Notification

×

Iklan

FOTO KEGIATAN

Indeks Berita

Oknum Timses Meulih: Demi Bapak Senang, Demokrasi Rusak, Rakyat Terlantar

Sabtu, 30 Agustus 2025 | 15:52 WIB Last Updated 2025-08-30T08:52:50Z



Demokrasi di negeri ini seharusnya menjadi jalan bagi rakyat untuk menentukan arah hidup mereka, memilih pemimpin yang lahir dari suara murni, bukan dari rekayasa. Namun, di banyak tempat, demokrasi justru tergadaikan oleh praktik kotor oknum tim sukses. Mereka yang disebut “timses meulih” bekerja bukan demi rakyat, melainkan demi “bapak senang”—menghalalkan segala cara agar tuannya naik tahta.

Di balik senyum pencitraan dan janji manis di panggung politik, ada rakyat kecil yang terlantar. Teman seperjuangan pun bisa jadi korban, demi sesuap nasi. Mereka yang dulu seia-sekata, kini diabaikan karena dianggap tak lagi berguna. Begitulah wajah demokrasi yang dicederai oleh kerakusan.

Kekuasaan memang memabukkan. Saat loyalitas hanya ditujukan pada individu, bukan pada nilai keadilan, maka demokrasi kehilangan makna. Pemilu hanya jadi pesta formalitas, sedang rakyat tetap bergulat dengan kesusahan: harga pangan naik, lapangan kerja sempit, pendidikan dan kesehatan jauh dari harapan.

Oknum timses meulih seakan lupa bahwa kekuasaan itu sementara, sedangkan catatan sejarah tak akan pernah hilang. Nama mereka akan dikenang bukan sebagai pejuang rakyat, melainkan sebagai pengkhianat yang merusak kepercayaan publik terhadap demokrasi.

Namun, semua ini bukan akhir. Justru inilah saatnya kita belajar: jangan lagi menyerahkan suara hanya karena uang, sembako, atau janji palsu. Jangan biarkan demokrasi diperdagangkan oleh orang-orang yang menjilat demi keuntungan pribadi.

Kita butuh keberanian untuk mengatakan: cukup sudah! Demokrasi sejati adalah ketika rakyat benar-benar berdaulat, bukan menjadi korban politik uang, bukan menjadi korban ambisi pribadi.

Dan kepada mereka yang kini masih “meulih” demi bapak senang, ingatlah—sejarah akan menulis siapa yang berpihak pada rakyat, dan siapa yang menjual rakyat.