-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

ASF Meledak Di Timor Leste, NTT Dalam Bahaya

Sunday, September 29, 2019 | 18:57 WIB Last Updated 2019-09-29T11:57:15Z
Organisasi Dunia untuk Kesehatan Hewan (OIE) baru saja merilis laporan terkait temuan kasus African Swine Fever (ASF) di Timor Leste. Dalam Immediate Notification Report Summary yang dirilis oleh Lembaga tersebut tanggal 27 September 2019 menyampaikan telah ditemukan pertama kalinya penyakit virus ASF pada ternak babi di Kota Dili, Ibu Kota Timor Leste. Pengumuman resmi tersebut menyusul dikeluarkannya laporan hasil diagnosis Laboratorium Kesehatan Hewan Australia yang menyatakan bahwa 41% dari sampel darah ternak babi dari Timor Leste yang diuji positif terinfeksi virus ASF.


Ministry of Agriculture and Fisheries (MAF) Timor Leste mengonfirmasikan ASF di Timor Leste melalui siaran pers tanggal 27 September 2019. MAF menjelaskan bahwa pada awal September 2019, ditemukan banyak kasus penyakit dan kematian pada ternak babi di Dili. Untuk mengidentifikasi penyebab kasus tersebut, MAF mengumpulkan sampel dari babi yang terinfeksi kemudian dikirim ke Australia untuk pengujian laboratorium. Pada tanggal 19 September 2019, MAF mengidentifikasi 400 ekor babi yang terinfeksi dan 400 lainnya mati di Dili. Tanggal 26 September 2019, Pihak Australia mengonfirmasi kasus ASF di Timor. Sehari kemudian, OIE mengeluarkan pemberitahuan resmi perihal status positif ASF di Timor Leste. Kini, negara bekas jajahan Portugis itu masuk dalam deretan daftar negara-negara di Asia Tenggara seperti Vietnam, Kamboja, Laos, Myanmar dan Filipina yang lebih awal terkonfirmasi kena wabah ASF.

Krisis wabah ASF yang mengancam keberadaan industri peternakan babi serta menyebabkan kerugian ekonomi yang serius di negara-negara tetangga di kawasan Asia Tenggara, dan baru saja meledak di Timor Leste yang memiliki populasi babi 400,000 ekor tersebut, sudah pasti menjadi peringatan dan ancaman serius, ibarat bom waktu, bagi industri perternakan babi di NTT dan Indonesia. Kini, NTT dalam keadaan bahaya karena NTT memiliki populasi ternak babi tertinggi di Indonesia, dan tentunya rawan diserang dan berpotensi tertular penyakit ASF dari Timor Leste karena secara geografis letaknya berdekatan, juga mobilitas manusia dan barang antara dua negara di daerah perbatasan berjalan lancar dan kemungkinan sulit dikendali dan dideteksi terutama lalu lintas melaui jalan tikus.

Manusia, babi peternakan dan babi hutan baik yang hidup maupun mati, produk babi, bahan makanan, dan fomite (benda mati) yang terkontaminasi ASF merupakan carrier potensial bagi penularan virus ASF. Oleh kerena itu, pengetatan dan pembatasan lalu lintas carrier potensial tersebut di pintu masuk ke wilayah Timor Barat, seperti di Motain di Kabupaten Belu, Motamasin di Kabupaten Malaka, dan Wini di Kabupaten TTU, harus menjadi perhatian petugas karantina di daerah-daerah tersebut. Belum lagi, perdagangan babi dan produk babi yang sulit dideteksi karena masuk ke Timor Barat melalui perdagangan ilegal atau melalui jalan tikus. Dan, yang paling potensial serta sulit dikendalikan adalah penyebaran virus ASF oleh ternak babi dari Timor Leste ke Timor Barat untuk tujuan non komersial seperti untuk belis atau mahar perkawinan. Juga, kemungkinan adanya kontak langsung antara babi liar yang sudah terinfeksi ASF dengan babi peternakan di daerah Timor Barat. Hal lain yang membuat ASF sulit dikendalikan adalah kenyataan bahwa tidak ada vaksin dan obat yang direkomendasi untuk mencegah dan menyembuhkan penyakit fatal tersebut.   

