Notification

×

Iklan

FOTO KEGIATAN

Indeks Berita

tatapan Anak Korban Banjir Aceh

Kamis, 18 Desember 2025 | 00:05 WIB Last Updated 2025-12-17T17:05:41Z



 

Banjir Aceh 2025 tidak hanya merusak rumah dan sawah, tetapi juga menenggelamkan dunia anak-anak. Seorang anak perempuan berjalan sendirian di Aceh Tamiang, kaki berlumpur, hanya memegang plastik kosong, tatapannya kosong, dan kata “pulang” tak lagi memiliki alamat. Ia tidak hanya kehilangan orang tua, tetapi juga kemampuan untuk memahami kenyataan—mekanisme pertahanan psikologisnya melindungi diri dari trauma yang terlalu berat untuk diterima.

Relawan hadir sebagai jangkar harapan. Tanpa mereka, anak itu bisa tersesat lebih jauh. Namun trauma ini membutuhkan penanganan sistemik: pendampingan psikologis, perlindungan anak, dan pemulihan lingkungan yang memadai. Di balik kisah individu ini, tersimpan pesan penting: hutan yang hilang, sungai yang dipersempit, dan kebijakan yang abai terhadap keselamatan rakyat menjadi akar bencana.

Anak-anak tidak ikut membuat kebijakan, tetapi mereka menanggung dampaknya paling awal. Trauma mereka bukan sekadar luka masa kini; ia menentukan masa depan Aceh. Banjir adalah panggilan bagi semua pihak—negara, masyarakat, relawan—untuk hadir sepanjang proses pemulihan, bukan hanya saat air surut. Memastikan mereka aman, terlindungi, dan punya masa depan adalah tanggung jawab moral yang nyata.

#PrayForSumatera #BanjirSumatera