Notification

×

Iklan

FOTO KEGIATAN

Indeks Berita

ulama Aceh menembus dunia di era digital, berangkat dari peristiwa tausiah, beut, dan tahlil Abuya Habibi Waly di Denmark.

Minggu, 04 Januari 2026 | 23:21 WIB Last Updated 2026-01-04T16:21:43Z
 
Dari Gampông ke Aars, Denmark: Ulama Aceh Menyapa Dunia di Era Digital
Di sebuah rumah sederhana milik Tgk. Jufri, di Kota Aars, Denmark, lantunan doa dan zikir menggema. Tausiah, beut, dan tahlil dipimpin oleh Abuya Habibi Waly, dihadiri warga Aceh perantauan. Waktunya bukan hari besar Islam, melainkan Rabu, 31 Desember 2025, di ujung pergantian tahun—saat sebagian dunia merayakan hingar-bingar, orang Aceh di rantau memilih menenangkan jiwa.
Peristiwa ini tampak kecil bila dilihat dari kacamata berita global. Namun sesungguhnya, ia memuat pesan besar: ulama Aceh telah melintasi batas geografis, dan kini memasuki ruang peradaban digital dunia.
Ulama Aceh: Bukan Sekadar Penjaga Dayah
Sejak berabad-abad lalu, ulama Aceh bukan hanya guru agama. Mereka adalah:
Penjaga akidah,
Penuntun adat,
Penyeimbang kekuasaan,
Dan penenun identitas Aceh.
Kini, ketika Aceh berada di persimpangan globalisasi dan digitalisasi, peran itu diuji ulang. Apakah ulama akan tertinggal di kampung halaman, atau ikut menyapa dunia?
Apa yang dilakukan Abuya Habibi Waly di Denmark adalah jawaban sunyi namun tegas: ulama Aceh tidak boleh terkurung oleh jarak.
Dari Mimbar Dayah ke Ruang Diaspora
Tausiah di Aars bukan hanya ritual keagamaan. Ia adalah:
Pengikat batin diaspora Aceh,
Penjaga identitas di tanah asing,
Dan penegasan bahwa Aceh hidup di mana pun warganya berada.
Di era digital, tausiah tidak berhenti di ruang tamu Tgk. Jufri. Ia direkam, dibagikan, disimak ulang—menjadi jejak spiritual Aceh di ruang maya. Dari sinilah ulama Aceh mulai hadir sebagai aktor global, bukan dengan retorika keras, melainkan dengan hikmah.
Era Digital: Ancaman atau Jalan Dakwah Baru?
Banyak yang mengkhawatirkan digitalisasi sebagai ancaman moral. Namun justru di sinilah tantangan dan peluang ulama Aceh:
Ketika anak muda belajar agama dari algoritma,
Ketika identitas ditentukan oleh tren,
Ketika dakwah berubah menjadi konten.
Ulama Aceh tidak cukup hanya mengutuk zaman. Mereka harus memimpin zaman—mengisi ruang digital dengan nilai, adab, dan kedalaman ilmu. Tausiah di Denmark yang sampai ke Aceh lewat gawai adalah contoh dakwah lintas benua tanpa kehilangan akar.
Aceh dan Dunia: Diplomasi Spiritual yang Terlupakan
Aceh dahulu dikenal dunia bukan hanya karena perang, tetapi karena:
Ulama yang berilmu,
Jaringan keilmuan internasional,
Dan akhlak sebagai wajah Islam.
Hari ini, ketika politik sering gaduh dan ekonomi sering timpang, diplomasi spiritual justru menjadi jalan sunyi yang efektif. Ulama Aceh, dengan tradisi tasawuf dan keilmuan yang moderat, memiliki modal besar untuk tampil sebagai penyejuk dunia yang gaduh.
Tahlil di Denmark adalah simbol: Aceh hadir bukan untuk mendominasi, tetapi menguatkan manusia.
Catatan Kritis: Jangan Hanya Seremonial
Namun refleksi ini tidak boleh berhenti pada romantisme. Kehadiran ulama Aceh di panggung global harus diiringi:
Penguatan literasi digital ulama,
Kaderisasi generasi dayah yang melek dunia,
Dan keberanian menyuarakan nilai Islam yang adil, ramah, dan bermartabat.
Jika tidak, maka dakwah global hanya akan menjadi kunjungan seremonial, bukan gerakan peradaban.
Penutup: Aceh Berbicara dengan Hikmah
Dari gampông ke Aars, dari dayah ke diaspora, dari lisan ke layar—ulama Aceh sedang diuji oleh zaman. Dan peristiwa 31 Desember 2025 itu memberi satu pelajaran penting:
Aceh tidak harus berteriak untuk didengar dunia. Cukup berbicara dengan hikmah, dunia akan mendengar.
Selama ulama Aceh tetap berpijak pada ilmu, akhlak, dan keikhlasan, maka di mana pun tausiah disampaikan—di Aceh, di Denmark, atau di ruang digital—Aceh tetap hidup sebagai cahaya, bukan sekadar nama.
#denmark #abuyahabibiewaly #aceh