Notification

×

Iklan

FOTO KEGIATAN

Indeks Berita

Dendam Pemimpin bagi Lawan Politik: Petaka Pembangunan dan Rakyat Sengsara

Sabtu, 30 Agustus 2025 | 16:02 WIB Last Updated 2025-08-30T09:03:03Z




Luka Politik yang Tak Pernah Sembuh

Dalam perjalanan panjang sejarah bangsa, selalu ada cerita tentang bagaimana dendam menjadi bara yang membakar akal sehat seorang pemimpin. Pemimpin yang seharusnya hadir sebagai penyejuk dan penuntun rakyat, justru menjelma menjadi sosok yang terbelenggu amarah masa lalu. Musuh politik dianggap sebagai musuh pribadi. Perbedaan dianggap sebagai penghinaan. Kritik ditafsirkan sebagai serangan.

Di sinilah tragedi dimulai. Dendam seorang pemimpin bukan hanya melukai lawan politiknya, tetapi juga menghukum rakyat yang tidak pernah terlibat dalam perseteruan itu. Pembangunan terbengkalai, kebijakan kehilangan arah, dan energi bangsa terkuras hanya untuk membalas luka politik yang sesungguhnya bisa diselesaikan dengan cara elegan: dialog, rekonsiliasi, atau sikap besar hati.

Namun, sering kali yang terjadi sebaliknya.


Dendam Politik: Api dalam Sekam

Dendam politik ibarat api dalam sekam. Tidak terlihat kasat mata, tetapi membakar perlahan dari dalam. Di depan publik, seorang pemimpin mungkin tampil ramah dan tersenyum. Namun di ruang rapat, di balik pintu tertutup, ia menyusun strategi bagaimana lawannya hancur, bagaimana kelompok oposisi dilemahkan, atau bagaimana pendukung lawan dibuat menderita.

Di sinilah demokrasi berubah menjadi olok-olok. Bukan lagi adu gagasan, melainkan adu luka. Bukan lagi membangun rakyat, tetapi menjatuhkan lawan. Padahal, rakyat tidak peduli siapa yang pernah menyakiti siapa. Rakyat hanya ingin jalan mulus, sekolah murah, kesehatan terjangkau, dan hidup aman tanpa rasa takut.

Ketika dendam menjadi kompas politik, arah pembangunan pun tersesat. Anggaran lebih banyak dihabiskan untuk mengamankan kekuasaan ketimbang menyejahterakan rakyat.


Contoh Nyata: Luka Bangsa yang Terulang

Sejarah Indonesia penuh dengan contoh betapa dendam politik menjadi racun mematikan.

  1. Era pasca-kemerdekaan: Banyak pemimpin bangsa yang seharusnya bersatu membangun Indonesia justru terjebak dalam konflik ideologi. Lawan politik dipenjara, dibungkam, bahkan diasingkan. Rakyat hanya bisa melihat elit bertikai, sementara kesejahteraan tertunda.

  2. Era Orde Lama hingga Orde Baru: Dendam politik melahirkan sikap represif. Perbedaan dianggap pemberontakan. Kritik dianggap pengkhianatan. Rakyat hidup dalam ketakutan, sementara pembangunan dijalankan dengan sistem otoriter yang menyingkirkan partisipasi.

  3. Era Reformasi: Demokrasi yang seharusnya menjadi ruang kebebasan justru kerap berubah menjadi arena balas dendam politik antar-elit. Alih-alih memperjuangkan rakyat, parlemen sering kali menjadi panggung adu kebencian.

Dari sini kita belajar bahwa dendam politik selalu berujung pada satu hal: rakyat yang menanggung akibatnya.


Dampak Dendam Pemimpin bagi Lawan Politik

  1. Pembangunan Terhenti
    Anggaran yang seharusnya digunakan untuk membangun jalan, sekolah, rumah sakit, atau pertanian justru dialihkan untuk “mengamankan kekuasaan”. Proyek pembangunan sering dipolitisasi: siapa yang mendukung akan dapat kue pembangunan, siapa yang berbeda pendapat akan diabaikan.

