Waled Nu dan Tumpukan Kayu Banjir: Diam yang Lebih Keras dari Seribu Pidato
Di antara tumpukan kayu kiriman banjir, Waled Nu duduk dalam diam. Tidak berpidato. Tidak mengangkat tangan menuding siapa pun. Hanya duduk—seolah sedang membaca ayat-ayat alam yang tercerai-berai. Kayu-kayu itu bukan sekadar sisa batang pohon; ia adalah jejak dosa ekologis yang dihantarkan air ke hadapan manusia.
Di saat sebagian orang sibuk menghitung kerugian materi, sosok tua itu justru menghadirkan pertanyaan yang lebih dalam: apa yang telah kita lakukan terhadap alam hingga ia berbicara dengan cara seperti ini?
Kayu-Kayu Itu Datang dari Hulu yang Terluka
Banjir tidak datang sendirian. Ia membawa lumpur, batu, dan kayu—banyak kayu. Tumpukan itu bukan hadiah alam, melainkan kiriman dari hulu yang digunduli. Setiap batang yang terseret adalah saksi bisu dari hutan yang ditebang, dari izin yang diteken tanpa nurani, dari pembiaran yang terlalu lama.
Waled Nu duduk di situ, seakan mengingatkan bahwa banjir adalah surat terbuka dari alam. Ia tidak perlu diterjemahkan ke dalam bahasa kebijakan; cukup dibaca dengan kejujuran hati.
Ulama dan Alam: Hubungan yang Kian Dijauhkan
Dalam tradisi Aceh, ulama bukan hanya penjaga ibadah, tetapi juga penjaga keseimbangan. Dulu, hutan dijaga bukan karena undang-undang, tetapi karena takut kepada Tuhan. Kini, hukum ada, tapi rasa takut itu memudar.
Kehadiran Waled Nu di tengah puing kayu banjir mengembalikan ingatan kolektif: bahwa merusak alam adalah pelanggaran etika, bukan sekadar kesalahan teknis. Dan diam seorang ulama kadang lebih tajam daripada khutbah panjang.
Diam yang Menyentil Kekuasaan
Tumpukan kayu itu juga menampar kekuasaan. Sebab banjir bukan semata bencana, tetapi akibat dari keputusan-keputusan yang diambil di ruang ber-AC, jauh dari suara sungai dan tangisan petani.
Waled Nu tidak menyebut nama. Namun kayu-kayu itu sudah cukup untuk menunjuk:
siapa yang membiarkan hutan habis,
siapa yang menutup mata,
dan siapa yang sibuk membangun di hilir, tetapi lupa menjaga hulu.
Rakyat, Ulama, dan Kesabaran yang Diuji
Bagi rakyat kecil, banjir adalah kehilangan berulang. Rumah dibersihkan, sawah ditanami ulang, trauma disimpan sendiri. Di tengah kelelahan itu, sosok ulama seperti Waled Nu menjadi penopang batin—bukan dengan janji bantuan, tetapi dengan kehadiran yang menenangkan.
Namun kesabaran tidak boleh disalahartikan sebagai kepasrahan. Kesabaran adalah energi moral untuk berubah, bukan alasan untuk terus mengulang kesalahan.
Kayu yang Mengajar Kita Berpikir
Waled Nu bangkit dari duduknya, tetapi tumpukan kayu itu tetap tinggal—sebagai pengingat. Bahwa alam tidak pernah kejam tanpa sebab. Bahwa bencana sering kali adalah cermin dari kelalaian manusia.
Jika setelah banjir kita hanya membersihkan rumah tanpa membersihkan kebijakan, maka kayu-kayu itu akan kembali. Mungkin lebih banyak. Mungkin lebih menghancurkan.
Dan saat itu, mungkin tidak ada lagi Waled Nu yang duduk mengingatkan dengan diam.