Notification

×

Iklan

FOTO KEGIATAN

Indeks Berita

Cita-Cita di Persimpangan Layar: Kehidupan Manusia Era Digital dalam Mencari Kerja

Minggu, 22 Februari 2026 | 22:17 WIB Last Updated 2026-02-22T15:22:36Z
Di masa lalu, cita-cita tumbuh dari ruang kelas, papan tulis, dan cerita guru tentang profesi mulia: pegawai negeri, guru, dokter, atau insinyur. Hari ini, cita-cita itu bergeser ke layar—ke gawai di genggaman, ke notifikasi lowongan, dan ke algoritma yang menentukan siapa yang dilihat dan siapa yang terlewat.

Di era digital, mencari kerja bukan lagi soal datang ke kantor dengan map lamaran. Ia telah berubah menjadi proses panjang yang sunyi: mengunggah CV, menunggu email balasan, mengikuti tes daring, lalu kembali menunggu. Dunia kerja kini berjalan di platform, jejaring, dan sistem otomatis.

Salah satu simbol perubahan itu adalah hadirnya platform profesional seperti LinkedIn. Di sana, identitas seseorang tidak hanya ditentukan oleh ijazah, tetapi oleh profil digital, portofolio, rekomendasi, hingga seberapa aktif ia membangun jejaring.
Namun, di sinilah paradoks era digital bekerja.

Teknologi membuka pintu yang lebih luas, tetapi juga memperketat seleksi. Lowongan bisa diakses ribuan orang dalam satu jam. Satu posisi bisa diperebutkan oleh lulusan lokal dan global, oleh profesional berpengalaman dan talenta muda yang sangat terampil secara digital.

Bagi banyak anak muda—termasuk di Aceh dan daerah-daerah lain di luar pusat ekonomi nasional—era digital menghadirkan harapan, sekaligus kecemasan baru.

Cita-Cita yang Tak Lagi Linear
Dulu, jalan hidup relatif lurus: sekolah – kuliah – melamar – bekerja – pensiun.
Kini, jalan itu terpecah menjadi banyak persimpangan
.
Anak muda hari ini tidak lagi hanya bercita-cita menjadi “pegawai”. Mereka ingin menjadi kreator, freelancer, analis data, digital marketer, desainer, pengembang aplikasi, atau pekerja jarak jauh untuk perusahaan luar negeri.
Cita-cita berubah bukan karena mereka tidak realistis, melainkan karena realitas pekerjaan juga berubah.

Pekerjaan tetap (full-time dan jangka panjang) mulai bersaing dengan kerja berbasis proyek. Stabilitas bergeser menjadi fleksibilitas. Kantor bergeser menjadi ruang virtual

Tetapi pertanyaannya sederhana dan sangat manusiawi:
apakah semua orang siap memasuki dunia baru ini?
Ketimpangan Digital dalam Mencari Kerja
Era digital sering dipromosikan sebagai era kesempatan yang setara. Siapa pun bisa melamar kerja dari mana saja.

 Namun kenyataannya, tidak semua orang berangkat dari titik yang sama.
Masih banyak pencari kerja yang:
tidak memiliki perangkat memadai,
akses internet yang terbatas,
kemampuan bahasa asing yang minim,
serta literasi digital yang rendah.

Di sisi lain, perusahaan kini lebih sering mencari kandidat yang siap pakai: menguasai aplikasi, mampu bekerja mandiri, terbiasa berkomunikasi jarak jauh, dan memahami budaya kerja digital.

Ketika sistem rekrutmen menjadi otomatis—menggunakan penyaringan CV berbasis kata kunci—banyak pencari kerja gugur bahkan sebelum dibaca oleh manusia.
Di sinilah cita-cita sering patah bukan karena malas, tetapi karena tidak kompatibel dengan sistem.

Negara, Sistem, dan Tanggung Jawab Moral
Negara tidak boleh hanya menjadi penonton di tengah perubahan ini. Kebijakan ketenagakerjaan harus bergerak secepat transformasi teknologi.

Dalam konteks Indonesia, peran Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia menjadi sangat strategis—bukan hanya menyediakan data pasar kerja, tetapi memastikan bahwa pelatihan digital, peningkatan keterampilan, dan akses informasi kerja menjangkau daerah-daerah yang selama ini tertinggal.
Masalah pengangguran hari ini bukan semata soal kurangnya lowongan, tetapi sering kali soal ketidaksesuaian antara keterampilan dan kebutuhan pasar.

Lebih jauh, dunia juga sedang menghadapi perubahan struktur pekerjaan yang besar. Laporan-laporan global dari lembaga seperti World Economic Forum berulang kali menegaskan bahwa banyak jenis pekerjaan lama akan menyusut, sementara jenis pekerjaan baru bermunculan dengan tuntutan kompetensi yang sangat berbeda.

Artinya, bila negara tidak berinvestasi serius pada peningkatan keterampilan digital, literasi teknologi, dan soft skill generasi muda, maka era digital justru akan memperlebar jurang sosial.

Beban Psikologis Pencari Kerja Digital
Yang jarang dibicarakan adalah beban mental pencari kerja di era digital.
Setiap hari mereka membuka ponsel, memeriksa email, menunggu balasan.
Setiap hari pula mereka melihat unggahan orang lain yang sudah “diterima kerja”, “naik jabatan”, atau “kerja remote dengan gaji dolar”.

Algoritma media sosial secara tidak sadar membentuk standar sukses baru—cepat, terlihat, dan terpublikasi.
Banyak anak muda mulai mempertanyakan harga dirinya bukan dari usaha, tetapi dari respons sistem digital:
apakah CV dibuka, apakah email dibalas, apakah akun profesional dilihat.
Kegagalan tidak lagi datang dalam bentuk surat penolakan, tetapi dalam bentuk keheningan.

Dari Pencari Kerja Menjadi Pencipta Kerja
Namun, di balik kerasnya sistem, era digital juga menyimpan peluang yang tidak pernah ada sebelumnya.
Hari ini, seseorang di desa bisa menjual jasanya ke luar negeri.
Seorang pemuda bisa membangun usaha dari media sosial.

Seorang ibu rumah tangga bisa menjadi pekerja digital paruh waktu.
Masalahnya bukan apakah peluang itu ada, melainkan apakah masyarakat dipersiapkan untuk mengaksesnya.
Cita-cita generasi hari ini seharusnya tidak hanya diarahkan untuk menjadi “diterima bekerja”, tetapi juga untuk menjadi pencipta nilai—mencipta jasa, produk, dan solusi.

Cita-Cita yang Perlu Dilindungi
Kehidupan manusia di era digital dalam mencari kerja tidak hanya soal teknologi. Ia adalah soal martabat.

Teknologi boleh mengubah cara melamar, cara bekerja, dan cara berkomunikasi. Tetapi manusia tetap membutuhkan satu hal yang sama sejak dulu: harapan bahwa kerja adalah jalan hidup yang bermakna.
Di tengah sistem digital yang dingin dan otomatis, cita-cita manusia tidak boleh ikut menjadi angka statistik.

Negara, kampus, sekolah, dan masyarakat harus berdiri di sisi para pencari kerja—bukan sekadar mengajarkan cara mengisi formulir daring, tetapi membangun keberanian, keterampilan, dan daya tahan mental generasi yang sedang berjuang mencari tempatnya di dunia yang terus berubah.
Sebab pada akhirnya, layar hanyalah alat.
Yang menentukan masa depan adalah manusia di baliknya.