Notification

×

Iklan

FOTO KEGIATAN

Indeks Berita

Manusia yang Dirindukan: Mereka yang Mampu Merukunkan yang Bertikai

Jumat, 30 Januari 2026 | 23:30 WIB Last Updated 2026-01-30T16:30:18Z

Di zaman yang penuh kegaduhan ini, manusia yang paling dirindukan bukanlah mereka yang paling lantang berbicara, bukan pula yang paling berani menyerang.
Manusia yang dirindukan justru adalah mereka yang sanggup mendamaikan.
Rasulullah Saw bersabda:
“Maukah aku kabarkan kepada kalian tentang amal yang lebih utama daripada derajat puasa, sholat dan sedekah?”
Para sahabat menjawab: Tentu saja.
Rasulullah bersabda: “Yaitu mendamaikan antara dua golongan, karena sesungguhnya rusaknya perhubungan antara dua golongan itu ialah perkara yang bisa memutus agama.”
(HR. Tirmidzi)
Hadis ini terasa sangat hidup dalam realitas kita hari ini.
Bukan hanya dalam konflik besar, tetapi dalam kehidupan sosial sehari-hari—dalam keluarga, masyarakat, bahkan dalam ruang politik dan pemerintahan.
Di Zaman Ini, Konflik Terlalu Mudah Diciptakan
Hari ini, orang sangat mudah tersulut.
Satu potongan video,
satu status,
satu kalimat yang dipotong dari konteks,
sudah cukup untuk memecah hubungan yang dibangun bertahun-tahun.
Di Aceh—yang selama ini saya tulis sebagai negeri yang lelah oleh konflik sejarah, luka sosial, dan kini kegaduhan pascabencana—pertikaian justru sering diperpanjang, bukan disembuhkan.
Yang ramai bukan juru damai,
tetapi juru komentar.
Yang menonjol bukan penyejuk,
tetapi provokator.
Mendamaikan Lebih Sulit daripada Menyalahkan
Menyalahkan itu mudah.
Mendamaikan itu berat.
Menyalahkan cukup dengan satu sudut pandang.
Mendamaikan menuntut kesabaran, keberanian, dan keikhlasan.
Orang yang mau turun menjadi penengah harus siap:
tidak dipuji oleh dua pihak,
disalahpahami oleh kedua kubu,
bahkan dicurigai memiliki kepentingan.
Namun justru di situlah kemuliaan amal itu berada.
Karena ia bekerja bukan untuk membela kelompok, tetapi untuk menyelamatkan hubungan.
Di Aceh, Kita Terlalu Lama Hidup dalam Pola “Siapa Lawan Siapa”
Sebagai masyarakat yang lahir dari sejarah panjang konflik, Aceh seharusnya paling mengerti mahalnya perdamaian.
Tetapi anehnya, dalam dinamika hari ini—baik dalam politik lokal, perbedaan sikap pascabencana, hingga konflik di media sosial—kita masih gemar membangun kubu:
kami dan mereka,
yang pro dan yang kontra,
yang benar dan yang dianggap salah.
Padahal tidak semua perbedaan harus berakhir dengan permusuhan.
Ada perbedaan yang seharusnya dirawat dengan dialog, bukan dipukul dengan stigma.
Mendamaikan Adalah Kerja Menyelamatkan Umat
Hadis Rasulullah Saw di atas sangat tegas:
rusaknya hubungan antargolongan bisa memutus agama.
Artinya, konflik sosial yang dibiarkan bukan hanya merusak persaudaraan, tetapi juga menggerogoti ruh keislaman itu sendiri.
Ketika umat sibuk saling menyerang,
maka nilai kasih sayang, adab, dan persatuan perlahan mati.
Orang yang mendamaikan bukan sekadar memperbaiki relasi sosial.
Ia sedang menjaga kesehatan iman umat.
Manusia yang Dirindukan Itu Bukan Tokoh, Tapi Penjaga Akal Sehat
Manusia yang dirindukan bukan harus pejabat.
Bukan harus ulama terkenal.
Bukan harus aktivis yang sering tampil.
Ia bisa siapa saja:
tokoh gampong yang mau duduk mendengar dua pihak bertikai,
orang tua yang berani menurunkan ego keluarga demi masa depan anak,
aparatur yang tidak memanaskan konflik warga,
pemuda yang memilih menenangkan linimasa, bukan memanaskannya.
Mereka inilah penjaga akal sehat masyarakat.
Mendamaikan Bukan Berarti Menghapus Keadilan
Sering kali, orang enggan berdamai karena takut dianggap mengalah atau menutup kebenaran.
Padahal, mendamaikan tidak identik dengan mematikan keadilan.
Mendamaikan adalah membuka ruang bicara.
Mendamaikan adalah mencegah luka membesar.
Mendamaikan adalah mencari jalan keluar yang paling sedikit mudaratnya bagi umat.
Keadilan tetap penting.
Tetapi keadilan yang lahir dari kemarahan biasanya melahirkan luka baru.
Penutup
Hari ini, manusia yang paling kita rindukan adalah mereka yang sanggup menahan diri untuk tidak menjadi bagian dari api.
Mereka yang memilih menjadi air.
Di tengah Aceh yang masih berjuang menyembuhkan banyak luka—luka sosial, luka politik, luka pascabencana—kita sangat membutuhkan manusia-manusia yang berani mengambil peran sunyi:
mendamaikan yang bertikai,
menyatukan yang tercerai,
dan menenangkan yang terluka.
Karena benar sabda Rasulullah Saw,
mendamaikan manusia jauh lebih mulia daripada banyak amal lahiriah yang tidak mampu menjaga persaudaraan.
Dan mungkin,
di zaman ini,
menjadi juru damai adalah bentuk ibadah yang paling sulit—sekaligus paling dirindukan.