Di tengah derita korban banjir, yang dibutuhkan bukanlah kisah-kisah pembenaran, bukan pula cerita yang berujung pada saling menyalahkan. Yang dibutuhkan adalah empati, kehadiran, dan tindakan nyata. Namun, ketika seorang bapak—sebagai simbol kepemimpinan dan keteladanan—justru menghadirkan narasi yang seolah menolak kisah pilu rakyat, maka luka itu terasa semakin dalam.
Korban banjir tidak sedang mencari perhatian. Mereka tidak sedang membangun cerita untuk simpati. Mereka sedang bertahan hidup di tengah kehilangan: rumah hanyut, harta benda rusak, dan masa depan yang mendadak kabur. Dalam kondisi seperti ini, setiap kata dari seorang bapak, apalagi seorang pemimpin, memiliki makna besar. Kata yang salah dapat melukai, sementara kata yang benar dapat menguatkan.
Seorang bapak sejatinya adalah tempat berlindung. Ia hadir bukan untuk menolak kisah anak-anaknya, tetapi mendengar, memahami, dan mencari solusi. Ketika kisah kesedihan rakyat ditolak atau dianggap berlebihan, maka yang terjadi bukan hanya jarak emosional, tetapi juga hilangnya kepercayaan.
Banjir bukan sekadar bencana alam. Ia juga menguji nurani. Menguji apakah kita masih memiliki rasa kemanusiaan atau tidak. Dalam situasi ini, rakyat tidak butuh cerita baru. Mereka butuh perhatian. Mereka tidak butuh narasi panjang. Mereka butuh bantuan nyata.
Tulak kisah terhadap korban banjir hanya akan memperpanjang luka. Sebaliknya, mendengar kisah mereka adalah awal dari penyembuhan. Karena setiap air mata korban banjir adalah pesan bahwa masih ada yang harus diperbaiki.
Seorang bapak seharusnya berdiri di tengah rakyatnya, bukan menjauh dari kisah mereka. Sebab dalam setiap kisah korban banjir, ada harapan yang menunggu untuk dipeluk.
Mari kita menjadi bapak bagi sesama. Mendengar sebelum berbicara. Membantu sebelum menyalahkan. Dan hadir sebelum semuanya terlambat. 🌧️🤝