Notification

×

Iklan

FOTO KEGIATAN

Indeks Berita

Ayah Pergi Demi Istri Muda, Ibu Sakit dalam Derita Tanpa Kerja

Minggu, 12 April 2026 | 01:02 WIB Last Updated 2026-04-11T18:04:19Z


Opini Sedih Anak Korban Perceraian
Ada luka yang tidak terlihat, tetapi terasa sepanjang hidup. Luka itu adalah ketika seorang ayah memilih pergi demi istri muda, meninggalkan anak-anaknya bersama ibu yang sakit dan tanpa pekerjaan. Di saat anak-anak masih membutuhkan kasih sayang, perlindungan, dan perhatian, justru mereka harus belajar memahami kenyataan pahit: keluarga mereka telah retak, dan masa depan terasa semakin gelap.

Anak-anak korban perceraian sering menjadi pihak yang paling menderita. Mereka tidak punya pilihan, tidak punya suara, dan tidak punya kekuatan untuk menahan keputusan orang tuanya. Mereka hanya bisa diam, menatap pintu rumah yang dulu selalu terbuka untuk ayah, kini hanya menjadi kenangan.

Ayah yang dulu menjadi sandaran kini pergi tanpa menoleh. Ia sibuk dengan kehidupan baru, dengan istri muda, dengan harapan baru. Namun di sisi lain, ibu terbaring sakit, menahan derita tanpa pekerjaan, tanpa penghasilan, dan tanpa kekuatan untuk bangkit. Anak-anak menjadi saksi bisu penderitaan itu.

Setiap hari mereka melihat ibu berjuang melawan sakitnya. Tidak jarang mereka melihat ibu menangis diam-diam di sudut rumah. Bukan hanya karena sakit fisik, tetapi karena beban hidup yang begitu berat. Ibu harus memikirkan makan, biaya sekolah, dan kebutuhan sehari-hari, sementara tenaga semakin melemah.

Anak-anak dalam situasi ini tumbuh lebih cepat dari usia mereka. Mereka belajar memahami kesedihan sebelum memahami kebahagiaan. Mereka belajar bertahan sebelum sempat merasakan masa kecil yang utuh. Bahkan sebagian dari mereka harus membantu mencari nafkah, meninggalkan waktu bermain dan belajar.

Yang lebih menyakitkan adalah ketika lingkungan sekitar mulai menjauh. Tidak semua orang peduli pada penderitaan anak korban perceraian. Sebagian hanya melihat mereka sebagai keluarga yang gagal. Padahal, mereka adalah korban dari keputusan orang dewasa yang mungkin tidak memikirkan dampaknya secara panjang.

Ayah mungkin bahagia dengan kehidupan baru. Namun pernahkah ia memikirkan anak-anaknya? Pernahkah ia membayangkan anak-anaknya tidur dengan perut kosong? Pernahkah ia memikirkan ibu mereka yang sakit tanpa biaya berobat?

Anak-anak tidak meminta harta. Mereka hanya meminta perhatian. Mereka tidak meminta kemewahan. Mereka hanya ingin ayah tetap hadir, meski tidak lagi bersama ibu.

Perceraian memang kadang menjadi jalan terbaik bagi orang tua. Namun jangan sampai perceraian menjadi awal penderitaan bagi anak-anak. Ayah tetaplah ayah. Tanggung jawab tidak pernah berakhir meski rumah tangga telah berpisah.

Anak-anak korban perceraian tidak butuh janji, mereka butuh bukti. Mereka ingin ayah tetap datang, menanyakan kabar, membantu kebutuhan, dan memberi rasa aman. Karena bagi mereka, kehilangan ayah bukan hanya kehilangan sosok, tetapi kehilangan harapan.

Di rumah sederhana itu, seorang ibu yang sakit masih berusaha tersenyum untuk anak-anaknya. Ia menahan rasa sakit agar anak-anaknya tetap kuat. Ia mencoba menjadi ayah sekaligus ibu, meski tubuhnya semakin lemah.

Sementara anak-anak hanya bisa berdoa dalam diam:
"Ayah, jika engkau bahagia dengan pilihanmu, kami tidak melarang. Tapi jangan lupakan kami. Ibu sakit, dan kami masih membutuhkanmu." 😢

Inilah rintihan hati anak korban perceraian.
Sunyi, tetapi penuh luka.
Diam, tetapi menyimpan tangis.
Dan berharap, suatu hari ayah kembali menoleh, meski hanya untuk memastikan bahwa anak-anaknya masih baik-baik saja.