-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Menjadi Pemimpin Yang Baik Dalam Bingkai Al-Quran & Hadits

Saturday, November 28, 2020 | 18:12 WIB Last Updated 2020-11-28T11:12:38Z



Setiap insan pasti membawa predikat sebagai pemimpin, baik dalam tingkatan tertinggi (yaitu mereka yang memimpin umat/negara) maupun tingkatan yang paling rendah, yaitu pemimpin bagi dirinya sendiri. Islam sendiri adalah yang memiliki tatanan yang sangat komprehensif, islam datang memberi perhatian penuh terhadap masalah kepemimpinan. Perhatian islam terhadap masalah kepemimpinan ini, antara lain dapat dijumpai penjelasannya di dalam Al-Quran, Al-Hadits, pendapat para filosof, maupun sejarah islam.

Disebutkan dalam Al-Quran surah ke-4 (An-nisa) ayat 59, Allah swt berfriman : "Wahai orang-orang yang beriman ta'atilah Allah dan Rasul-Nya dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya". (Q.S an-Nisa' 4:59)

Pada ayat tersebut terdapat dua unsur kepemimpinan. Yaitu unsur istilah kepemimpinan dengan menggunakan istilah Ulil Amri yang secara harfiah berarti orang yang mengusai urusan, Imam al-Maraghy menafsirkan Ulil Amri kepada dua bagian, yaitu Ulil Amri fi al-din yang disebut ulama, dan Ulil al-amfi di al-daulah, yaitu kepala negara ; dan unsur kepatuhan rakyat terhadap kepemimpinan. Yaitu bahwa taat kepada pemimpin itu hukumnya mubah, yakni boleh diikuti sepanjang pemimpin tersebut masih berpegang teguh kepada Al-Quran dan as-Sunnah, sedangkan jika tidak berpegang kepada Al-Quran dan as-Sunnah, maka pemimpin tersebut boleh untuk tidak dita'ati. Ketentuan ini dapat dipahami dalam ayat tersebut yang tidak menyebutkan kalimat athi'u di depan kosakata Ulil Amri. Hal ini berbeda dengan mentaati Allah dan Rasul-nya yang didahului oleh kalimat athi'u (taatilah). Hal ini sejalan dengan hadits Rasulullah Saw riwayat Imam Muslim yang menyatakan : bahwa mendengarkan dan mentaati pemimpin itu selama tidak memerintah kemaksiatan, dan jika ia menyuruh berbuat maksiat, maka tidak wajib dita'ati.

Disisi lain jika kita telusuri di dalam aspek kehidupan. Tidak sedikit rakyat yang tidak setuju dari atas pernyataan, permasalahan dan persepsi yang dikeluarkan oleh pemimpinnya. Hal ini dipicu dalam berbagai permasalahan problematika kehidupan, baik dalam aspek sosial, pendidikan, politik, ekonomi maupun lainnya.

Dari hal inilah kita sadar, bahwa setiap orang itu memilki jiwa leadership  yang berarti kepemimpinan. Kepimimpinan bagaimana kita melaksanakan yang arahan yang tugas yang diberikan dalam mengatur kewenangan dalam kehidupan. Sama juga seperti diri kita sendiri yang mana diri kita sendiri bisa mengatur sistematika kepemimpinan ke arah mana yang dituju. Dalam konteks ini, peranan penting dalam diri seseorang itu adalah memimpin dalam segi aspek apapun yang dijalalakan. Misalnya, seorang mahasiwa/pelajar apabila diberi sebuah kepercayaan dalam berorganisasi, dia diberi amanah sebagai ketua organisasi, maka dia harus bertanggung jawab dengan baik terkait apa yang dipimpinnya. Seorang suami dia harus tau bagaimana segi kepimpinannya dalam membina rumah tangga, agar rumah tangga tersebut menjadi keluarga yang sakinah mawaddah warahmah. Seorang kepala negara juga dia harus tau bagaimana dia harus menjalankan tugasnya dengan baik  untuk memimpin rakyatnya. Semua ini merupakan landasan kepemimpinan yang tercemin dari diri seseorang.