ASF dan Sejarah Penyebaran Penyakit ASF di Dunia

OIE menggambarkan ASF sebagai virus yang sangat menular dan menyerang babi peternakan dan babi liar. Semua babi sama-sama rentan tertular virus ASF. Gejala klinis ASF ditandai dengan demam tinggi, kehilangan napsu makan, pendaharan pada organ kulit dan organ dalam serta tempo kematian pada babi yang terinfeksi yaitu dalam waktu yang realtif singkat antara 2 sampai 10 hari. ASF adalah virus ganas yang sangat berbahaya karena memiliki tingkat kematian yang tinggi pada ternak babi mencapai 100%. Apalagi, sejauh ini, belum ada obat dan vaksin untuk mencegah dan mengobati penyakit ASF tersebut. FAO menyebut ASF sebagai penyakit hewan fatal yang menyerang babi dan babi hutan dengan tingkat fatalitas hingga 100%. Selain itu, virus ini dapat bertahan hidup untuk waktu yang lama dalam cuaca yang ekstrim, sangat dingin dan sangat panas, dan bahkan dapat ditemukan dalam produk daging babi olahan. Untungnya, ASF tidak berbahaya untuk manusia. Kendatipun manusia adalah carrier potensial agen ASF, OIE dan FAO menegaskan bahwa ASF tidak dikategorikan sebagai penyakit zoonosis. Artinya, penyakit itu tidak akan menular dan memengaruhi kesehatan manusia.

Penyakit ASF sudah mewabah di planet ini sejak 1 abad lalu, dan sudah menyebar ke hampir semua benua dari Afrika, Eropa, Amerika, Karibia hingga Asia. Secara historis, penyakit ini pertama kali ditemukan di Kenya tahun 1907 dan baru dideklarasikan sebagai ASF tahun 1921. Tahun 1960, pertama kali ASF ditemukan di Lisbon, Spanyol kemudian secara sporadis meledak di beberapa negara di Eropa seperti Perancis, Belgia dan Spanyol hingga tahun 1980-an. ASF kemudian melintasi Samudera Atlantik menyebar hingga ke gugusan-gugusan kepulauan di Laut Karibia dan Republik Dominika di Amerika Tengah. Tahun 1971, ASF menyerang negaranya Fidel Castro, Kuba. Sementara, di Eropa, hingga tahun 2007, ASF terus gencar menyerang secara sporadis ke negara-negara lainnya di Eropa Barat, Eropa Utara, sampai Eropa Timur seperti Armenia, Azerbaijan, hingga Rusia, negaranya Vladimir Putin. Tahun 2018, ASF pertama kali ditemukan di Bulgaria dan Juli 2019 ditemukan di Slovakia.

Di Asia, ASF pertama kali ditemukan pada Agustus 2018 di Negeri Tirai Bambu, negaranya Xi Jinping. Hanya dalam waktu 8 bulan kemudian, hingga April 2019, hampir semua provinsi di China terserang ASF yang mengakibatkan populasi ternak babi mati atau dimusnahkan hingga 1.2 juta ekor. Bahkan sumber lain menyatakan bahwa populasi babi di negara yang memiliki populasi babi tertinggi di dunia yaitu 500 juta ekor dan berkontribusi setengah dari populasi babi dunia telah berkurang hingga 40 juta ekor karena krisis ASF. Dari China, kemudian ASF mewabah secara sporadis dan dalam tempo yang relatif singkat ke delapan negara Asia lainnya yaitu Mongolia (Januari 2019), Vietnam (Februari 2019), Kamboja (April 2019), Korea (Mei 2019), Laos (Juni 2019), Myanmar (Agustus 2018), Filipina (Agustus 2019) dan Timor Leste (September 2019). Mencermati pola pergerakkan ASF yang condong ke arah selatan ini, memberi sinyal bahwa Indonesia dan Australia bisa menjadi sasaran potensial berikutnya dari amukan virus fatal dan mematikan tersebut.

