Banjir datang bukan sekadar membawa air. Ia datang membawa duka, kehilangan, dan luka yang tidak terlihat oleh mata. Rumah yang hanyut, harta yang hilang, bahkan harapan yang perlahan tenggelam dalam genangan. Namun, di tengah penderitaan itu, ada satu hal yang lebih menyakitkan dari banjir itu sendiri: mata hati yang buta.
Buta bukan karena tidak melihat. Tapi karena memilih untuk tidak peduli.
Hari ini, ketika korban banjir masih bertahan di tenda pengungsian, masih berjuang mendapatkan makanan, masih memikirkan masa depan anak-anak mereka, justru muncul para buzzer yang sibuk membangun narasi. Narasi yang jauh dari empati. Narasi yang lebih fokus pada pembelaan, bukan pada penderitaan.
Buzzer bukanlah masalah jika mereka membawa solusi. Namun yang menjadi persoalan adalah ketika buzzer berubah menjadi alat pembenaran. Ketika fakta penderitaan dianggap sebagai serangan. Ketika kritik dianggap sebagai kebencian. Dan ketika suara rakyat dianggap sebagai gangguan.
Inilah yang disebut mata hati yang buta.
Korban banjir tidak membutuhkan pembelaan kosong. Mereka membutuhkan bantuan nyata. Mereka tidak membutuhkan narasi indah. Mereka membutuhkan hunian yang layak. Mereka tidak membutuhkan pujian bagi pemimpin. Mereka membutuhkan perhatian bagi kehidupan mereka.
Namun ironisnya, sebagian buzzer justru sibuk memoles keadaan. Mereka mengatakan semuanya sudah baik. Mereka menyebut pemerintah sudah maksimal. Mereka menganggap kritik sebagai bentuk kebencian. Padahal, kritik adalah bentuk kepedulian.
Jika mata hati masih hidup, seharusnya buzzer mampu merasakan penderitaan itu. Seharusnya mereka melihat anak-anak yang tidur di tenda darurat. Seharusnya mereka mendengar tangisan ibu yang kehilangan rumah. Seharusnya mereka memahami kegelisahan ayah yang tidak tahu harus memulai dari mana.
Tapi ketika kepentingan lebih besar dari kemanusiaan, maka empati pun hilang.
Buzzer yang tidak peduli korban banjir sesungguhnya sedang memperlihatkan satu hal: bahwa suara mereka bukan untuk rakyat, tetapi untuk kepentingan. Dan ketika kepentingan menjadi tujuan, maka kebenaran sering kali dikorbankan.
Dalam situasi bencana, yang dibutuhkan bukanlah pembelaan, tetapi kebersamaan. Yang diperlukan bukanlah propaganda, tetapi solusi. Dan yang paling penting, yang dibutuhkan adalah hati nurani.
Banjir mungkin akan surut. Air akan kembali ke sungai. Lumpur akan mengering. Namun luka di hati korban tidak akan hilang begitu saja. Mereka akan mengingat siapa yang hadir dan siapa yang hanya berbicara.
Sejarah selalu mencatat bukan hanya siapa yang berkuasa, tetapi siapa yang peduli.
Karena pada akhirnya, bukan banjir yang paling menyakitkan, tetapi sikap manusia yang kehilangan rasa kemanusiaan.
Dan ketika mata hati sudah buta, maka suara nurani pun akan hilang.