Notification

×

Iklan

FOTO KEGIATAN

Indeks Berita

Ketika TikTok Jadi Petaka dalam Keluarga

Senin, 17 Agustus 2026 | 20:55 WIB Last Updated 2026-08-17T13:55:19Z


TikTok pada awalnya hanyalah ruang hiburan, informasi, dan kreativitas. Namun, ketika penggunaannya tidak lagi terkendali, media sosial dapat berubah menjadi petaka bagi keluarga. Bukan karena TikTok semata-mata buruk, tetapi karena manusia sering kehilangan batas antara dunia digital dan kehidupan nyata.

Dalam rumah tangga, petaka dimulai ketika layar lebih diperhatikan daripada pasangan. Suami sibuk dengan gawainya, istri tenggelam dalam live streaming, anak mencari perhatian dari dunia maya. Satu rumah, tetapi masing-masing hidup dalam dunianya sendiri.

Lebih jauh, TikTok dapat menghadirkan godaan yang sebelumnya tidak ada. Komunikasi dengan orang asing, komentar yang berlebihan, hubungan emosional melalui pesan pribadi, hingga pertemuan di dunia nyata dapat menjadi pintu masuk perselingkuhan. Ketika kepercayaan mulai hilang, rumah tangga pun mulai kehilangan fondasinya.

Masalah lainnya adalah gaya hidup dan konsumtivisme. Tayangan kemewahan membuat seseorang membandingkan kehidupannya dengan kehidupan orang lain. Rumah tangga yang sederhana merasa kurang, pasangan mulai saling menuntut, dan penghasilan yang seharusnya digunakan untuk kebutuhan keluarga justru habis mengikuti tren.

Yang paling menjadi korban adalah anak. Mereka membutuhkan kehadiran orang tua, bukan sekadar orang tua yang berada di rumah tetapi matanya terus tertuju pada layar.

Karena itu, persoalannya bukan “TikTok harus disalahkan atau tidak?” Persoalannya adalah apakah keluarga mampu mengendalikan teknologi atau justru teknologi yang mengendalikan keluarga.

TikTok hanyalah alat. Petaka muncul ketika alat mengambil alih peran komunikasi, kepercayaan, tanggung jawab, dan kasih sayang dalam keluarga.

Jangan sampai kita sibuk membangun kehidupan yang terlihat bahagia di TikTok, sementara rumah tangga sendiri perlahan-lahan sedang hancur di balik layar.