Penularan dan Pembawa ASF

Penyebaran penularan ASF bersifat sporadis, lintas batas (transboundary), tak terduga, dan berjalan dalam tempo yang begitu cepat. Hal ini bisa dilihat dari sejarah penyebaran ASF pada 9 negara di Asia yang hanya terjadi dalam rentang waktu kurang lebih 1 tahun. OIE menyebutkan beberapa bahan atau benda yang menjadi perantara dalam transmisi virus ASF, baik langsung maupun tidak langsung, antara lain babi dan produk babi, bahan makanan dan limbah makanan, serta fomite (benda mati) seperti sepatu, sendal, pakaian, pisau, kendaraan, peralatan, dan lain-lain yang sudah terkontaminasi virus ASF. Saya melihat beberapa agen potensial penularan ASF ke Indonesia dan NTT yang harus diwaspadai dan diawasi secara ketat oleh petugas Karantina di pintu-pintu masuk ke Indonesia.

Pertama, produk impor dari negara tertular (makanan dan non makanan) yang sudah terkontaminasi ASF, dan diperdagangkan secara legal maupun illegal di Indonesia. Dan, yang paling berbahaya adalah barang impor ilegal atau yang dijual di black market karena produk-produk tersebut masuk tanpa melalui pemeriksaan oleh petugas karantina terlebih dahulu.

Kedua, swill feed yaitu sisa makanan atau sisa makanan yang mengandung atau bersentuhan dengan daging atau produk daging. Swill dapat mengandung virus yang menyebabkan penyakit seperti penyakit kaki dan mulut dan ASF. Swill feed adalah sisa makanan dari industri transportasi internasional seperti pesawat terbang, kapal laut, dan kapal kargo yang umumnya diperjualbelikan. Di beberapa bandara dan pelabuhan internasional di Indonesia, swill feed sudah menjadi bisnis dimana ditenggarai sudah ada pihak swasta yang menampung swill feed dan dijual ke peternakan babi atau peternakan lainnya. Sementara di Australia, dilarang keras memberikan Swill untuk ternak babi.

Ketiga, barang tentengan dari wisatawan, pekerja imigran, pelajar, dan lain-lain yang sudah terkontaminasi ASF. Wisatawan dari negara yang positif ASF seperti China yang datang ke Indonesia terus meningkat dan mereka bisa menjadi carrier potensial ASF melalui pakaian dan alas kaki yang mereka pakai atau barang tentengan (makanan atau bukan makanan) yang terkontaminasi ASF. Sebagai contoh, pada Juni 2019, Polisi Jepang menangkap seorang pelajar dari Vietnam yang menyelundupkan secara ilegal 10kg daging babi ke Jepang yang mengandung virus ASF untuk dijual secara online di negara sakura itu. 

Keempat, babi dan produk babi, terutama dari Timor Leste. Seperti diuraikan sebelumnya bahwa lalu lintas ternak babi dari Timor Leste ke Timor Barat untuk tujuan non komersial seperti mahar perkawinan bisa menjadi carrier potensial karena sulit dikendalikan dan dibatasi.   

Dampak ASF pada Pasar dan Perdagangan Daging Babi Dunia

Penyakit ASF memiliki dampak ekonomi yang tinggi, mengganggu perdagangan domestik dan internasional karena adanya larangan impor-eskpor ternak babi dan produk babi dengan negara tertular, juga pembatasan lalu lintas perdagangan ternak babi antara wilayah (provinsi, pulau, dan lain-lain). Secara ekonomi, penyakit ini fatal karena berpotensi menyebabkan kematian pada populasi babi mencapai 100%. Kerugian ekonomi di Asia sejak ledakan pertama pada Agustus 2018 di China hingga terakhir di Timor Leste, diperkirakan mencapai 6.2 juta ekor babi yang mati atau dimusnahkan. Jika dikonversi ke uang, nilainya mencapai 12.4 triliun, dua kali lipat dari APBD NTT, atau setara 1.3 miliar dolar Amerika.

Krisis ASF di China telah mengganggu pasar daging babi dunia. Harga daging babi di pasar Eropa dan China melonjak menembus 30% karena meningkatnya permintaan terhadap daging babi dari China. China mengimpor 1.88 juta ton daging babi pada 2019, naik 7% dari 2018, menyumbang sekitar 20 persen lebih dari 8 juta ton daging babi yang diperdagangkan di pasar global pada 2019 (USDA, 2019). Produksi domestik daging babi di China menurun 30%, dan 3 pabrik pakan ternak milik Cargill dilaporkan ditutup karena penurunan drastis permintaan terhadap pakan babi.

