-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

TEUKU BUJANG SALIM ULE BALANG NISAM

Friday, May 7, 2021 | 17:07 WIB Last Updated 2021-05-11T14:35:45Z
Bujang Salim ditunjuk menjabat Zelfbstuurdier Nanggroe Nisam sampai 1920. Karena aktif dalam bidang politik menentang kolonial Belanda kemudian memecat Bujang Salim dan diasingkan ke Meulaboh, 8 Februari 1921.

Kemudian dari Meulaboh Pada 21 April 1922, Beliau dibuang ke Meurauke, Papua. Di sana, Bujang Salim juga berkutat dengan aktivitas pendidikan dan keagamaan, kegiatan yang  bertentangan dengan perpolitikan Belanda ketika itu. Akibatnya, ia dibuang ke daerah Tanah Merah, Digul, Papua, 5 April 1935.

Di masa serbuan Jepang, Bujang Salim diungsikan ke hutan Bijan, 11 Mei 1942, kemudian dikembalikan ke Meurauke. Pada 3 November 1942, ia  dibawa lagi ke Tanah Merah.

Pertengahan 1943, atas anjuran Van Der Plas, pemerintahan interniran Belanda mengangkut semua orang buangan untuk diungsikan ke Australia, termasuk Bujang Salim. Akhir 1945, pemerintah interniran Belanda memerdekakan orang-orang buangan tersebut dan dijanjikan akan dipulangkan ke tempat asal masing-masing. Pada 7 Oktober 1946, Bujang Salim dan rombongan eks-buangan diberangkatkan dengan kapal barang tentara sekutu, tiba di Jakarta, 14 Oktober 1946.

Bujang Salim dimasukkan ke kamp Chause Complex. Satu bulan kemudian, anggota rombongan lainnya diberangkatkan ke Cirebon dan diserahkan pada Pemerintah Indonesia. Bujang Salim, karena anaknya sakit keras, tidak  diberangkatkan sampai empat bulan lamanya.

Bujang Salim kemudian berhubungan sendiri dengan Pemerintah Indonesia di Pegangsaan Timur dan dibolehkan berangkat ke Purwokerto. Pada 15 Februari 1947 oleh Kementerian Dalam Negeri di Purwokerto, ia dipekerjakan sementara menunggu kapal yang berangkat dari Cilacap menuju Sumatera. Karena Agresi I Belanda, 31 Juli 1947, ia dan keluarga terpaksa mengungsi ke lereng-lereng Gunung Slamet, Jawa Tengah, selama enam bulan.

Maret 1948, ia ditangkap oleh pasukan patroli Belanda dan ditahan untuk pemeriksaan. Dua hari setelah itu ia dilepas dengan dasar janji Belanda di Australia dulu, ia dibawa ke Medan, tiba pada 20 April 1948.

Pada Februari 1950 dengan bantuan Gubernur Aceh ketika itu, Bujang Salim diberangkatkan ke Kutaradja. Lalu, 31 Juli 1950 ia pulang ke Krueng Geukuh yang saat itu berada dalam Nanggroe Nisam. Bujang Salim akhirnya meninggal dunia, 14 Januari 1959.

Foto Teuku Bujang bin Teuku Rhi Mahmud (1891-1959).dan tugu teuku bujang