Sejarah adalah jembatan yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini, sekaligus cermin bagi generasi penerus. Salah satu kisah inspiratif dalam sejarah keilmuan Islam di Nusantara adalah hubungan erat antara Syeikh Abdur Rauf As-Singkili, ulama besar Aceh Darussalam abad ke-17, dengan muridnya Syeikh Burhanuddin Ulakan, pelopor penyebaran Islam di Padang Pariaman, Minangkabau. Jejak keduanya menjadi bukti tak terbantahkan bahwa Aceh pernah menjadi pusat keilmuan Islam paling berpengaruh di kawasan ini.
Aceh Darussalam: Kiblat Ilmu Syariat dan Tarekat
Pada masanya, Aceh Darussalam dikenal sebagai negeri para ulama. Kerajaan yang dipimpin Sultan Iskandar Muda ini bukan hanya menjadi benteng politik dan militer Islam di kawasan Barat Nusantara, tapi juga magnet bagi para pencari ilmu dari berbagai daerah. Salah satu ulama masyhur yang lahir dari rahim Aceh kala itu adalah Syeikh Abdur Rauf As-Singkili.
Syeikh Kuala, begitu ia akrab disapa, merupakan sufi dan ahli fikih mumpuni. Karyanya Tarjuman al-Mustafid adalah tafsir Al-Qur'an berbahasa Melayu pertama di Nusantara. Ulama yang bermukim di kawasan Singkil ini juga dikenal sebagai mursyid tarekat Syattariyah, sebuah tarekat yang kemudian menyebar luas ke berbagai pelosok Sumatra dan Semenanjung Melayu.
Syeikh Burhanuddin Ulakan: Murid yang Melanjutkan Cahaya Aceh di Ranah Minang
Dari banyak murid Syeikh Kuala, Syeikh Burhanuddin Ulakan menjadi salah satu yang paling istimewa. Ia berasal dari desa Sintuk, Padang Pariaman, dan belajar selama lebih dari sepuluh tahun di Aceh. Tidak hanya menimba ilmu syariat dan tasawuf, ia juga membawa pulang misi dakwah tarekat Syattariyah ke kampung halamannya.
Syeikh Burhanuddin berhasil menyebarkan ajaran Islam yang bersumber dari gurunya ke seluruh Minangkabau. Keberhasilannya ini terlihat dari jejak para muridnya yang kelak juga menjadi ulama terkemuka di Padang Pariaman dan sekitarnya. Bahkan hingga kini, setiap tahunnya masyarakat Minangkabau mengadakan ziarah besar ke makam beliau dalam peristiwa Basaik (Tabuik), meskipun bercampur dengan tradisi lokal, inti spiritualitasnya tetap mengarah ke nilai-nilai peninggalan ulama besar ini.
Warisan Spiritual dan Intelektual Nusantara yang Terlupakan
Sayangnya, hubungan intelektual yang begitu erat antara Aceh dan Minangkabau ini nyaris terhapus dari ingatan kolektif masyarakat. Seolah-olah Aceh dan Padang Pariaman tidak pernah bersentuhan dalam sejarah keilmuan. Padahal jejak para ulama ini menunjukkan bahwa Aceh bukan hanya milik Aceh, melainkan pernah menjadi pusat peradaban Islam regional yang menyinari seantero Sumatra hingga ke Semenanjung.
Saat ini, banyak generasi muda yang hanya mengenal ulama-ulama luar, sementara nama-nama seperti Syeikh Kuala dan Syeikh Burhanuddin luput dari buku pelajaran sejarah dan mimbar-mimbar dakwah. Padahal, mereka adalah pilar penyebaran Islam yang membentuk wajah religius kawasan Barat Nusantara.
Saatnya Aceh Menulis Kembali Sejarahnya
Penting bagi Aceh hari ini untuk menulis kembali sejarahnya secara jujur dan menyeluruh, termasuk jejak para ulama yang pernah menyinari dunia Islam Nusantara. Kisah Syeikh Burhanuddin Ulakan yang belajar di Aceh adalah simbol kuat bahwa Aceh pernah menjadi kiblat ilmu, dan saatnya kita merebut kembali kehormatan itu, minimal dengan mengenang dan mempelajari warisan mereka.
Bukan sekadar nostalgia, tetapi untuk membangun generasi baru yang sadar akan sejarah kejayaan ulama, sehingga bisa menjadi bekal membangun peradaban Islami yang cerdas, moderat, dan berkarakter di masa depan.
Semoga Allah merahmati Syeikh Abdur Rauf As-Singkili, Syeikh Burhanuddin Ulakan, dan seluruh ulama yang telah mengorbankan hidupnya untuk menjaga cahaya Islam di Nusantara.