Oleh: Azhari
Pernikahan, bagi banyak orang, adalah puncak dari sebuah perjalanan cinta. Saat hari itu tiba, sang mempelai perempuan diperlakukan bagaikan ratu. Disambut penuh kehormatan, dipuji dengan doa, dihias secantik mungkin, duduk di pelaminan diiringi harapan yang mengangkasa. Hari-hari awal pun begitu manis — seolah dunia milik berdua, yang lain cuma numpang lewat.
Namun, sering kali kemewahan perasaan itu hanya bertahan sebentar. Pelan tapi pasti, kehidupan rumah tangga mengajarkan bahwa cinta tak selalu wangi mawar, dan hubungan tak selamanya dihiasi tawa. Salah satu racun yang paling mudah menyelinap tanpa diundang adalah cemburu — dan bila tak dikendalikan, ia bisa berubah keras bagai batu, meruntuhkan istana kecil yang pernah dibangun bersama.
Cemburu Itu Fitrah, Tapi Bisa Jadi Fitnah
Dalam hubungan suami istri, cemburu itu wajar. Bahkan, menurut beberapa ulama, rasa cemburu adalah bagian dari cinta. Rasulullah SAW sendiri pun pernah cemburu. Tetapi, ketika cemburu melampaui akal sehat, berubah jadi curiga berlebihan, posesif, bahkan sampai mematikan kebebasan pasangan, saat itulah cemburu menjelma jadi batu yang menghancurkan.
Betapa banyak rumah tangga yang retak, bukan karena kekurangan materi, bukan karena orang ketiga, tapi karena salah paham kecil yang dipupuk rasa cemburu tak beralasan. Suami yang terlalu membatasi istri, istri yang tak percaya suami. Semua gerak-gerik dicurigai, semua ucapan disalahartikan. Lelah bukan karena beratnya hidup, tapi karena hati yang tak lagi tenang.
Dari Ratu ke Tahanan
Pada awalnya, istri diperlakukan bagai ratu. Apapun diminta, diusahakan. Diperhatikan, dipuji, disanjung. Tetapi saat cemburu mulai jadi batu di hati suami, atau sebaliknya, status ratu itu pelan-pelan hilang. Yang ada hanya perintah, larangan, ancaman, dan kecurigaan. Dari ratu berubah jadi “tahanan perasaan” di rumah sendiri.
Begitu juga sebaliknya, suami yang awalnya dipuja bagai pahlawan, pelindung, dan pemimpin, bisa saja berubah jadi pesakitan di mata istri hanya karena salah satu pesan tak terbaca, atau pulang sedikit terlambat. Ketika rasa cemburu dibiarkan liar tanpa komunikasi yang sehat, pernikahan yang dibangun dengan susah payah bisa runtuh hanya oleh hal-hal sepele.
Batu Itu Harus Dipecah
Cemburu harus diletakkan di tempat yang proporsional. Ia harus dikendalikan, bukan dibiarkan menguasai. Sebab, rumah tangga yang sehat dibangun dari rasa saling percaya. Bukan berarti bebas tanpa batas, tetapi ada kepercayaan yang menjadi pondasi.
Jika ada sesuatu yang mengganggu hati, sampaikan. Jika ada yang membuat curiga, bicarakan. Jangan simpan prasangka. Karena prasangka itu seperti api kecil di sudut rumah — jika tak segera dipadamkan, ia bisa membakar habis.
Pernikahan Itu Tentang Merawat, Bukan Menguasai
Cinta dalam pernikahan bukan soal siapa yang lebih berkuasa, siapa yang harus selalu menang, atau siapa yang boleh dan tak boleh melakukan sesuatu. Cinta itu tentang merawat — menjaga hati masing-masing agar tetap tenang, nyaman, dan tenteram.
Sebagaimana seorang ratu, istri butuh dihargai, didengarkan, dan diperhatikan. Sebagaimana seorang raja, suami butuh dihormati, didukung, dan dipercayai. Jika salah satunya merasa terpenjara oleh cemburu, maka pernikahan akan kehilangan kehangatannya.
Awal yang Indah, Akhir yang Damai
Kita semua ingin pernikahan bukan hanya indah di awal, tapi juga tenang di tengah dan bahagia di akhir. Cinta yang dewasa adalah cinta yang tahu kapan harus memeluk, kapan harus melepas, dan kapan harus berbicara jujur.
Karena itu, jangan biarkan cemburu berubah jadi batu di dada. Jadikan ia rem kecil yang menjaga, bukan rantai yang mengikat. Agar ratu tetap jadi ratu di hati suaminya, dan suami tetap jadi pelindung di hati istrinya — sampai maut memisahkan.