Potensi Kerugian bagi Indonesia dan NTT

Mencermati pola pergerakkan penyebaran virus ASF yang sporadic, lintas batas dan sulit terkendali tersebut, cepat atau lambat, Indonesia pasti kena. Jika, Indonesia positif tertular ASF, maka potensi kerugian paling besar akan dialami oleh NTT. Karena NTT adalah provinsi dengan populasi ternak babi tertinggi di Indonesia, menyumbang 25% terhadap populasi ternak babi nasional. Selain itu, ditemukannya kasus ASF di negara tetangga Timor Leste berpotensi masuk ke wilaya Timor Barat. Ini sangat berbahaya dan menjadi ancaman serius bagi NTT dan Indonesia. Selain potensi kerugian ekonomi, ASF berpotensi menimbulkan masalah sosial dan budaya di tanah FLOBAMORA.

Beberapa potensi dan proyeksi kerugian bagi Indonesia dan NTT jika kena ASF seperti kerugian ekonomi, perdagangan, sosial dan budaya diuraikan di bawah ini.

Pertama, potensi kerugian ekonomi. Populasi ternak babi di Indonesia tahun 2018 mencapai 8 juta ekor, sementara NTT memiliki 2 juta ekor. Andaikan 20% ternak babi mati karena ASF, maka kerugian ekonomi yang timbul mencapai 3.4 triliun bagi Indonesia dan 856.5 miliar bagi NTT. Diperkirakan, terdapat 427 ribu rumah tangga/peternak di Indonesia dan 107 ribu di NTT terancam kehilangan lapangan pekerjaan dan sumber pendapatan rumah tangga/keluarga. Sebagai contoh, tahun 2017, Flores diserang wabah virus Hog Cholera (Sampar Babi) menyebabkan kematian 10,000 ekor ternak babi, dengan perkiraan kerugian di kalangan peternak mencapai 25 miliar, kerugian pada perusahan pakan ternak mencapai 35 miliar sebagai akibat menurunnya permintaan pakan hingga 44% selama wabah berlangsung 6 bulan, dan biaya vaksin dan upaya pemberantasan mencapai 800 juta (PRISMA, 2017).   

Kedua, kemungkinan mendapat sanksi larangan ekspor ternak babi dan produk olahan dari babi. Saat ini, Indonesia mengekspor babi hidup mencapai 300 ribu ekor per tahun atau senilai 600 miliar. Jika dilarang, maka akan menimbulkan kehilangan lapangan pekerjaan bagi mereka yang saat ini bekerja pada industri peternakan babi dan perusahan terancam ditutup seperti 3 pabrik pakan Cargill di China. 

Ketiga, harga babi menjadi lebih mahal. Harga babi hidup maupun daging babi di NTT termasuk tertinggi di Indonesia. Hal ini disebabkan karena pasokan babi dari lokal NTT lebih rendah dibandingkan kebutuhannya. Kebutuhan babi per tahun mencapai 1.1 juta ekor, sementara NTT hanya mampu memproduksi 980 ribu ekor (PRISMA, 2017). Untuk memenuhi kebutuhannya, NTT mengimpor babi hidup dari NTB, terutama untuk memenuhi kebutuhan babi yang begitu tinggi dari Sumba untuk keperluan acara adat istiadat seperti perkawinan dan kematian.

Keempat, biaya sosial dan budaya menjadi mahal. NTT itu babi minded karena secara sosiologi dan budaya, ternak babi berperan penting dalam setiap transisi kehidupan orang NTT dari kelahiran, perkawinan hingga kematian. Oleh karena itu, ternak babi merupakan komoditas penting bagi orang NTT. Penting secara ekonomi karena memiliki nilai ekonomi sebagai sumber pendapatan rumah tangga, dan penting secara sosial budaya karena memiliki nilai sosial budaya yang tinggi. Ternak Babi selalu dibutuhkan pada setiap pesta besar keagamaan dan budaya seperti acara syukur atas kelahiran anak, alat mahar atau belis untuk perkawinan, acara kematian, upacara tanam dan syukur panen, acara sambut baru, dan lain-lain. Bisa dibayangkan, jika babi di NTT diserang virus ASF, populasi menurun drastis hingga 20%, maka harga babi akan menjadi mahal, yang pada gilirannya menyebabkan biaya sosial dan budaya, terutama mahar perkawinan menjadi mahal dan tak terjangkau. Utang adat pun tentunya menjadi masalah sosial yang tak dapat dihindarkan.

