Di tanah yang pernah melahirkan kejayaan besar, ada ironi yang sulit diterima: jejak para raja Aceh perlahan menghilang, seakan tidak lagi memiliki arti bagi generasi hari ini. Makam-makam yang seharusnya menjadi simbol sejarah, kebesaran, dan identitas, kini banyak yang terbengkalai—bahkan ada yang hilang tanpa jejak.
Aceh bukan daerah biasa. Ia pernah menjadi pusat peradaban Islam di Asia Tenggara, dipimpin oleh tokoh-tokoh besar seperti Sultan Iskandar Muda yang membawa Aceh pada masa keemasan. Namun hari ini, pertanyaannya sederhana tapi menyakitkan: di mana penghormatan kita terhadap para pemimpin yang pernah membangun negeri ini?
Makam bukan sekadar tempat jasad beristirahat. Ia adalah simbol ingatan kolektif. Ketika makam raja dibiarkan hilang atau rusak, sesungguhnya yang hilang bukan hanya fisik bangunan, tetapi juga kesadaran sejarah masyarakatnya. Generasi muda akan tumbuh tanpa mengenal akar mereka, tanpa memahami siapa mereka dan dari mana mereka berasal.
Lebih parah lagi, hilangnya makam raja mencerminkan lemahnya perhatian terhadap warisan budaya. Di banyak tempat, situs sejarah dijaga, dirawat, bahkan dijadikan pusat edukasi dan wisata. Tetapi di Aceh, masih ada peninggalan sejarah yang justru tenggelam dalam ketidakpedulian.
Padahal, menjaga makam raja bukan soal masa lalu semata. Ini tentang menjaga identitas. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya. Jika sejarah diabaikan, maka masa depan akan kehilangan arah.
Pertanyaannya bukan lagi siapa yang salah, tetapi siapa yang mau peduli. Pemerintah memiliki tanggung jawab, tetapi masyarakat juga tidak boleh lepas tangan. Ulama, akademisi, pemuda—semua memiliki peran untuk menghidupkan kembali kesadaran sejarah ini.
Kita tidak bisa terus membanggakan masa lalu Aceh jika pada saat yang sama kita membiarkan bukti-buktinya hilang. Kebanggaan tanpa tindakan hanyalah retorika kosong.
Mungkin hari ini makam itu hilang, tapi jangan sampai kesadaran kita ikut hilang. Karena jika kita terus diam, bukan hanya makam raja yang lenyap—tetapi juga jati diri Aceh itu sendiri.
Sudah saatnya kita bertanya pada diri sendiri:
apakah kita masih pantas disebut pewaris sejarah, jika menjaga peninggalannya saja kita lalai?