Notification

×

Iklan

FOTO KEGIATAN

Indeks Berita

Merakyatkan rakyat di tegah bencana

Kamis, 29 Januari 2026 | 23:35 WIB Last Updated 2026-01-29T16:50:14Z




Merakyat bukanlah soal turun ke pasar saat kamera menyala, bukan pula soal menyapa warga di panggung acara seremonial. Merakyat adalah keberanian hadir di tempat paling sunyi dari perhatian: di tenda-tenda pengungsian, di lantai tanah yang dingin, di mata anak-anak yang mulai lelah menunggu kepastian.
Jika rakyat berada di pengungsian, maka di sanalah seharusnya pemimpin berdiri.
Pengungsian bukan sekadar lokasi darurat; ia adalah cermin kegagalan sekaligus ukuran kepedulian. Di sana terkumpul rasa takut, kehilangan, dan harapan yang digantungkan pada negara. Ketika pemimpin absen, rakyat belajar satu hal pahit: bahwa mereka hanya penting saat normal, tetapi dilupakan saat rapuh.
Pemimpin yang peduli tidak datang membawa janji panjang, melainkan telinga yang mau mendengar dan hati yang mau tinggal lebih lama. Ia duduk sejajar, bukan berdiri lebih tinggi. Ia bertanya apa yang dibutuhkan hari ini, bukan apa yang menguntungkan citra esok hari.
Merakyat berarti memastikan air bersih tersedia sebelum konferensi pers digelar. Merakyat berarti memikirkan sekolah anak-anak pengungsi sebelum baliho ucapan dipasang. Merakyat berarti marah ketika bantuan terlambat, bukan memaklumi keterlambatan dengan alasan administratif.
Di pengungsian, rakyat tidak butuh pidato tentang kesabaran. Mereka sudah terlalu sabar. Yang mereka butuhkan adalah kepastian: kapan kembali, di mana akan tinggal, dan siapa yang bertanggung jawab. Kepedulian pemimpin diuji bukan pada kata-kata, tetapi pada kehadiran yang konsisten dan keputusan yang berpihak.
Jika hari ini rakyat masih di pengungsian, maka setiap klaim “merakyat” yang tidak disertai kehadiran nyata hanyalah kata kosong. Sebab merakyat bukan konsep, melainkan tindakan. Dan tindakan paling jujur adalah hadir di tempat rakyat paling membutuhkan negara.
Pemimpin boleh datang dan pergi, tetapi luka pengungsian akan lama tinggal. Di sanalah sejarah akan mencatat: siapa yang benar-benar peduli, dan siapa yang hanya lewat atas nama kekuasaan.