Kelima, kehilangan sumber pendapatan. Usaha peternakan babi menjadi sumber pendapatan bagi kurang lebih 535,000 rumah tangga atau peternak di NTT. Hal ini karena 85% dari indutri peternakan babi di NTT digerakkan oleh peternakan rakyat dengan skala kepemilikan rata-rata 4 ekor per rumah tangga. Selain untuk kebutuhan sosial dan budaya, hasil dari usaha peternakan babi biasanya dipakai untuk membangun rumah, menyekolahkan anak, membeli generator listrik dan bahan bakar untuk penerangan di rumah, membeli obat dan memeriksa kesehatan, membayar utang, dan lain-lain. Sehingga bisa dibayangkan, jika NTT diserang virus ASF yang mematikan itu, populasi babi turun drastis, maka ada kemungkinan masalah putus sekolah meningkat, ketiadaan penerangan, angka stunting melonjak akibat asupan sumber protein dari produk babi berkurang, Angka Kematian Ibu Hamil, Ibu Melahirkan, dan Anak meningkat karena kekurangan biaya untuk biaya perawatan dan pengobatan, dan lain sebagainya. 

Mencegah Lebih Baik Daripada Mengobati: UPSUS ASF

Pepatah lama bahwa mencegah lebih baik daripada mengobati adalah sangat relevan berurusan dengan upaya membentengi Indonesia dan NTT dari serangan ASF. Karantina adalah garis pertahanan pertama dan terdepan untuk memerangi ASF. Karantina harus sigap dan mencurahkan perhatian secara serius untuk menjalankan semua kebijakan perbatasan dan pengetatan pemasukan hewan dan produk hewan di pintu masuk ke Indonesia. Oleh karena itu, petugas karantina diperbatasan harus dilatih dan diberitahu tentang ASF dan dampaknya. Perlu disediakan layanan karantina untuk mencegat bahan makanan atau produk babi atau yang mengandung daging babi. Barang yang disita itu dikubur atau dibakar. Selain itu, diperlukan upaya untuk meningkatkan komunikasi, edukasi dan informasi terkait risiko ASF di pintu-pintu masuk.

Selain itu, harus ada Upaya Khusus (UPSUS) ASF untuk mencegah masuknya ASF dari Timor Leste atau dari negara-negara tertular lainnya ke Indonesia dan NTT. Saya mengusulkan 5 UPSUS ASF yang dapat segera dilakukan antara lain:

Pertama, memperketat pengawasan dan pelarangan pemasukan hewan dan produk babi di pintu masuk, baik melalui kargo maupun tentengan, khusunya dari negara tertular ASF dengan penerbangan langsung ke Indonesia, seperti Timor Leste. Dari percakapan telpon antara saya dengan Kepala Dinas Peternakan Provinsi NTT, Ir. Danny Suhadi, Beliau akan segera mengeluarkan surat perintah pelarangan pemasukan ternak babi dan produk-produknya berupa daging babi dan atau hasil olahan daging babi atau yang berpotensi sebagai carrier ASF dari Timor Leste ke NTT. Beliau sudah berkoordinasi dengan Kepala Balai Karantina Pertanian Kelas 1 Kupang, petugas karantina di check points atau pintu masuk di Motain, Motamasin dan Wini serta Kepala Dinas Peternakan atau yang membidangi peternakan Kabupaten/Kota se-NTT agar mengambil langkah-langkah cepat meningkatkan kewaspadaan dan kesiagaan terhadap pemasukan hewan dan produk babi yang dapat membawa agen penyakit ASF ke NTT.

Kedua, pemilik ternak terinformasi dengan benar tentang ASF beserta risikonya serta mendorong mereka menjadi peternak aktif melaporkan kasus babi yang mati atau sakit ke layanan veteriner atau otoritas lokal terdekat. Pemilik ternak babi harus dapat mengenali ASF dan tahu apa yang harus dilakukan ketika mereka mencurigainya. Ini hanya bisa dilakukan kalau mereka dilatih dan diberi sosialisasi yang intensif tentang ASF, menyediakan alat visualisasi untuk komunikasi yang lebih efektif, juga dibuat jalur komunikasi antara peternak dengan layanan veteriner atau pos kesehatan hewan untuk mempermudah koordinasi dan laporan. Otoritas lokal dan petugas kesehatan hewan juga diberitahu tentang ASF dan risikonya. Pemilik ternak dan otoritas veteriner lokal yang terinformasi merupakan satu-satunya sumber daya surveillance yang sangat efektif terkait kesehatan hewan, termasuk ASF.     

