-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Belanda gagal total menaklukkan Aceh

Sunday, April 25, 2021 | 21:11 WIB Last Updated 2021-04-25T14:11:44Z

Salah satu kesalahan Belanda di masa lalu ketika melakukan petualangan penjajahan di Nusantara adalah menyatakan perang terhadap Kerajaan Aceh. Bagaimana tidak, perang Aceh-Belanda menjadi sebuah peristiwa militer yang kelam bagi Negeri Belanda. Lebih dari seratus ribu pasukan Belanda tewas di tanah Aceh sekaligus menghabiskan dana yang begitu besar. Perang ini sendiri merupakan perang terdahsyat yang pernah dilakukan Belanda di seluruh kepulauan Nusantara hingga 69 tahun lamanya.

Agresi pertama Belanda terhadap Aceh secara resmi dilakukan pada 5 April 1873. Pasukan Belanda dipimpin langsung oleh Jendral Kohler. Namun sangat disayangkan, dalam perang selama 18 hari tersebut pasukan Belanda gagal total menaklukkan Aceh. Bahkan Jendral Kohler sendiri meregang nyawa tertembus peluru seorang pejuang Aceh. Menjelang kematiannya Kohler sempat mengucapkan “oh, God, ike ben getroffen” (Oh Tuhan, aku tertembak). Dia masih tidak percaya dirinya harus terbunuh di Aceh. Dunia gempar ! sebuah koran Amerika The New York Times edisi selasa 6 Mei 1873 merilis berita Perang Aceh-Belanda dengan judul “Belanda Kalah di Sumatera.”

Perang Aceh-Belanda benar-benar usai saat Jepang mulai mencaplok seluruh kepulauan Nusantara pada tahun 1942 dan menyebabkan Belanda juga harus angkat kaki dari tanah Aceh. Jadi, apa yang membuat orang Aceh begitu fanatik dalam berperang dan mampu bertahan bertahun-tahun lamanya dari gempuran bangsa Eropa ? Selain faktor strategi, ada sebuah semangat hebat dalam benak bangsa Aceh pada masa itu untuk mempertahankan persada Aceh yakni semangat prang sabi. Di Aceh, uraian prang sabi disajikan dalam bentuk sastra yaitu berupa hikayat, prosa ataupun puisi. Bagi Belanda hikayat ini sangat berbahaya karena membawa pengaruh yang begitu besar dalam bangkitnya semangat berjihad bangsa Aceh. Sungguh tidak sedikit dampak “merusak” yang ditimbulkan dari bacaan ini, kemudian oleh Belanda hikayat-hikayat ini dirampas dan dimusnahkan.

Ideologi yang terkandung didalam hikayat prang sabi bersifat militan karena mampu merangsang jiwa para pembaca dan pendengarnya sedemikian rupa sehingga dapat menghilangkan keseimbangan jiwa, yang kemudian dilanjutkan terjun kedalam peperangan dengan harapan akan mati syahid dan memperoleh surga seperti yang dijanjikan Tuhan. Selain itu, hikayat prang sabi juga menyebabkan timbulnya gejala pembunuhan secara perorangan oleh orang Aceh terhadap orang-orang yang dianggap kafir yang dalam istilah aceh disebut dengan poh kaphe atau dalam istilah Belanda dikenal dengan sebutan Aceh Moorden (Aceh Gila).

Hikayat prang sabi sebagai “sastra perang” benar-benar telah berhasil dan tercapai sasarannya yang membuat Belanda tidak merasa aman dan selalu ketakutan akan timbulnya penyerangan yang tiba-tiba. Salah satu pengarang hikayat prang sabi yang terkenal bernama Teungku Chik Pante Kulu seorang ulama besar yang hidup sezaman dengan Teungku Chik di Tiro yang juga seorang ulama sekaligus panglima perang angkatan sabil. Selain dikerahkan oleh para hulubalang, mobilisasi pasukan Aceh juga dilakukan oleh para ulama melalui dayah dan khotbah-khotbah yang berisi ajakan wajib perang sabi melawan kaphe Belanda. Maka tidak heran banyak yang penulis Belanda yang menyatakan kekagumannya terhadap Aceh. Salah satunya adalah Zentgraaff, dia mengungkapkan : dari setiap pertempuran yang dilakukan Belanda di setiap pelosok Nusantara, tidak ada satu bangsa yang begitu berani dan fanatik dalam perperangan kecuali Bangsa Aceh. Para perempuan Aceh pun memiliki keberanian dan kerelaan berkorban melebihi perempuan-perempuan lain.

Copas di grup sejarah Aceh postingan 
zuljaykar
×
Berita Terbaru Update