti biasa—tak pernah salah mencatat siapa yang benar-benar berjalan, dan siapa yang sekadar menyalakan api lalu bersembunyi di balik asap.