Notification

×

Iklan

FOTO KEGIATAN

Indeks Berita

Nasihat Ayah yang Hilang

Selasa, 31 Maret 2026 | 01:48 WIB Last Updated 2026-03-30T18:48:14Z

Dulu, nasihat ayah sering terdengar sederhana. Tidak panjang, tidak puitis, bahkan terkadang terasa keras. Namun di balik kesederhanaan itu, tersimpan pengalaman hidup yang tidak bisa diajarkan oleh sekolah mana pun.
Ayah sering berkata, “Hidup jangan terlalu tinggi, nanti jatuh sakit.”

Atau, “Jangan lupa asalmu, karena yang lupa asal akan kehilangan arah.”
Dulu, kita menganggap itu hanya kata-kata biasa. Kita lebih percaya pada dunia luar, pada teman, pada ambisi, bahkan pada ego sendiri. Nasihat ayah perlahan menjadi suara yang semakin jarang didengar. Hingga suatu hari, ayah tidak lagi ada.

Barulah kita sadar, nasihat yang dulu terdengar sederhana ternyata adalah peta kehidupan. Saat kita jatuh, kita teringat kata-katanya. Saat kita tersesat, kita merindukan arah yang pernah ia tunjukkan. Namun semuanya terasa terlambat.

Kini, banyak anak tumbuh tanpa mendengar nasihat ayah, bukan karena ayah telah tiada, tetapi karena nasihat itu sudah kalah oleh kesibukan, teknologi, dan jarak emosional. Ayah masih ada, tetapi suara kebijaksanaannya hilang di tengah hiruk-pikuk dunia modern.

Padahal, ayah tidak selalu pandai mengungkapkan perasaan. Ia jarang berkata sayang, jarang memeluk, dan jarang menunjukkan kelembutan. Namun, nasihatnya adalah bentuk cinta yang paling jujur. Cinta yang ingin melihat anaknya kuat menghadapi kehidupan.
Nasihat ayah yang hilang bukan hanya kehilangan suara, tetapi kehilangan arah. Karena seorang ayah tidak hanya memberi nafkah, tetapi juga memberi nilai hidup, keberanian, dan keteguhan.

Selagi ayah masih ada, dengarkan nasihatnya.
Karena ketika ayah sudah tiada, yang tersisa hanya kenangan…
dan penyesalan yang tak bisa diulang.