Ketiga, memperketat pengawasan terhadap praktik bisnis swill feed dan jika memungkinkan melarang memberikan swill feed untuk ternak babi. Sisa makanan dari pesawat atau kapal internasional berisiko tinggi karena mengandung produk hewani yang kemungkinan mengandung ASF. Sebagai contoh, diduga kuat bahwa ASF masuk ke Amerika Latin melalui swill feed. Oleh karena itu, penggunaannya harus dikontrol. Informasi tentang risiko swill feed harus disampaikan ke peternak pengguna swill feed. Jika karena pertimbangan biaya, dimana swill feed terhitung murah sehingga sulit untuk melarang penggunaannya, maka harus diberitahu cara yang tepat untuk menggunakannya secara aman untuk ternak babi. Kesadaran akan risiko dan cara praktis untuk mengatasinya akan membantu meredam penyebaran ASF.   

Keempat, peningkatan tindakan biosecurity yang ketat di peternakan babi. Biosecurity adalah tindakan untuk mengurangi risiko pengenalan dan penyebaran agen penyakit. Misalnya: melakukan karantina terhadap ternak babi baru dan isolasi terhadap ternak babi yang sakit; menjaga sanitasi kandang melalui pembersihan dan pemberian disinfektan secara rutin, dan pengeringan; membatasi akses di peternakan dengan mengontrol pergerakkan orang, hewan lain, mesin, pakan, dan lain-lain yang masuk dan keluar kandang; membatasi pegunjung ke kandang; dan lain sebagainya.

Kelima, meningkatkan komunikasi dan koordinasi yang baik dengan berbagai pemangku kepentingan dan pelaku pasar pada indutri peternakan babi (pemerintah, karantina, perusahan pakan dan obat, perusahan komersial penghasil babi dan petani babi, pedagang babi, perusahan transportasi, universitas, pers, Lembaga donor, LSM, Lembaga keagamaan, asosiasi-asosiasi, dan lain-lain) untuk memperkuat kerja sama dalam pencegahan ASF.

Upaya kesiapsiagaan yang lebih praktis terhadap pencegahan ASF, seperti yang disusun oleh Dirjen PKH (Peternakan dan Kesehatan Hewan), Kementerian Pertanian sebagai berikut: Pertama, LAPORKAN ke Puskeswan atau Dokter Hewan jika ditemukan ternak Babi yang sakit atau mati. Kedua, WAJIB mentaati prosedur biosecurity bagi petugas dan tamu. Sebaiknya, jangan ada atau membatasi orang asing masuk ke kandang Babi. Karena manusia adalah carrier potensial agen ASF. Ketiga, BERSIHKAN bahan dan alat yang masuk dan keluar peternakan. Keempat, CEGAH kontak langsung antara babi hutan dan babi peternakan. Kelima, KARANTINA atau mengisolasi ternak babi yang baru datang ke peternakan/kandang. Keenam, JANGAN BERI pakan sisa pada ternak babi Anda.

Bona diagnosis, bona curatio

Pada akhirnya, sebuah diagnosa baik adalah sebuah obat baik (bona diagnosis, bona curatio). Oleh karena itu, marilah kita mendiagnosa strategi dan tindakan yang tepat dan efektif untuk mencegah masuknya ASF ke Indonesia, khususnya NTT. Ingat, tidak ada obat atau vaksin untuk mencegah ASF, tetapi obatnya ada pada kita. Obat yang paling mujarab adalah komitmen, dedikasi dan kerjasama kita. Oleh karena itu, saya mengajak mari kita sama-sama jaga NTT dan Indonesia dari serangan ASF. Jangan sampai kita menjadi "carrier" ASF ke NTT dan Indonesia. Itu akan menjadi dosa sosial yang tak bisa diampuni oleh siapapun.

Oleh: Ferdinandus Rondong

Peneliti Supply Chain Komoditas Babi di NTT
Principal Business Consultant PRISMA