Notification

×

Iklan

FOTO KEGIATAN

Indeks Berita

Nasihat untuk Para Penjilat: Antara Kepentingan dan Kehormatan

Sabtu, 11 April 2026 | 10:49 WIB Last Updated 2026-04-11T03:49:18Z

Dalam dunia kekuasaan, selalu ada dua tipe manusia yang mudah ditemukan: mereka yang berani berkata jujur, dan mereka yang memilih menjadi penjilat. Yang pertama mungkin tidak selalu disukai, tetapi mereka dihormati. Yang kedua mungkin sering dekat dengan kekuasaan, tetapi sering kehilangan harga diri.

Penjilat bukan fenomena baru. Dari masa ke masa, mereka selalu hadir di sekitar kekuasaan. Mereka pandai memuji, lihai mencari muka, dan selalu berada di sisi yang dianggap menguntungkan. Namun, sejarah juga mencatat bahwa penjilat jarang dikenang sebagai sosok terhormat. Mereka hadir hanya sebagai bayang-bayang kekuasaan, bukan sebagai pelaku perubahan.

Nasihat pertama untuk para penjilat: jangan tukar kehormatan dengan kedekatan.

Kedekatan dengan kekuasaan mungkin memberikan keuntungan sementara. Namun, kehormatan adalah sesuatu yang jauh lebih berharga. Ketika kekuasaan berubah, para penjilat sering kali ditinggalkan. Yang tersisa hanyalah reputasi buruk yang sulit diperbaiki.

Nasihat kedua: berhenti memuji tanpa makna.

Pujian yang berlebihan bukanlah bentuk loyalitas, tetapi tanda ketidakjujuran. Pemimpin yang baik tidak membutuhkan pujian kosong. Mereka membutuhkan kritik yang membangun. Tanpa kritik, pemimpin bisa terjebak dalam kesalahan yang berulang.

Nasihat ketiga: jadilah orang yang berani berkata benar.

Keberanian berkata benar adalah ciri orang yang memiliki integritas. Mungkin tidak semua pemimpin menyukai kritik, tetapi pemimpin yang bijak akan menghargai kejujuran. Sementara penjilat hanya memberikan kenyamanan sesaat, orang jujur memberikan arah yang benar.
Nasihat keempat: ingat bahwa jabatan itu sementara ⏳

Hari ini seseorang bisa berkuasa, besok belum tentu. Penjilat sering lupa bahwa kekuasaan itu tidak abadi. Mereka terlalu sibuk mencari muka hingga lupa membangun kapasitas diri. Ketika kekuasaan berganti, mereka kehilangan arah.

Nasihat kelima: bangun kapasitas, bukan kedekatan 📚
Orang yang memiliki kemampuan akan tetap dibutuhkan, siapa pun pemimpinnya. Tetapi penjilat yang hanya mengandalkan kedekatan akan kehilangan tempat ketika situasi berubah. Karena itu, lebih baik memperkuat kemampuan daripada memperkuat pujian.

Fenomena penjilat sering merusak sistem pemerintahan. Pemimpin yang dikelilingi penjilat akan sulit mendapatkan informasi yang objektif. Semua terlihat baik, padahal banyak masalah yang disembunyikan. Akibatnya, kebijakan yang diambil sering tidak tepat sasaran.

Aceh, dan juga daerah lainnya, membutuhkan orang-orang yang berani dan jujur, bukan penjilat yang hanya mencari keuntungan pribadi. Kemajuan daerah tidak bisa dibangun dengan pujian kosong. Kemajuan hanya bisa dibangun dengan kerja nyata, kritik konstruktif, dan kejujuran.

Menjadi penjilat mungkin terlihat mudah. Tidak perlu berpikir kritis, cukup memuji dan mengikuti arus. Namun, menjadi orang yang berintegritas memang lebih sulit, tetapi jauh lebih bermartabat.

Pada akhirnya, setiap orang harus memilih: menjadi penjilat yang dekat dengan kekuasaan, atau menjadi pribadi berintegritas yang dihormati masyarakat. Pilihan itu akan menentukan bagaimana seseorang dikenang di masa depan.
Karena itu, nasihat sederhana bagi para penjilat:

Berhentilah menjilat, mulailah berkontribusi.
Berhentilah mencari muka, mulailah bekerja nyata.
Berhentilah memuji, mulailah berkata jujur.
Sebab kekuasaan bisa berubah, jabatan bisa berganti, tetapi kehormatan akan selalu abadi. ✨