Namun didalam landasan kepemimpinan ini, bagaimana karakter seorang pemimpin yang baik itu dapat menjadi contoh teladan bagi semua orang? Sehingga dianya seorang pemimpin dapat menjadi pemimpin yang layaknya seperti mutiara besinar putih yang bisa membawa perubahan ke arah lebih sukses dalam semua aspek kehidupan? Disini perlu kita garis bawahi bahwa seorang pemimpin yang bisa membawa arah perubahan ke arah yang baik, adalah pemimpin yang memiliki karakter : 

 √ Siddiq, yang berarti jujur dalam perkataan dan perbuatan. 
 √ Amanah yang berarti berarti dapat dipercaya dalam menjaga tanggung jawab.
 √ Tabligh yang berarti menyampaikan segala macam kebaikan kepada yang dipimpinnya dan
√ Fathonah yang berarti cerdas dalam mengelola suatu permasalahan. 

4 karakter pemimpin inilah yang harus dan wajib kita (pemimpin) terapkan dalam segala aspek kehidupan. Sebagaimana Nabi kita Muhammad Saw beliau adalah suri tauladan bagi setiap orang, karena dalam diri beliau hanya ada kebaikan, kebaikan dan kebaikan. Hal ini sejalan dengan firman Allah Swt dalam Al-Qur’an: “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah”. (QS Al-Ahzab:21).

Sebagai pemimpin yang teladan, serta menjadi model ideal pemimpin, Rasulullah dikaruniai empat sifat utama, yaitu: Siddiq, Amanah, Tablig dan Fathonah. Seperti yang telah penulis sebutkan di atas. 4 karakteristik ini adalah yang selalu melekat pada dri beliau Rasulullah Saw, Sehingga dengan 4 karakter tersebut, diri Rasulullah Saw bisa meraih kesuksesan dalam semua lini kehidupan yang dipimpinnya, baik sukses dari segi menjadi kepala rumah tangga/seorang suami, dari segi militer yaitu sukses sebagai seorang komandan atau panglima perang, dan dari segi bisnis beliau juga sukses sebagai seorang pedagang. Dan masih banyak lagi kesuksesan yang beliau raih.

Ini menunjukkan bahwa, dengan kita mencotohkan 4  karakter seperti Nabi kita Rasulullah Saw, yaitu Siddiq, Amanah, Tabligh dan Fathonah, insya allah kita akan menjadi seorang pemimpin yang baik dan sukses dalam segala aspek kehidupan ini. Dengan kita menerapkan karakter tersebut, kita selalu tenang dalam mejalankan tugas kita, tidak ada rasa khawatir terhadap diri kita sendiri dalam mengemban sebuah amanah yang diberikan.

4 karakter Rasulullah Saw inilah yang harus kita (pemimpin) menjadi pegangan kita dan kita terapkan sebagai pemimpin. Sebab, apabila tidak ada karakteristik tersebut dalam diri pemimpin, maka dia adalah bukan pemimpin teladan bagi semua orang.

Maka dari itu, penulis mengajak kita semua pembaca agar kita menjadi seorang diri (pemimpin) yang memiliki 4 karakter tersebut, supaya dalam kehidupan ini,  kita bisa menuntun  ke jalan sukses dunia akhirat.



Penulis 📝
 Muhammad Haikal A.Kadir M.Yusuf
(Mahasiswa UIN-Arraniry Banda Aceh)
FK.Ushuluddin & Filsafat / Ilmu Al-Quran & Tafsir Angkatan 2019

Ingin informasi lebih akrab, bersahabat, dan silahturahim/silahturahmi dengan penulis,
Silahkan menjalin persaudaraan melalui :

WhatApps/Telegram : 0822-1701-6725
Instagram                    : @muhammad.haikal
Facebook                     : Muhammad Haikal
Twitter                          : @MHaikall
Line                               : haikaljm3
×
Berita Terbaru Update