Perceraian tidak selalu menandai kegagalan cinta.Sering kali, ia justru menandai keberanian untuk berhenti menyakiti diri sendiri.
Di Aceh—di tengah tekanan adat, agama, keluarga, dan pandangan sosial—cerai masih diperlakukan seperti aib. Bukan sebagai peristiwa kehidupan, tetapi sebagai cap seumur hidup. Padahal, tidak semua rumah tangga runtuh karena pengkhianatan. Banyak yang runtuh karena lelah yang terlalu lama dipendam.
Dan setelah palu hakim dijatuhkan, setelah status berubah, yang tersisa bukan sekadar “mantan”, tetapi hidup yang harus ditata ulang dari nol.
Bukan Akhir, Tapi Pergantian Jalan
Perceraian memang memutus ikatan hukum.Namun ia tidak memutus tanggung jawab hidup.
Yang sering luput kita bicarakan adalah:
bagaimana seseorang bangun esok pagi setelah bercerai?
Bangun dengan beban stigma.
Bangun dengan ekonomi yang goyah.
Bangun dengan anak-anak yang bertanya dalam diam.
Bangun dengan rasa bersalah yang sering ditanamkan oleh lingkungan.
Menata hidup pasca cerai bukan tentang mencari pengganti.
Ia tentang mencari kembali diri sendiri.
Perempuan dan Beban yang Tidak Sama
Dalam banyak kasus yang pernah saya angkat dalam opini tentang perceraian di Aceh, perempuan memikul beban yang lebih berat.
Status janda bukan sekadar perubahan administrasi.
Ia adalah label sosial.
Gerak diawasi.
Pilihan dipertanyakan.
Senyum bisa disalahartikan.
Padahal, perempuan yang bertahan dalam rumah tangga yang rusak juga sering disalahkan.
Dan ketika memilih pergi demi keselamatan jiwa dan akal sehat, ia kembali disalahkan.
Di sinilah kita harus jujur:
masyarakat lebih cepat menghakimi korban, daripada menelusuri sebab.
Menata Hidup, Menata Mental
Perceraian menyisakan luka batin yang tidak selalu terlihat.
Ada yang kehilangan rasa percaya.
Ada yang kehilangan keberanian untuk memulai.
Ada yang kehilangan arah hidup.
Menata hidup pasca cerai berarti berani berdamai dengan rasa gagal, tanpa harus menafikan nilai diri.
Seseorang tidak menjadi lebih rendah hanya karena statusnya berubah.
Dalam kehidupan, ada kegagalan yang justru menyelamatkan.
Anak, Korban yang Paling Sunyi
Dalam perceraian, orang dewasa masih memiliki bahasa untuk meluapkan emosi.
Anak-anak tidak.
Mereka belajar menata hidup pasca cerai dalam bentuk yang paling sederhana:
menyesuaikan rindu.
Rindu pada satu rumah.
Rindu pada satu meja makan.
Rindu pada suasana yang tak lagi sama.
Menata hidup pasca cerai seharusnya tidak memutus hubungan anak dengan cinta.
Yang berpisah adalah pasangan, bukan peran sebagai ayah dan ibu.
Di sinilah kedewasaan pasca cerai diuji:
bukan pada seberapa cepat move on, tetapi pada seberapa kuat menjaga hak emosional anak.
Ekonomi: Luka yang Sering Paling Nyata
Banyak perceraian berakhir bukan hanya pada perpisahan, tetapi juga pada kemiskinan baru.
Terutama bagi perempuan yang sebelumnya bergantung pada penghasilan suami, atau laki-laki yang tiba-tiba menanggung nafkah dua rumah.
Menata hidup pasca cerai berarti berani memikirkan masa depan secara realistis:
pekerjaan, keterampilan, tabungan, dan keberlanjutan hidup.
Romantisme penyembuhan tidak akan cukup jika dapur tetap kosong.
Negara, lembaga sosial, dan komunitas semestinya hadir lebih nyata:
pelatihan kerja, akses modal kecil, pendampingan hukum, dan dukungan psikososial.
Di Aceh, Perceraian Masih Masalah Kolektif
Sebagaimana sering saya tulis tentang pentingnya Qanun Keluarga Islam dan perlindungan perempuan dan anak di Aceh, perceraian tidak boleh dipandang sebagai urusan privat semata.
Ia adalah persoalan sosial.
Ketika angka perceraian naik,
ketika anak-anak tumbuh dalam ketidakstabilan emosional,
ketika perempuan jatuh dalam kemiskinan pasca cerai,
maka yang retak bukan hanya rumah tangga—tetapi struktur sosial kita.
Menata hidup pasca cerai seharusnya menjadi bagian dari kebijakan publik, bukan hanya nasihat moral.
Menata Hidup, Bukan Menata Cerita
Banyak orang sibuk menjelaskan alasan perceraiannya kepada dunia.
Padahal yang paling penting adalah menjelaskan masa depannya kepada diri sendiri.
Tidak semua orang perlu tahu luka kita.
Tetapi diri kita sendiri perlu tahu ke mana akan melangkah.
Menata hidup pasca cerai berarti membangun ulang rutinitas, keberanian, dan tujuan kecil:
bangun tepat waktu,
bekerja dengan jujur,
mengurus anak dengan sabar,
menjaga iman meski hati pernah runtuh.
Hal-hal sederhana itulah fondasi hidup baru.
Perceraian memang memisahkan.
Tetapi hidup tidak berhenti pada satu kegagalan.
Dalam iman, selalu ada pintu taubat.
Dalam kehidupan, selalu ada pintu tumbuh.
Menata hidup pasca cerai bukan tentang melupakan masa lalu,
melainkan menempatkannya sebagai guru—bukan sebagai penjara.
Dan di Aceh, negeri yang menjunjung agama dan adat, kita seharusnya belajar satu hal penting:
jangan hanya pandai menilai orang yang bercerai,
tetapi belajarlah mendampingi mereka yang sedang berjuang menata hidupnya kembali.