Notification

×

Iklan

FOTO KEGIATAN

Indeks Berita

Emas Diburu, Hutan Dirusak, Masyarakat Menjadi Penonton: Selamatkah Aceh

Kamis, 25 Juni 2026 | 00:30 WIB Last Updated 2026-06-24T17:31:05Z

Aceh adalah tanah yang kaya. Di perut buminya tersimpan emas, gas, dan berbagai sumber daya alam yang nilainya mencapai triliunan rupiah. Namun sejarah sering mengajarkan bahwa kekayaan alam tidak selalu berbanding lurus dengan kesejahteraan rakyat. Bahkan tidak jarang, kekayaan itu justru menjadi awal dari konflik, ketimpangan, dan kerusakan lingkungan.

Hari ini, ketika isu eksploitasi tambang kembali menghangat, muncul pertanyaan yang patut direnungkan: siapa yang sebenarnya menikmati kekayaan Aceh?


Ketika emas diburu besar-besaran, hutan-hutan yang selama ini menjadi benteng kehidupan mulai terancam. Pohon ditebang, bukit dibelah, sungai tercemar, dan habitat satwa perlahan menghilang. Kerusakan yang terjadi mungkin memberikan keuntungan sesaat, tetapi meninggalkan beban panjang bagi generasi yang akan datang.

Yang lebih menyedihkan, di tengah aktivitas ekonomi yang begitu besar, sebagian masyarakat lokal hanya menjadi penonton. Mereka melihat alat berat bekerja siang dan malam, menyaksikan hasil bumi diangkut keluar daerah, tetapi kesempatan kerja yang layak justru lebih banyak dinikmati oleh tenaga kerja dari luar. Rakyat sekitar sering kali hanya memperoleh debu, kebisingan, dan risiko bencana lingkungan.

Aceh pernah mengalami konflik panjang yang menguras tenaga dan air mata. Salah satu akar persoalan yang sering dibicarakan adalah ketidakadilan dalam pengelolaan sumber daya alam. Karena itu, pengelolaan kekayaan alam harus dilakukan dengan hati-hati agar tidak melahirkan rasa ketidakpuasan baru di tengah masyarakat.

Pembangunan tidak boleh hanya diukur dari berapa ton emas yang dihasilkan atau berapa besar investasi yang masuk. Pembangunan harus diukur dari seberapa besar manfaat yang dirasakan rakyat, seberapa banyak anak muda Aceh yang mendapat pekerjaan, dan seberapa baik lingkungan tetap terjaga.

Jangan sampai Aceh mengulangi ironi lama: tanahnya kaya, tetapi rakyatnya tertinggal. Hutannya luas, tetapi bencananya semakin sering. Sumber dayanya melimpah, tetapi kesejahteraan masyarakat tidak kunjung merata.

Pemerintah, perusahaan, tokoh masyarakat, akademisi, dan seluruh elemen rakyat Aceh harus duduk bersama memastikan bahwa kekayaan alam benar-benar menjadi berkah, bukan sumber perpecahan. Transparansi, keadilan distribusi manfaat, perlindungan lingkungan, dan prioritas tenaga kerja lokal harus menjadi prinsip utama.

Aceh tidak membutuhkan konflik baru. Aceh membutuhkan keadilan baru.

Sebab jika emas terus diburu, hutan terus dirusak, dan masyarakat hanya menjadi penonton di tanahnya sendiri, maka yang hilang bukan hanya kekayaan alam, tetapi juga harapan rakyat terhadap masa depan.
Selamatkan Aceh bukan hanya dari kemiskinan, tetapi juga dari keserakahan yang mengorbankan hutan, lingkungan, dan hak generasi mendatang.