Ada seorang ibu yang setiap malam tidak pernah lupa menyebut nama anaknya di dalam doa. Tangannya yang mulai keriput masih terangkat ke langit, memohon agar anak yang dulu digendong dengan penuh kasih itu selalu diberi keselamatan, kesehatan, dan jalan hidup yang baik.
Namun hidup kadang berubah begitu cepat.
Anak yang dulu selalu pulang memeluk ibunya, kini mulai sibuk dengan dunia sendiri. Waktu untuk ibu perlahan hilang. Telepon jarang diangkat. Kabar semakin singkat. Bahkan ada yang bertahun-tahun tidak pulang, seolah rumah tempat ia dibesarkan hanyalah masa lalu yang tidak lagi penting.
Padahal di sudut rumah sederhana itu, ada seorang ibu yang tetap menunggu.
Ia menunggu suara langkah kaki di depan pintu. Menunggu sapaan hangat, “Mak, apa kabar?” Menunggu pelukan yang mungkin sudah lama tidak dirasakan. Dan yang paling menyedihkan, seorang ibu tetap menunggu meski sering dilupakan.
Ibu tidak pernah meminta harta. Tidak meminta balasan atas semua pengorbanannya. Ia hanya ingin melihat anaknya baik-baik saja. Bahkan ketika anaknya lupa, ibu tetap mengingat. Ketika anaknya marah, ibu tetap memaafkan. Ketika anaknya jauh, ibu tetap mendoakan.
Begitulah hati seorang ibu.
Kadang kita baru sadar betapa berharganya ibu ketika rambutnya mulai memutih, tubuhnya melemah, dan suaranya tidak lagi sekuat dulu. Kita terlalu sibuk mengejar dunia sampai lupa bahwa ada hati yang diam-diam rapuh karena rindu.
Betapa banyak ibu yang menahan air mata saat melihat kamar anaknya kosong. Betapa banyak ibu yang berpura-pura kuat saat orang lain bertanya, “Kapan anaknya pulang?” Padahal di dalam hatinya, rindu itu sudah menumpuk seperti hujan yang tak kunjung reda.
Jangan sampai penyesalan datang ketika semuanya terlambat.
Sebab suatu hari nanti, rumah itu mungkin masih berdiri, tetapi sosok ibu yang selalu menunggu sudah tidak ada lagi. Tidak ada lagi doa yang terdengar lirih di sepertiga malam. Tidak ada lagi tangan lembut yang menyambut kepulangan kita.
Maka selagi ibu masih ada, pulanglah walau sebentar. Teleponlah walau hanya beberapa menit. Dengarkan ceritanya walau sederhana. Karena bagi seorang ibu, perhatian kecil dari anaknya adalah kebahagiaan yang sangat besar.
Ibu tidak pernah berhenti mencintai. Bahkan dalam diamnya, ia tetap menjadi tempat pulang paling tulus di dunia.
Penulis: Azhari