Notification

×

Iklan

FOTO KEGIATAN

Indeks Berita

Abu Kuta Krueng: Teladan Ulama Karismatik dan Penerang di Bumi Serambi Mekkah

Sabtu, 31 Mei 2025 | 11:45 WIB Last Updated 2025-05-31T04:45:36Z


Oleh:  Azhari 

Aceh, sejak berabad-abad silam, dikenal sebagai bumi para ulama, tempat berseminya ilmu, dan rumah bagi nilai-nilai Islam yang terjaga dalam pusara adat serta syariat. Di antara deretan ulama besar yang lahir dari tanah ini, satu nama yang patut ditoreh dalam catatan sejarah Aceh modern adalah Tgk. H. Usman bin Tgk. Ali, atau yang lebih akrab disapa Abu Kuta Krueng.

Lahir di Kuta Krueng, Pidie Jaya pada 31 Desember 1935, Abu Kuta Krueng telah menunjukkan bakat keulamaan sejak usia muda. Selepas menamatkan pendidikan Sekolah Rakyat (SR), beliau memutuskan untuk melanjutkan pengembaraan ilmunya di salah satu dayah paling berpengaruh di Aceh, yakni Dayah Ma’hadal Ulum Diniyyah Islamiyyah (MUDI) Mesra Samalanga – Bireuen. Di sanalah kepribadian seorang ulama mulai terasah: dari keikhlasan dalam menuntut ilmu, ketaatan kepada guru, hingga kecepatan dalam menyerap pengetahuan agama.

Menghormati Guru, Memuliakan Ilmu

Dalam tradisi dayah Aceh, ada satu pesan yang tak pernah usang: “Ilmu takkan berkah tanpa adab kepada guru.” Nilai ini dipegang teguh oleh Abu Kuta Krueng sepanjang hidupnya. Beliau meyakini bahwa ilmu agama bukan semata soal hafalan kitab atau debat dalil, melainkan pancaran keberkatan dari sikap hormat kepada mereka yang telah mengajarkan hikmah kehidupan.

Keyakinan ini tak sekadar menjadi teori, melainkan dipraktekkan Abu Kuta Krueng dalam kesehariannya di dayah. Ia dikenal santun, rendah hati, dan selalu mendahulukan adab ketimbang ambisi. Tak heran bila sekembalinya dari MUDI Mesra, beliau berhasil mendirikan Dayah Darul Munawwarah di kampung halamannya, yang hingga kini menjadi salah satu pusat pendidikan agama terkemuka di Pidie Jaya.

Menghidupkan Tradisi Ilmu dan Dakwah

Kehadiran Abu Kuta Krueng bukan sekadar menambah jumlah dayah di Aceh. Beliau hadir sebagai penerang, membangkitkan gairah masyarakat terhadap ilmu dan ibadah. Di tengah hiruk-pikuk dunia modern yang perlahan menjauhkan manusia dari nilai-nilai ruhani, Abu Kuta Krueng selalu tampil dengan dakwah yang menyejukkan. Nasihat-nasihatnya bukan hanya soal hukum fikih, tapi juga tentang akhlak, moral, dan keseimbangan antara dunia dan akhirat.

Dalam satu kesempatan khutbah Jumat di Masjid Imum Syafi’i Desa Teupin Kupula, Jeunib, Abu Kuta Krueng mengingatkan:
"Umat Islam jangan terlalu sibuk dengan urusan dunia hingga melupakan urusan akhirat. Ramadan bukan semata-mata tentang menahan lapar dan haus, tapi tentang mendekatkan diri kepada Allah. Kalau kita terus disibukkan dengan pekerjaan tanpa henti, maka tujuan Ramadan itu akan gagal."

Pernyataan ini terasa relevan dalam situasi umat hari ini. Kita berada di era di mana aktivitas duniawi begitu mendominasi, sementara urusan akhirat kerap dinomorduakan. Umat Islam disibukkan dengan pekerjaan, urusan bisnis, politik, bahkan hiburan yang tak jarang melalaikan. Di tengah situasi seperti inilah peran ulama seperti Abu Kuta Krueng menjadi sangat vital: sebagai penjaga keseimbangan hidup umat.

Ulama Sebagai Pelita Umat

Ketokohan Abu Kuta Krueng juga mempertegas posisi ulama sebagai pelita dalam kehidupan masyarakat Aceh. Aceh boleh bangga dengan statusnya sebagai Serambi Mekkah, namun gelar itu bukan semata untuk dibanggakan, melainkan untuk dijaga dengan ilmu, akhlak, dan dakwah yang konsisten. Ulama bukan sekadar pewaris kitab-kitab kuning, tapi pewaris nilai-nilai profetik yang membimbing umat menuju keselamatan dunia dan akhirat.

Dalam konteks sosial-politik Aceh, Abu Kuta Krueng termasuk ulama yang menempatkan agama di atas segalanya. Beliau tidak larut dalam tarik-menarik politik praktis, melainkan menjaga marwah ulama agar tetap menjadi suara moral di tengah masyarakat. Pesan-pesan beliau tentang pentingnya ketulusan, keadilan, dan keseimbangan hidup kerap menjadi rujukan moral bagi banyak pihak.

Refleksi untuk Generasi Aceh

Kita, generasi Aceh hari ini, perlu belajar dari keteladanan Abu Kuta Krueng. Di tengah zaman yang serba cepat dan materialistik, kita harus kembali memuliakan ulama, mencintai ilmu, dan menyeimbangkan antara dunia dan akhirat. Dayah bukan sekadar tempat belajar agama, tapi benteng peradaban yang selama ini menjadi ruh Aceh.

Kita juga patut bercermin: apakah selama ini kita terlalu sibuk dengan dunia hingga melupakan urusan akhirat? Apakah Ramadan hanya sebatas ritual tahunan tanpa makna ruhani? Di sini letak pentingnya kehadiran ulama seperti Abu Kuta Krueng — bukan sekadar untuk memberi fatwa halal-haram, tapi untuk menuntun hati, menjaga moral, dan membangunkan kesadaran umat.

Abu Kuta Krueng telah menorehkan jejak emas dalam sejarah pendidikan dan dakwah Aceh. Beliau bukan hanya membangun dayah, tapi membangun manusia, membangun akhlak, dan membangun masyarakat. Nasehat beliau tentang keseimbangan dunia-akhirat menjadi alarm moral bagi kita semua.

Selagi ulama seperti beliau masih ada, Aceh InsyaAllah tak akan kehilangan cahaya. Dan sudah saatnya kita kembali menghidupkan tradisi ilmu, memuliakan guru, serta menjadikan ulama sebagai rujukan utama dalam setiap langkah kehidupan. Karena Aceh tanpa ulama, hanyalah Serambi tanpa cahaya.