-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

OPERASI BUJUK DAN SHOCK TERAPY

Friday, March 26, 2021 | 13:56 WIB Last Updated 2021-03-26T06:56:23Z
Menurut Isa Sulaiman,ada sebanyak 286 orang mendarat di berbagai tempat disepanjang pantai Malaysia,antara tanggal 15 Maret s/ 5 September 1991. 

Tentunya tidak semuanya mereka adalah orang GAM, tetapi yang pasti adalah mereka semuanya tidak tahan dan/atau takut kepada kekejaman operasi apkam
di Aceh yang tidak pilih bulu. 

Banyaknya pendatang illegal (haram) dari Aceh ke Malaysia itu,telah menimbulkan masalah tersendiri dalam hubungan diplomatik Indonesi–Malaysia walaupun kemudian masalah tersebut dapat diselesaikan dengan baik. 

Sebagian dari mereka kemudian berhasil “dibujuk” untuk dipulangkan kembali ke
Aceh melalui apa yang disebut sebagai “operasi bujuk” yang digelar pada akhir tahun1991. 

Sebagian dari mereka selamat sampai di Aceh, namun sebagian ada pula yang
hilang di tengah jalan,atau tepatnya di tengah laut.Namun, Musanna, putranya A.Wahab Umar Tiro. Iklil Iyas Leube, Said A. Hanan Adami, Yusra Habib Gani, dan lain lain sebanyak 43 orang, menerobos masuk halaman kantor UNHCR (United Nations High Commisioner of Refugees) di Kuala Lumpur, pada tanggal 22 Juni 1992, untuk meminta status pengungsi (refugee). 

Setelah itu bebas-lah bagi mereka untuk menetap di negara mana yang dipilihnya. Sementara itu, ada pula orang GAM yang tidak bernasib baik, mereka tetap berada di Aceh, dan terus berjuang sambil dikejar-kejar oleh apkam RI, sampai ke pucuk-pucuk gunung dan ke rawa-rawa dipantai, siang-malam, sehinga banyak pula di antara mereka yang tewas, seperti: Iskandar di Langsa, Amin Nafi di Pidie, Imum Hamzah di Batei Iliek, Yusuf AB di Matang Keusijuek, Yusuf Ali di Krueng Guci, dan sebagainya, atau
tertangkap seperti T. M. Said, Ir.Linggadiansyah, dan sebagainya. 

Namun GAM tentunya, sangat sadar bahwa semuanya tersebut adalah resiko atau harga yang harus dibayar oleh suatu perjuangan, yang akan dipikul/diterima oleh siapa pun,apalagi untuk suatu perjuangan yang diyakini oleh GAM sebagai suatu perjuangan besar.
Adalah wajar menurut masya-rakat, jika resiko dari operasi apkam tersebut diterima secara proporsional oleh GAM, sebagai pihak yang terlibat langsung dalam suatu konflik besar. 

Demikian juga halnya, adalah wajar, jika ada akibat konflik yang diterima
oleh apkam RI. Tetapi yang tidak dapat diterima oleh masyarakat dan oleh fikiran sehat, adalah mengapa rakyat yang tak terlibat langsung sebagai pihak dalam konflik atau orang orang yang tak berdosa, orang-orang sipil, termasuk anak-anak dan kaum perempuan
yang tidak tahu menahu, menerima akibat buruk dari kekerasan dan kekejaman Operasi Militer tersebut. 

DOM. kenyataannya tidak hanya mengatasi,menekan dan mengeliminir gerakan atau pasukan dan orang-orang GAM, tetapi juga banyak,dan menurut sementara laporan, bahkan lebih banyak tertuju kepada rakyat biasa yang
bukan GAM. 

Walaupun hal itu dikategorikan oleh aparat keamanan,sebagai akibat
sampingan dari suatu operasi militer, namun nyata-nya terjadi terus menerus dan semakin meluas, tanpa perbaikan yang berarti, betapapun dikritik keras oleh banyak pihak. 

Oleh karenanya, akhirnya terbentuklah citra, DOM adalah kekejaman dan
kekasaran/kebrutalan/ penyiksaan terhadap rakyat sipil, yang kesemuanya adalah pelanggaran HAM berat. 

Sudah barang tentu, Pemerintah atau pimpinan instansi keamanan, mengatakan bahwa itu bukanlah kebijakan yang disengaja, tetapi lebih
merupakan ekses. Kalaupun ada yang disengaja, hanya lah berupa shock teraphy semata. 

Tetapi masyarakat tentu dapat menilai, masa iya suatu shock teraphy berlangsung selama 9 tahun secara terus-menerus dan merata diseluruh Aceh.


(DR Yusra Habib Abdul Ghani  bersama Alm Wali Nanggro H.Hasan ditiro)

Sumber  fecebook adi fa