  2. Rakyat Menjadi Korban
    Rakyat kecil tidak pernah peduli siapa lawan politik pemimpin. Mereka hanya butuh hidup layak. Namun karena dendam, banyak program sosial tidak berjalan merata. Desa yang dianggap basis lawan tidak dapat bantuan. Anak-anak kehilangan akses pendidikan.

  3. Rusaknya Demokrasi
    Demokrasi seharusnya menjadi ruang adu gagasan. Tapi ketika dendam merajalela, demokrasi hanya menjadi arena saling menjatuhkan. Politik berubah menjadi arena gladiator, bukan musyawarah.

  4. Hilangnya Moralitas Pemimpin
    Pemimpin yang terjebak dendam tidak lagi bekerja dengan nurani. Ia memimpin dengan amarah. Kebijakan yang lahir bukan untuk rakyat, melainkan untuk memuaskan ego pribadi.


Mengapa Dendam Itu Berbahaya?

Dendam ibarat racun yang perlahan merusak jiwa. Pemimpin yang menyimpan dendam tidak akan pernah merasa tenang, meskipun ia berkuasa penuh. Sebab, dendam melahirkan kecurigaan tanpa batas. Semua orang dianggap lawan. Semua kritik dianggap ancaman.

Yang lebih berbahaya, dendam itu menular ke pengikutnya. Timses, pejabat daerah, bahkan aparat ikut terbawa arus. Mereka tidak lagi bekerja untuk rakyat, melainkan untuk melindungi ego pemimpin. Akhirnya, seluruh sistem pemerintahan lumpuh dalam permainan balas dendam.


Motivasi: Memimpin dengan Jiwa Besar

Bangsa ini membutuhkan pemimpin yang bukan hanya pintar, tetapi juga berjiwa besar. Pemimpin yang bisa memaafkan lawannya, merangkul yang berbeda, dan mengubur dendam di kedalaman sejarah.

Ada pepatah bijak yang mengatakan:

“Orang lemah tidak pernah bisa memaafkan. Memaafkan adalah sifat orang kuat.”

Pemimpin sejati adalah mereka yang bisa menahan diri ketika disakiti, yang mampu tersenyum meski dicaci, dan yang tetap merangkul meski dikhianati. Karena pada akhirnya, rakyatlah yang menjadi saksi sejarah.


Solusi Mengatasi Dendam Politik

  1. Rekonsiliasi Nasional
    Pemimpin harus berani membangun rekonsiliasi dengan lawan politiknya. Bukan demi kepentingan pribadi, melainkan demi kepentingan bangsa.

  2. Pendidikan Politik untuk Rakyat
    Rakyat harus cerdas agar tidak mudah dimanipulasi oleh elit yang dendam. Dengan pendidikan politik, rakyat bisa memilih pemimpin yang benar-benar bekerja, bukan yang sibuk berperang dengan bayangan masa lalu.

  3. Menguatkan Etika Politik
    Partai politik dan tokoh bangsa harus menghidupkan kembali etika politik: bahwa lawan bukanlah musuh, melainkan mitra dalam membangun bangsa.

  4. Kontrol Sosial dari Masyarakat Sipil
    Media, akademisi, dan organisasi masyarakat harus berani mengkritik pemimpin yang terjebak dendam. Kritik bukan untuk menjatuhkan, melainkan untuk menyelamatkan bangsa.


Demi Masa Depan Bangsa

Dendam politik adalah api yang membakar masa depan. Ia merusak pembangunan, melukai demokrasi, dan membuat rakyat sengsara. Oleh karena itu, bangsa ini membutuhkan pemimpin yang mampu memadamkan api dendam dengan air kesejukan jiwa besar.

Pemimpin besar adalah mereka yang meninggalkan jejak rekonsiliasi, bukan luka sejarah.

Kita harus percaya bahwa Indonesia bisa bangkit, selama pemimpin mau meletakkan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi.