Ada jalan sunyi yang tak tercatat di peta, namun terukir dalam ingatan masa kecil. Ia bukan sekadar lorong tanah atau aspal retak, melainkan ruang di mana air mata pertama jatuh tanpa saksi, kecuali angin dan debu yang setia. Di sanalah tangis kecil belajar diam, belajar kuat, belajar menerima dunia yang sering datang tanpa penjelasan.
Saat kecil, kita tak mengerti mengapa lapar terasa lebih cepat dari kenyang, atau mengapa hujan terdengar seperti teguran. Jalan sunyi itu menjadi sekolah pertama—mengajari arti kehilangan sebelum kita paham makna memiliki. Di sana, kaki telanjang berdebu menapak pelan, hati bergetar menunggu sore, dan mata memandang jauh sambil bertanya: kapan pulang benar-benar pulang?
Tangis anak-anak di jalan sunyi bukan kelemahan. Ia adalah bahasa paling jujur dari mereka yang belum pandai berpura-pura. Dunia dewasa kelak akan mengajari topeng: senyum di hadapan luka, tawa di atas perih. Namun di jalan sunyi masa kecil, air mata mengalir apa adanya—tak minta dikasihani, hanya ingin dipahami.
Kita tumbuh, jalan itu menyempit dalam ingatan. Tapi ia tak pernah pergi. Setiap kali hidup terasa berat, kita kembali ke sana—ke tangis kecil yang dulu menolak menyerah. Dari jalan sunyi itulah ketabahan lahir: bukan karena hidup ramah, melainkan karena hati belajar berdiri meski sering jatuh.
Ironisnya, banyak kebijakan lahir tanpa pernah menengok jalan sunyi ini. Angka-angka dibacakan, grafik digambar, pidato disusun—namun tangis kecil tak terdengar. Padahal masa depan bangsa dirawat di lorong-lorong sunyi itu: di rumah sempit, di sekolah seadanya, di perut yang belajar sabar.
Mengingat jalan sunyi bukan untuk meratapi nasib, melainkan untuk menjaga nurani. Agar ketika kita dewasa dan berkuasa—sekecil apa pun kuasa itu—kita tak menutup telinga dari tangis yang dulu membesarkan kita. Sebab siapa yang lupa dari mana ia menangis, mudah lupa kepada siapa ia berutang empati.
Jalan sunyi menangis saat kecil—dan dari tangis itulah, semoga, kita belajar menjadi manusia.